
Pahlawan melompat ke depanku, pedang di tangannya memancarkan cahaya dan aku menahannya dari bawah sementara dia menyeringai senang.
"Menarik, kau bukan lawan yang seperti kulawan sebelumnya.. kekuatanmu jelas terkutuk."
"Aku tidak butuh komentarmu."
Kami terlempar satu meter ke belakang sebelum kembali mempersempit jarak untuk melesatkan serangan, dalam teknik berpedang dia memiliki kemampuan yang luar biasa.
Untuk seorang yang hanya duduk di kursi paling nyaman dia orang yang kuat.
Pedangnya kembali bersinar, saat dia menghunuskannya padaku aku membungkuk rendah dan tebasannya memotong seluruh bangunan menjadi dua bagian. Mendapatkan celah aku mengayunkan pedangku walau tidak dalam aku bisa memberikan luka gores di sekujur tubuhnya.
"Kau telah banyak membuat penderitaan bagi banyak orang karena itulah aku akan membunuhmu secara perlahan."
"Memangnya kau bisa melakukan apa."
Dentrang.
Pedang kami saling berbenturan.
Satu jam telah berlalu semenjak kami saling melancarkan serangan.
Pahlawan mengulurkan tangannya ke depan yang mana aku ikuti.
"Glory Arc."
"Inferno."
Ledakan tercipta menelan sekelilingnya.
Orang sepertinya menggunakan sihir suci membuatku muak, sihir itu lebih pantas digunakan untuk orang yang memiliki kepribadian pahlawan sebenarnya.
Pahlawan muncul di depanku, alih-alih menggunakan pedang dia menarik lututnya ke wajahku menghantamku dengan keras, tubuhku yang terbang di tendang olehnya hingga aku sejajar dengan tanah.
Sihir tidak berguna untuknya bahkan itu hampir seluruh sihir dunia milikku tidak akan efektif dengannya, Amnesty dari awal sudah mengetahuinya karena itu dia dengan sengaja membuatku untuk bisa mengeluarkan Last Around milikku.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya sementara kegelapan menyebar dari seluruh tubuhku, pedang di tanganku juga dilapisi warna yang sama pula dan aku bangkit selagi menggerak-gerakkan kepalaku ke kiri ke kanan untuk menghilangkan kepegalan.
"Kau merasa raja iblis adalah musuh yang mudah bukan, tapi saat aku datang ke dunia lain aku telah menghabisi lebih dari satu raja iblis... bahkan kau tidak memiliki kemampuan apapun untuk melawanku."
Kegelapan mulai memutar di sekelilingku, tubuhku sedikit berubah dengan telingaku meruncing ke atas.
__ADS_1
Untuk mataku itu berubah menjadi gelap gulita.
"Dasar monster, bagaimana bisa kau."
SRAK.
Aku muncul di belakangnya setelah menebas satu tangannya, pahlawan itu kesakitan selagi berlutut memegangi lengan kirinya yang terputus.
"Tanganku, aaah, tanganku."
"Jangan khawatir seluruh anggota tubuhmu juga akan mengalami hal sama," kataku menyeringai dengan taring menyeruak dari ujung mulutku.
"Sialan kau."
Dia menaikan pedangnya dan dengan kekuatan sihirnya dia menciptakan puluhan lingkaran sihir yang dari sana menjatuhkan puluhan peluru sihir dari cahaya juga.
Itu membuat lubang saat jatuh ke tanah, misalkan jika terkena daging itu jelas bisa membunuh seseorang dengan mudah, aku menggunakan teleportasi dan sekali lagi menebas tangan kanan miliknya.
Hingga kedua tangannya terpotong.
"Gaaaaaaaaaaaaaah."
"Apa yang, aku tidak mungkin kalah."
"Benar, kau tidak mungkin kalah... mungkin aku hanya kebetulan bukan, jika kau memiliki tanganmu kau akan memiliki kesempatan yang berbeda."
Melihat bagaimana aku bereaksi wajahnya mulai tercengang.
Aku menyambungkan kembali tangannya sedia kala lalu melemparkan pedang miliknya.
"Cepat serang aku, ini kesempatanmu haha."
Pahlawan menggeretakkan mulutnya, dia memasang kuda-kuda untuk melapisi dirinya dengan sebuah cahaya menyilaukan.
"Akan kubunuh kau."
Dia melesat ke arahku dan Bam.
Seluruh kota meledak dengan hanya terjangannya saja, aku menahan pedangnya seolah tak terjadi apapun.
"Bagaimana bisa kau?"
__ADS_1
Aku mengayunkan pedangku dan seluruh tangan maupun kakinya terpotong-potong dengan mudah.
"Gaaaaaaaah... tubuhku, tubuhku."
"Jangan khawatir kau akan aku sembuhkan untuk mencobanya lagi, cepat serang aku."
Beberapa kali kami bertarung seluruh tubuh pahlawan bercerai berai, dia melakukan semua hal yang bisa dia lakukan.
Hingga sekarang kota ini telah lenyap seutuhnya bangunan istana juga kini telah ambruk dengan debu memenuhinya.
Aku menendang wajahnya dan ini adalah 50 kalinya dia kusembuhkan, pahlawan menangis tanpa henti.
"Tolong aku, ayah ibu."
"Haha kenapa kau memanggil mereka kau sudah besar bukan, sekarang serang aku.. kau pahlawan dari dunia lain bukan, lihat semua orang takut padamu."
Aku menarik rambutnya lalu melemparkannya ke sebuah reruntuhan hingga meledak dahsyat.
"Majulah, bukannya kau sangat hebat kau bisa mengalahkan pahlawan lainnya, cepat tarik pedangmu."
"Dasar iblis."
Dia menarik pedangnya dan aku menebasnya hingga darah memuncrat dari tubuhnya. Rasa sakit yang tak tertahankan menjalar di sekujur tubuhnya hingga dia terduduk dengan wajah putus asa saat aku menyembuhkannya kembali.
"Aku belum mengeluarkan seluruh kemampuanku cepat bangun dan serang aku wahai pahlawan."
Pahlawan itu hanya diam mematung, pandangannya telah berubah gelap gulita seolah dia sudah tidak berada di sana lagi.
"Kau bersenang-senang dengan wanita bukan dan sekarang bagaimana rasanya menjadi objek seperti mereka, biar aku beritahu tentang mereka, mereka tadinya akan menikah dengan pasangan mereka pilih tapi kau merebutnya, para wanita itu kehilangan kesucian mereka dan akhirnya mereka bunuh diri, nyawamu tidak akan bisa menebus semua itu... mereka kesakitan dan terluka, jangan buat dirimu berada seperti mereka, kau ini penjahat yang kejam tak perlu belas kasihan bukan?"
"Bunuh aku, aku ingin mati."
"Aku jelas tidak akan melakukannya."
Ketika 200 kali aku menyembuhkan lukanya sementara pahlawan itu tidak bisa berbuat apapun, dia hanya berdiri tanpa ekspresi dengan air mata mengalir di wajahnya.
Tidak ada hal yang bisa kurebut lagi darinya, aku telah membunuh jiwa serta mentalnya di waktu bersamaan.
Aku mengayunkan pedangku dan kepalanya terpenggal jatuh begitu saja. Saat aku sadar tubuhku mulai gemetar dan hanya terduduk tak bergerak lagi.
Ini adalah Last Around milikku, aku jelas tidak ingin menggunakannya lagi.
__ADS_1