
Aku menguap lebar di meja kerjaku saat Livia menaruh banyak berkas di mejaku.
"Tuan anda kurang tidur."
"Gracia, Aira dan Rosvalia kemarin menyelinap ke kamarku dan aku... yah kau tahu, seperti biasanya."
"Anda punya malam indah rupanya."
Aku hanya tersenyum ragu ketika Livia mengatakan hal itu dengan polosnya.
"Jadi apa yang harus kukerjakan hari ini?"
"Selain mengisi berkas ini, tidak ada yang lainnya."
"Berarti saat ini selesai aku akan bebas."
Livia mengangguk mantap yang mana membuatku bersemangat namun pada kenyataannya aku baru bisa menyelesaikannya pada sore hari.
Aku terkapar di mejaku.
"Aku ingin pingsan, terlebih selanjutnya aku harus pergi ke kamar Misa malam nanti."
Siapapun yang melihat bagaimana aku hidup kalian bisa menertawakannya. Misa melepaskan pakaiannya menampilkan dadanya yang melimpah sebelum menindihku lalu menyusuri tubuhku dengan lidahnya.
"Lion kamu terasa lemas, apa kau baik-baik saja."
"Aku sedikit lelah saja."
"Jangan khawatir, aku sudah membeli sekotak obat kuat, suamiku bisa memakan mereka sekarang."
"Bukan itu masalahnya."
Pagi berikutnya di ruangan kerjaku Ricol membanting meja selagi mengibas-ngibaskan ekornya.
"Suamiku mari mantap-mantap."
__ADS_1
"Tunggu malam saja."
"Aku tidak bisa menunggu, ayo pergi."
Ricol menarik kakiku sementara aku mengulurkan tangan ke arah Alteira yang berdiri dengan berkas di tangannya.
"Selamatkan aku."
"Selamat bersenang-senang."
Mereka sedang berlomba untuk mengandung anakku tapi jika begini aku bisa mati.
Aku memasang wajah bermasalah, keesokan paginya Aira, hari berikutnya Valentine kemudian Gracia serta Rion, hal itu terulang lagi dari awal hingga aku hanya duduk di pojokan ruangan dengan Ryker di sebelahku yang dengan sengaja menepuk bahuku selagi tersenyum mengangkat jempolnya.
"Kau terlihat menikmati penderitaanku."
"Ini juga termasuk hiburan untukku, bayangkan berapa pria yang ingin hidup sepertimu."
"Jika ini sebuah novel aku akan menghajar penulisnya karena ini."
"Bagaimana aku bisa tenang mereka memaksaku memakan obat aneh sepanjang hari."
Mendengar hal itu Ryker tertawa terbahak-bahak.
Aku benar-benar tidak ingin melihat orang yang tidak memiliki kesulitan seperti apa yang kualami sekarang. Ryker hanya memiliki satu istri dan kudengar dia juga sedang mengandung.
Ryker melanjutkan.
"Yang kau butuhkan adalah liburan, bagaimana kalau kita pergi memancing aku punya tempat yang bagus untuk dikunjungi."
"Itu ide bagus."
Dan seperti itulah aku terbebas dari istriku hingga terjebak di atas sebuah perahu kecil dengan pancingan serta pemandangan laut biru yang mempesona.
Ryker dan aku mengaitkan umpan cacing di kail kami sebelum melemparkannya ke dalam air.
__ADS_1
"Selamat untuk kandungan istrimu yang pertama."
"Terima kasih, jika ia lahir aku ingin mengajaknya memancing seperti ini."
"Heh, ternyata kau suka memancing."
"Seperti itulah... ayahku sering mengajakku kemari sebelum aku bergabung dengan pasukan kerajaan."
"Begitu, itu pasti sesuatu yang menyenangkan."
Mendengar perkataanku Ryker memiliki ekpresi terkejut.
"Apa kau belum pernah pergi bersama ayahmu."
Aku tertawa, sepertinya wajah kesepianku tampak jelas.
"Orang tuaku terlalu sibuk, apa yang ada di pikiran mereka hanya bagaimana menjalankan bisnis agar tidak mengalami kebangkrutan."
"Apa sekali-kali mau aku ajak lagi kemari?"
"Berhentilah menatapku dengan tatapan kasihan, itu membuatku jijik."
"Kenapa? Kemarilah kau perlu pelukan."
"Jangan berani-berani, akan kutendang kau dari perahu."
Ryker hanya tertawa lalu aku pun mengikutinya tertawa.
"Umpanmu dimakan ikan?" kataku padanya.
"Benar, Owh ini ikan besar Lion... aku memang ahli dalam memancing."
"Katakan itu setelah kau bisa menangkap lebih banyak dariku."
"Apa? Sejak kapan kau mendapatkannya?"
__ADS_1