Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 403 : Lantai Dua


__ADS_3

Kami membeli pakaian serta bahan makanan yang seluruhnya di simpan di dalam sihir penyimpanan, semua uang yang kami gunakan adalah uang kas yang nantinya akan dibagikan kembali dengan rekan kami yang lain.


Setelah persiapan terkumpul kami bertemu kembali di tengah kota, tepat saat matahari tenggelam kami memasuki Labirin Besar, sama seperti keadaan di luar, langit di lantai pertama sudah malam hari.


Alasan kami pergi pada jam segini adalah untuk lebih mudah lewat ke lantai dua, di lantai ini dipenuhi kecoa raksasa yang sulit ditangani karena jumlahnya sangat banyak namun jika kami pergi pada malam hari, itu akan jauh lebih mudah.


"Kita pergi," atas pernyataan Dalius kami mengangguk mengiyakan.


Waktu saat ini.


"Harty gunakan nafasmu."


"Laksanakan."


"Livia lindungi Harty dan Valentine tarik Livia saat dia sudah selesai."


"Baik."


Harty membuka rahangnya untuk menciptakan lingkaran sihir api raksasa, perlu beberapa waktu untuk mengaktifkannya karena itu Livia yang berada di sekitarnya terus melindunginya dari kecoa yang berusaha mengganggunya.


"Sekarang," atas pernyataanku, Livia tertarik ke belakang oleh sulur yang mengikat lingkar pinggangnya.


Dan di saat yang sama nafas api menyembur dari mulut Harty, melahap apapun di depannya bagaikan sebuah stunami, setelahnya yang tersisa hanyalah kerusakan yang mengerikan.


Seluruh kecoa telah dibasmi hingga berubah menjadi tumpukan batu sihir sementara pepohonan turut terbakar dengan cepat.


Harty kembali ke wujudnya lalu berlari ke dekat kami.

__ADS_1


"Kenapa kita harus lari?" tanyanya demikian.


"Sudah jelas kan, labirin ini berada di area tanggung jawab Guild, jika mereka tahu bahwa lantai pertama ini hancur oleh kita, kita jelas akan dihukum."


"Sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi," ucap Valentine dan dia berhenti untuk melihat kerusakan yang dilakukan oleh Harty.


Seluruh tanaman telah pulih sedia kala, lubang-lubang di tanah mulai menutup kembali sedia kala.


"Mungkinkah semua tempat ini akan meriset ulang."


Untuk kecoa memiliki waktu yang lebih lama, jika demikian kami tidak bisa tinggal di satu lantai dalam waktu lama. Tapi untuk sekarang kami bisa berisitirahat.


Aku membaringkan tubuhku di tanah selagi melepaskan topengku. Harty berkata dengan penuh kebanggaan.


"Sayang sekali Lion, tapi hari ini aku mengenakan celana berbulu wol dari balik gaunku."


"Mencurigakan."


"Apa yang mencurigakan coba," aku menghela nafas panjang kemudian kembali memakai topengku sebelum bangun.


Pokoknya kita harus segera pergi dari sini sebelum mereka bermunculan kembali.


Di lantai dua adalah area yang sama dengan lantai pertama bedanya adalah bahwa pohon-pohon di sini memiliki daun lebat yang diisi berbagai buah-buahan yang bisa kita makan langsung.


Aku memetik salah satunya dan memasukannya ke dalam mulutku, rasanya seperti apel dan dagingnya cukup berair.


Harty mengambil banyak di tangannya lalu memasukannya ke dalam mulut dengan sekali gigit.

__ADS_1


"Aku suka daging tapi buah-buahan ini juga sangat enak."


Valentine juga mengambil satu untuk dirinya, Livia membantunya dengan memotong-motongnya jadi beberapa bagian.


"Silahkan."


"Aku tidak masalah untuk memakannya secara langsung."


"Nona Valentine harus makan secara elegan."


"Heh, tapi aku bukan seorang bangsawan."


Sesungguhnya dia termasuk keluarga bangsawan sekarang, walaupun Livia hanya ingin menggodanya saja seperti sering aku lakukan padanya.


"Jangan terlalu memanjakanku. Suamiku katakan sesuatu."


Aku hanya mengacungkan jempol padanya.


Aku mengalihkan pandangan ke arah Harty yang telah menghilang dalam sekejap.


"Kemana dia?" tanyaku demikian.


"Barusan ia bilang mencium aroma daging, saat aku mencoba mencegahnya dia langsung hilang."


Naga itu.


Semoga saja dia tidak mencoba untuk berbuat onar dengan merebut daging orang lain.

__ADS_1


__ADS_2