
Aku duduk di atas jembatan yang menghubungkan kota ini dengan aliran sungai yang indah selagi menatap anak-anak yang berlarian di pinggirnya.
"Akan kuhancurkan segalanya dan menghilangkan seluruh kebencian dari dunia ini."
Dia menggigit tangannya sebelum meraung.
Tentu itu tidak merubahnya jadi Titan, itu hanya sebuah permainan di antara mereka, teman-temannya mulai berlarian untuk menghindar dan beberapa bergulat dengannya dalam tawa.
Semua akhirnya terasa damai semestinya, kini dunia bawah tidak memiliki langit yang gelap serta matahari yang mengerikan.
Aku melepaskan topengku untuk menengadah memperhatikan bagaimana matahari sepenuhnya telah tertutup awan putih sampai sebuah suara terdengar.
"Kau rupanya di sini, sedang bersikap seperti orang tua kah?"
Suara itu berasal dari Hime yang memasang wajah cemberut.
"Apa kau bolos bekerja?"
"Jangan pikir bahwa tugas kaisar hanya duduk di singgasana selagi mengurusi dokumen saja... aku juga sering berlibur."
Itu sesuatu yang tidak boleh dikatakan seorang kaisar.
Dia duduk di sampingku selagi melihat langit yang sama.
"Berapa lama kau akan tinggal?"
"Sampai Echidna ditemukan selama itu aku akan tetap di sini?"
"Apa orang itu sangat penting bagimu?"
__ADS_1
"Seorang dewi terjebak ditubuhnya aku pernah berjanji untuk menyelamatkannya, hanya itu saja."
"Kukira dia memiliki hubungan khusus denganmu karena kau mau melakukan hal sejauh ini," perkataannya dipenuhi keterkejutannya.
"Banyak yang terjadi tapi alasanku jelas lebih dari itu... kini aku tahu tentang Solomon sepenuhnya, itulah yang terpenting."
"Jadi kau ingin mengampuninya."
"Entahlah," jawabanku membuat wajah Hime cemberut.
Dia adalah teman dekat Solomon dan Raiku, walau sebenarnya aku merasa bersalah karena telah membunuh Raiku tapi itu sesuatu yang harus kulakukan.
Hime mengalihkan pandangan ke arah sungai yang mengalir jernih.
"Kini aku bisa yakin bahwa air ini terlihat indah."
"Yup," jawabku singkat.
"Oi."
Dia melepaskan gaunnya lalu melemparkannya ke wajahku sebelum terjun ke bawah.
Orang ini memiliki banyak karakter seperti namanya. Pertama saat dia memakai nama Rin dia terlihat seperti orang yang bertanggung jawab akan nyawa banyak dan sekarang sebagai kaisar dia terlalu bebas.
Hime keluar dari permukaan sungai.
"Ah, gawat Lion... braku hanyut terbawa arus."
"Aku tidak bisa keluar dari sini, tolong carikan..."
__ADS_1
"Jangan seenaknya."
Aku pada akhirnya membelikannya yang baru di toko terdekat, sungguh mengerikan saat semua pelanggan wanita menatapku dengan tatapan curiga. Saat aku mengatakannya pada Hime di pinggir sungai dia tertawa.
"Airnya sangat segar."
"Cepatlah ganti pakaianmu."
Aku menggunakan sihir kayu untuk membuat ruang ganti sementara untuknya. Setelah selesai aku menasihatinya.
"Kau masih diincar banyak orang harusnya jangan keluar dari istana."
"Karena itulah aku datang kemari... mulai sekarang kau akan jadi pengawalku, kemanapun kau pergi aku akan ikut denganmu."
"Bukannya itu malah terbalik," kataku datar.
"Wisteria sangat sibuk aku tidak bisa terus membebaninya lagipula seminggu ke depan aku luang."
"Aku mengerti."
"Hey Lion, kau tidak ingin merubah dirimu jadi Aoi... dengan begitu kita bisa mandi bersama."
"Ogah."
"Kita bisa bertukar pakaian kalau kau mau."
"Aku masih normal dan jangan berubah jadi orang menyebalkan."
"Ayolah, ngomong-ngomong aku ingin makan sate juga."
__ADS_1
Aku akan terus menolaknya seberapa banyak dia memohon, harusnya indentitasku tidak boleh ketahuan rasanya sia-sia saja berubah wujud sejak awal.