
Seminggu semenjak aku kembali ke kediamanku di kerajaan Elfdian bagian benua iblis semuanya berjalan seperti biasanya.
Ringbel telah kembali ke alam dewi dan pelayanku bekerja dengan sebaiknya, adapun yang berubah di sini adalah Rion yang jadi terlihat seperti anggota keluarga paling tua.
Selagi duduk berselanjar di sofa dia membaca beberapa majalah.
"Pakaian ini terlihat bagus, benar kan Nak."
Aku menghela nafas.
Dia benar-benar menghabiskan waktunya dengan bermalas-malasan, saat aku memintanya untuk pergi berjalan-jalan dia akan bilang.
"Perutku sangat berat aku akan kesulitan berjalan."
Meskipun ini bulan pertamanya mengandung tidak akan seberat itu.
Kupikir Rion memang telah mendapatkan kedamaian yang dia inginkan sejak lama jadi aku akan membiarkannya hidup seperti apa yang dia inginkan.
"Lion, kemarilah... tolong pijat kakiku, aku cukup capek berjalan antara sofa dan kamar mandi... apa yang kau lakukan? Awawa."
Aku menarik pipinya, sifat menjengkelkannya tidak pernah berubah.
Membiarkannya beristirahat sebagai gantinya hari ini aku akan mengajak Atlas untuk berjalan-jalan, dia selalu terkurung di tempat ini karena itu memiliki udara berbeda baginya sesuatu yang ingin kuberikan padanya.
Hanya sebuah kiasan sederhana yang ingin kukatakan.
Aku pergi ke kamar Atlas di lantai atas, saat mengetuk pintu suara lembutnya membiarkanku masuk ke dalam.
"Tuan Lion."
"Yo Atlas, sepertinya kau lupa untuk mengenakan pakaian hari ini."
__ADS_1
"Fufu usaha bagus, tapi aku tidak akan tertipu."
"Sepertinya begitu," balasku kecewa.
Atlas adalah gadis rubah ekor sembilan dengan rambut putih menggantung di punggungnya
Dia mengenakan gaun terusan berwarna hijau dengan lengan berwarna putih, meski Atlas gadis buta dia bisa melihat dengan baik seolah itu bukan masalah baginya.
"Hari ini aku luang, mau ikut ke suatu tempat denganku?"
Atlas menggabungkan tangannya seperti seorang yang berdoa selagi mendekatkan wajahnya padaku.
"Mungkinkah ini ajakan kencan."
"Tentu saja, aku tidak keberatan jika Atlas menganggapnya begitu."
"Kalau begitu aku akan ikut, tapi hanya berdua saja."
Aku mengulurkan tanganku yang mana Atlas pegang dengan erat, kulitnya putih seolah tranparan dan itu benar-benar mirip seperti salju.
"Tuan Lion."
"Mari pergi."
Aku menggunakan Teleportasi Gate dan muncul di kota yang dulu pernah aku kunjungi.
"Kita sudah sampai Atlas."
"Ada hembusan angin dan juga gesekan rerumputan... ini jelas bukan sebuah kota."
"Benar, ini adalah padang rumput... di depan ada kota jadi kita akan berjalan dari sini."
__ADS_1
"Apa tempat ini sangat berkesan untuk tuan Lion?"
"Um.. ini tempat pertama kalinya aku datang kemari."
"Begitukah."
"Jika Atlas tidak ingin berjalan, aku tidak keberatan untuk menggendongmu."
Dia menggelengkan kepala lalu melanjutkan.
"Aku juga sudah jarang berjalan-jalan seperti ini, aku ingin melakukannya sendiri."
Tanpa menuntunnya Atlas berjalan dua langkah di depanku selagi membentangkan tangannya lebar, angin menghembuskan rambutnya ke samping sementara dirinya dengan senang menghirup udara yang melewatinya.
"Udara yang segar."
Banyak hal yang terjadi pada Atlas hingga dia bisa sampai kemari, walau kehidupannya sangat sulit di masa lalu aku harap saat ini dia bisa melupakannya secara perlahan-lahan.
Ini memang bentuk keegoisanku tapi aku ingin Atlas selalu bahagia. Beberapa monster mendekat dan aku menyerang mereka dengan mudah sampai saat aku sadari kami telah sampai di kota di mana seorang penjaga menatapku curiga.
"Rasanya aku pernah bertemu denganmu sebelumnya, tapi di mana?"
"Mungkin cuma perasaanmu."
"Mungkin begitu, pokoknya selamat datang di kota apa, kuharap kalian bersenang-senang di sini."
"Nama kotanya kota apa?" tanya Atlas.
"Kota apa."
"Aku bertanya kota apa?"
__ADS_1
Hal seperti ini selalu membuat emosi.