
Aku bersama Rin naik ke dalam kereta dan seseorang yang mengemudikan kereta mulai memecut tali pengekang kuda dan kami mulai berjalan.
Ini pertama kalinya aku naik kereta yang dikendalikan oleh Dullahan. Dimana entah pengemudi atau kudanya memang tanpa kepala.
"Tenangkan dirimu Aoi, kita bisa sampai ke ibukota tanpa hambatan... selama itu mari bersenang-senang."
Aku menatap Rin yang telah menghabiskan dua botol wine dalam sekejap, aku tidak minum karena itu aku hanya menatap matahari yang berwarna merah terang.
"Apa di sini langit selalu berwarna Oranye?"
"Pasti sangat berbeda dengan yang ada di duniamu, tapi dulu langit di sini berwarna biru loh."
"Sama seperti di dunia manusia," kataku spontan.
"Jadi di dunia dipermukaan biru rupanya.. ini pertama kalinya aku mendengarnya."
"Lalu kenapa langitnya berwarna Oranye sekarang?"
"Entahlah.... hampir semua orang sudah terbiasa jadi tidak ada dari kami yang mempelajarinya, tapi aku yakin ada buku yang menjelaskan hal itu jika kita pergi ke istana."
Pilihan bagus untuk mengetahui segalanya. Aku berniat untuk pergi ke sana nanti.
Rin memelukku dari belakang.
__ADS_1
"Hey Aoi, cobalah minum ini."
"Tidak."
Kedua dadanya benar-benar memukulku.
"Kau benar-benar menolaknya."
Tepat saat Rin berkata demikian aku menarik tangannya lalu melompat bersamanya jatuh ke bawah.
"Aoi?"
"Mari bergegas."
Panah api melesat ke arah kami dan aku menangkisnya dengan katanaku hinga ledakan hanya terjadi jauh berada di samping kami berdua, dari atas pohon yang mengering sosok laba-laba menyerupai manusia berdiri terbalik selagi menarik busurnya.
Dia memiliki empat mata.
Aku memegang pedangku dengan dua tangan dalam posisi bersiaga. Rin diam-diam mundur dan menghilang dalam pepohonan ketika aku membuka celah dia akan menyergap musuh dari belakang.
Panah api kembali dilesatkan dengan kecepatan serta kekuatan dua kali lipat dari sebelumnya. Aku mengaliri sihir air ke dalam pedangku memotongnya tanpa hambatan.
Ketika manusia laba-laba itu akan mengirim panah berikutnya sosok Rin telah berada di belakangnya untuk menangkapnya kemudian dia menembuskan kunai di tangannya tepat di lehernya.
__ADS_1
Musuh kami jatuh sementara Rin melompat ke dekatku.
"Yang tadi hampir saja, sayang sekali alat tranportasi kita hancur."
"Memang di sayangkan, jadi apa kita akan kembali saja?"
"Apa maksudmu dengan kembali, kita jelas harus berjalan kaki... aku akan memimpin jalan."
"Itulah yang tidak ingin kudengar," kataku lemas.
Sebelumnya aku telah berjalan di hutan kesunyian sekarang aku harus berjalan lagi di hutan, paling tidak sekarang aku tidak sendirian.
Kami berjalan menembus semak-semak, aku yakin bahwa kami telah melangkah sejauh 1 km lebih dan kata Rin tempatnya masih jauh.
Jika dengan kereta membutuhkan waktu tiga hari maka dengan berjalan kaki membutuhkan waktu lebih lama, aku tidak berani mengeluh lagi pokoknya terus berjalan dan mengambil istirahat sebanyak yang dibutuhkan.
Keluar hutan sebuah padang rumput yang landai telah menyambut kami, tanaman di sini sangatlah tak biasa di mana setiap bunganya berbentuk mulut yang dapat berbicara hal kotor ataupun bergosip.
Aku sempat ingin mencabutnya satu tapi Rin memegangi lenganku dan berkata.
"Bunga ini bunga iblis, mereka bukan tumbuhan mereka adalah monster... jika kau mencabutnya bunga yang lain akan bersuara, dan suara itu cukup kuat untuk menghancurkan gendang telinga makhluk hidup kemudian mereka akan memakanmu."
Itu jelas terdengar mengerikan sebagaimana penampilannya.
__ADS_1