
Alasan terbesar kenapa Estelle berhenti karena ia tidak bisa menggunakan sihir namun dengan berkah yang diberikan dewi dia mampu menggunakan sihir api dan es yang jelas berlawanan satu sama lain.
Untuk sihir api kuajarkan Fire Bolt untuk sihir es yang terbilang langka aku minta dia memikirkannya sendiri.
Sihir bukanlah sesuatu yang sulit untuk dipelajari, kau hanya harus membayangkan bagaimana bentuk dari sihir yang ingin kau gunakan.
Misal api, panas, bola, hangus, dengan pemikiran itu maka sihir api akan tercipta.
"Fire Bolt."
Bola api dari sihirku tepat membakar pohon yang kubuat dari Magic Tree.
"Akan kucoba."
"Aah."
"....Fire Bolt... Fire Bolt... Fire Bolt ....Fire Bolt... Fire Bolt... Fire Bolt ....Fire Bolt... Fire Bolt... Fire Bolt ....Fire Bolt... Fire Bolt... Fire Bolt ....Fire Bolt... Fire Bolt... Fire Bolt ....Fire Bolt... Fire Bolt... Fire Bolt ....Fire Bolt... Fire Bolt... Fire Bolt."
Itu adalah ke 100 kalinya Estelle menggunakan sihir tersebut, regenerasi mananya sangat cepat bahkan seseorang pemula akan pingsan hanya mengunakan lima kali sihir Fire Bolt dia benar-benar mendapatkan kekuatan cheat-nya
Untuk sihir es Estelle mencoba untuk membekukan air terjun dengan kemampuannya dan rasanya itu tidak akan menjadi latihan mudah.
Aku memanggang daging rusa yang sebelumnya dia tangkap selagi mengawasinya dari kejauhan.
"Estelle dagingnya sudah matang, cepatlah kemari."
__ADS_1
"Baik."
Dia berlatih dengan giat dan makan sangat banyak, satu paha utuh diambil ke tangannya.
"Enak sekali, Lion memang berbakat jadi tukang bakar daging."
"Aku sama sekali tidak senang dengan pujian itu."
"Tolong aku."
Sebuah suara tiba-tiba saja muncul dari semak-semak, aku maupun Estelle bersiaga dengan senjata kami namun yang muncul dari sana adalah seorang gadis kucing yang sedang memegangi lengannya yang berdarah.
Hampir seluruh pakaiannya dipenuhi noda darah, Sementara di pinggangnya tampak sebuah pedang yang tersarung rapih.
Ia memiliki rambut putih yang telah ternoda darah segar.
Kugunakan sihir air untuk menyembuhkannya.
"Lion, lihat itu."
Dari arah dimana gadis ini muncul seekor Orc raksasa tengah berjalan dengan hawa membunuh, dia memegang pedang besar di tangannya.
"La-ri, dia terlalu kuat."
"Jangan dulu berbicara."
__ADS_1
Aku melirik ke arah Estelle.
"Kau harus melawannya."
"A-aku mengerti, aku pasti akan mengalahkannya."
Estelle menarik dua pisau ke tangannya lalu menarik nafas sebelum melangkah maju. Menyadari seseorang berlari padanya Orc itu mengayunkan pedangnya.
Estelle menekuk lututnya untuk meluncur di permukaan tanah sehingga pedang itu hanya lewat di atasnya, dia mengerem dengan satu kakinya sebelum berbalik ke belakang, menggunakan belati dia menyayat punggung Orc tersebut hingga dia berteriak marah selagi menghantamkan senjatanya dari atas ke bawah.
Estelle menghindarinya setipis rambut kemudian berguling untuk menghindari serangan ke dua, di serangan ketiga dia menyilangkan belatinya dan tubrukan membuatnya bersalto ke belakang.
"Kuat sekali," katanya.
Dia memutar belatinya dan sekali lagi melangkah maju, berbeda dari sebelumnya dia mengambil serangan langsung dari depan untuk saling berbenturan, suara yang memekakkan telinga bisa terdengar dari pertarungan sengit tersebut.
Gadis yang sedang kurawat mulai sedikit demi sedikit pulih, ia membuka lebar matanya ketika melihat bahwa Estelle bertarung tanpa henti meskipun beberapa kali dihempaskan oleh musuhnya.
"Kenapa dia terus bertarung?"
"Itu untuk menggapai impiannya."
"Impian?"
"Dia ingin menjadi seorang pahlawan."
__ADS_1
Diserangan terakhir Estelle melompat ke atas, dia menusukan belati tepat di tangan Orc tersebut kemudian menghabisinya dengan tebasan samping yang menyayat lehernya.
Estelle hanya berdiri dengan gagah layaknya seorang pahlawan sesungguhnya.