Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 498 : Kembali Ke Elfdian


__ADS_3

Ratu Siren bangkit selagi menepuk-nepuk tubuhnya yang berdebu, dia meregangkan cambuknya lalu mengikat bebatuan di sekitarnya untuk melemparkannya ke arahku, aku menghindarinya dengan biasa, setelah bisa mempersempit jarak aku memberikan tebasan dari pedang kayuku hingga dia terlempar ke belakang.


Aku meletakan pedang di bahunya.


"Kurasa aku menang."


"Sepertinya begitu hehe."


Dengan ini maka semua ras siren akan tinggal di negaraku Elfdian, kami tidak akan pindah perorangan melainkan dengan kekuatan Harty dia akan membawa kotanya terbang ke sana.


"Yah aku tidak keberatan tapi..."


"Akan kuberikan daging sebanyak yang kau suka."


"Laksanakan."


Mudah sekali membujuk Harty. Aku bersyukur bahwa dia sangat sederhana.


Dalam waktu singkat kami telah kembali ke Elfdian.


"Mau aku taruh di mana Lion?"


"Di danau saja, sebelah kiri."


"Baik."


Semua elf muncul untuk memperhatikan kami semua, ada istriku juga diantara kerumunan tersebut.


Melihat bagaimana Karina begitu dekat denganku semua tatapan terarah padaku.


"Pakaiannya sangat terbuka."


"Tapi ukuran dadanya besar."


"Namaku Karina Lanau, aku istri baru Lion.. salam kenal."


"Jadi begitu dengan ini maka uang bulanan kita akan ditambahkan lagi."


"Benar."


Sudah kuduga mereka akan senang.

__ADS_1


Mengabaikan tingkah laku mereka aku mulai memperkenalkan para siren yang mulai sekarang akan tinggal di Elfdian, mereka semua menyambut dengan senang lalu mengadakan sebuah pesta setelahnya.


"Bersulang."


"Bersulang."


Aku bisa merasakan pekerjaanku untuk besok akan bertambah banyak. Aku terkapar di lantai saat Livia masuk ke dalam ruangan kerjaku.


"Anda baik-baik saja tuan?"


"Aku baru saja menyelesaikan tugasku, apa ada kabar yang bagus untukku?"


"Para ras Siren sudah bisa beradaptasi dengan yang lainnya."


"Syukurlah."


"Tapi aku juga membawa kabar buruk?"


"Apa itu?"


"Kita kehabisan kubus untuk penayangan televisi, dan itu hampir dua kali lipat dari yang kita sebarkan."


"Iya."


"Padahal masa kubus tersebut hanya tiga bulan, bilang saja kubus tersebut barang terbatas."


"Aku mengerti, kalau begitu aku akan mengecek yang lainnya juga."


Giliran Alteira yang muncul.


"Usaha bagus tuan, tapi dari sudut itu sulit untuk mengintip rokku."


"Warnanya merah muda."


"Jangan mengatakannya keras-keras.. aku membawa formulir kerja sama dari beberapa pedagang baru di Elfdian yang meminta barangnya dibeli oleh kita."


"Banyak sekali."


Aku duduk di mejaku selagi mengecek setiap formulirnya.


"Mereka membuat mainan anak-anak dari kayu."

__ADS_1


"Iya, pakaian, makanan, buah-buahan sudah sering dijual oleh pedagang lainnya tapi jika mainan kayu itu sedikit jarang."


"Aku ingin melihat produksinya untuk yang satu ini, sementara yang lainnya tak masalah untuk membelinya."


"Aku mengerti, beberapa mereka membuat lukisan aku pikir itu akan terjual sangat banyak."


"Itu benar, tapi kuharap mereka tidak mencoba melukis hal cabul atau sebagainya."


"Soal itu."


"Mereka melakukannya."


"Um."


"Kalau begitu ada dua tempat yang harus dikunjungi sekarang, mari kita mulai dengan pembuat lukisannya."


"Baik."


Aku dan Alteira pergi kemana pelukis itu berada, awalnya kupikir pelukisnya adalah pria akan tetapi semuanya malah wanita elf.


Aku terdiam dengan wajah pucat dimana mereka sedang menggambar model yang berdiri di depan mereka dengan pose erotis, dia hanya mengenakan daun untuk menutupi bagian pentingnya.


"Kalian semua ini terlalu berlebihan."


"Eh tapi yang mulia, lukisan seperti ini sangat populer itu cukup menguntungkan."


"Untung sih untung tapi aku tidak ingin diklaim sebagai negara seperti itu... tolong rubah kembali lukisan kalian, tak apa jika gambar kalian mengenakan pakaian dan hanya memperlihatkan sedikit belahan dada atau paha."


"Eh? Tapi kami sudah terlanjur membuatnya banyak."


"Aku akan membeli semuanya dan menaruhnya di kamarku."


"Tuan Lion."


"Maksudku lukisannya akan dimusnahkan."


"Apa boleh buat kalau begitu, mari teman-teman buat sesuatu yang sedikit berbeda."


"Baik."


Aku menghela nafas panjang, syukurlah mereka cepat mengerti.

__ADS_1


__ADS_2