
Deren berteriak.
"Apa-apaan ini Berry, bukannya kita keluarga... kami mempercayaimu tapi kau malah mengkhianati kami."
Orang bernama Berry membalas setelah mendengus kesal.
"Mereka menawariku akan merubahku menjadi manusia, dibanding dengan kalian aku bisa hidup lebih baik seperti yang kuinginkan.
Aku mengambil topengku lalu menempatkannya di wajah selagi bergumam, dia mengorbankan keluarganya dan rumahnya demi alasan yang konyol.
"Sialan kau, akan kubunuh kau?"
Deren melesat dengan pedang di tangannya, baru setengah perjalanan sebuah pedang Rapier telah menembus dada Berry dari belakang.
Tentu yang melakukannya adalah Solo seorang wanita berambut pendek yang menatapnya dengan dingin.
"Tugasmu sudah selesai, dengan ini matilah makhluk rendahan."
"Kenapa? Kenapa? Bukannya aku akan jadi manusia?"
"Tidak ada sihir yang merubah monster menjadi manusia, meski ada kami tidak sudi untuk tinggal denganmu."
Orang-orang di pihak Solo mulai tertawa.
"... Lalu apa yang ku.."
Saat pedang ditarik sosok Orc itu tumbang ke tanah lalu ditusuk beberapa kali hingga dia hanya bisa mengulurkan tangan ke arah kami dengan putus asa.
__ADS_1
Semua orang hanya memalingkan wajahnya tanpa peduli sedikitpun.
Sungguh menyedihkan.
Dia memang pantas mendapatkannya.
Solo mengarahkan ujung pedangnya ke arahku selagi meminta semua orang untuk menyerang, aku pun mengatakan hal sama hingga peperangan pecah di antara kami berdua menyisakan aku dan Solo yang saling menatap satu sama lain.
"Kau memang pantas mengenakan topeng iblis itu dibandingkan menunjukkan wajahmu."
"Dibanding aku bukannya kau yang lebih mirip iblis, kau menipunya lalu membunuhnya."
"Salahnya sendiri yang mudah terpecaya."
Dalam hitungan tiga kami berdua melesat maju dengan pedang masing-masing, setiap tubrukan menghasilkan kilatan cahaya yang menciptakan dentuman keras memekakkan telinga. Aku menunduk untuk menghindari serangan di awal sebelum menyerang kembali.
Kekuatan yang luar biasa bahkan aku harus menggunakan dua tanganku untuk memegang gagang katananya.
Aku sedikit mundur saat mencoba menangkis setiap serangannya, mendapat celah saat ujung pedangnya meleset ke samping aku mengarahkan pendangku dari atas dan dia menangkisnya sebelum melanjutkan dengan gaya tusukan.
Bentrang.
Aku berputar untuk mengayunkan pedangku dan dia menarik setengah tubuhnya ke belakang bersiap menyerangku dengan gerakan tusukan selanjutnya.
Aku berputar kembali selagi mendorong pedangnya ke samping tanpa mengabaikan setiap langkahku sebelum akhirnya melompat mundur lalu melanjutkan dengan sihir api yang mana melesat lurus pada Solo yang dengan ringan menebasnya menjadi dua bagian.
"Orang ini sangat mengerikan, kau akan mati Lion?" ucap Rion.
__ADS_1
"Aku tidak akan mati olehnya."
"Mari buktikan itu."
Solo membuat ujung dari senjatanya bersinar terang, tepat saat ujung itu dilesatkan cahaya ditembakan tipis ke arahku sedikit mengenai bahuku dengan darah yang merebas di bajuku.
Aku yakin satu buah rumah telah hancur di belakangku karena dampak barusan akan tetapi aku tidak peduli, sebagai gantinya aku mengirim tebasan cepat untuk mengikuti pergerakan Solo, hanya dalam sekejap kini dia melipat gandakan tubuhnya hingga sekitar enam orang menyerang secara bersamaan.
Semua senjata itu asli dan tubuh mereka juga bukan ilusi.
"Apa ini?" tanyaku demikian sementara Solo tidak pernah memperlambat serangannya.
Aku menangkis dua yang datang di depanku dan Solo yang lain menyerang dari tempat berbeda.
"Kau sangat hebat Lion, jika orang lain mungkin sudah kalah, matamu cukup baik dalam mengenal serangan."
"Berhentilah mengatakan hal aneh-aneh sebaiknya kau membantuku."
"Kau masih tidak ada sopan-sopannya denganku.. aku menolak."
Sebuah tendangan meluncur ke arah perutku membuatku menabrak dinding dengan keras, aku mengintip dari mataku yang menyipit di mana Solo masih berdiri dengan sosoknya yang menatapku dengan pandangan merendahkan.
Mungkinkah dari mereka semua merupakan yang asli.
Rion yang membaca pikiranku akhirnya membalas perkataanku.
"Benar sekali, kekuatannya adalah mengendalikan waktu, dia mengumpulkan orang-orang dari waktunya sendiri dan mengumpulkannya menjadi satu di tempat yang sama, dengan kata lain mereka adalah enam takdir berbeda."
__ADS_1