
Sementara itu, Thomas telah menghadapi sosok bernama Kuno si pengguna pedang dua tangan.
Setiap tebasan miliknya menghasilkan kerusakan bagaikan sebuah bencana, satu bangunan terbelah mudah dengan sekali ayunannya.
Thomas yang berada di udara bersalto ke belakang kemudian mendarat di reruntuhan.
Ia menarik pisau kecilnya sebelum melesat maju, menyerang dari kiri, kemudian kanan ditambah dengan tendangan lokomotif hingga semua itu berhasil ditangkis musuhnya.
"Apa segini kekuatanmu, kau hanya ikan teri."
"Kau?"
Thomas adalah perwujudan dari kesombongan, saat dia direndahkan maka amarah telah mengambil hatinya untuk bertarung semakin kuat, dia menyerang musuhnya dengan kecepatan tinggi menciptakan rentetan kilatan cahaya yang sulit dihitung.
Dentrang.
Kedua senjata itu saling tertahan satu sama lain sebelum keduanya menjaga jarak, dosa mematikan kesombongan memiliki kemampuan untuk menciptakan ilusi di mana sekarang jumlah sosok Thomas menjadi semakin banyak.
Mereka semua meleparkan pisau ke arah Kuno secara bersamaan, jika sulit untuk menemukan tubuh asli maka Kuno hanya akan menebas semuanya.
__ADS_1
Dia berputar-putar beberapa kali menciptakan dirinya sebagai angin tornado, seluruh pisau dihalau dan reruntuhan yang terbawa olehnya menghancurkan setiap bayangan yang mengelilinginya.
Thomas menyembunyikan wajahnya dengan punggung tangan.
"Orang ini kekuatannya memang bukan main-main."
Mau tak mau Thomas harus mengambil wujud dosa miliknya, yang merupakan jubah hitam serta mata hitam dengan telinga meruncing seperti elf.
Dia melapisi kedua senjatanya dengan bayangan sebelum melesat maju menerjang angin tornado yang terlihat tak akan pernah berhenti, kedua pisaunya berbenturan secara langsung menciptakan petir ke udara, saat angin menghilang sekali lagi Thomas dan Kuno saling tertahan satu sama lain.
Kuno menendang perut Thomas hingga dia terlempar sedikit ke belakang, tak ingin melewatkan kesempatan dia bergerak memburu untuk mempersempit jarak selagi mengayunkan pedangnya dari bawah.
Walau senjata itu kecil akan tetapi dengan kekuatan miliknya bisa menahan kekuatan Kuno yang seperti sebuah bencana tersebut.
"Ini jauh menarik," ucap Kuno menyeringai senang.
Di tempat berbeda Glory dan Ginny harus menghadapi sosok bernama Evila, Evila sejauh ini tidak menunjukkan kekuatan yang signifikan.
Dia hanya menyerang dengan dua pedang pendek di tangannya untuk menghadapi keduanya.
__ADS_1
Glory terpental jatuh menabrak dinding, di saat dia jatuh serangan berikutnya digantikan oleh Ginny dengan pisau.
Satu pisau terayun dari atas untuk menghadapi pedang pendek Evila, sementara pisau lain dilemparkan dari tangan, menggores pipi Evila dengan darah merah.
"Kau?"
Brak.
Tendangan lain juga menerbangkan sosok Ginny di dekat Glory yang mencoba bangkit.
Evila menyinggungkan senyuman kecil, dia jelas lebih unggul dari mereka bahkan tanpa menggunakan obat yang disembunyikan dari bajunya dia pasti akan menang.
Pemikiran itu telah membuatnya besar kepala baginya selain Lion kedua orang di hadapannya bukanlah ancaman meskipun sekarang Ginny telah memasuki mode dosa mematikannya, dosa nafsu.
Kemampuan dosa ini tidak terlalu efektif selain mencari informasi dari musuh, meskipun dia menggunakannya itu tidak akan terlalu berpengaruh pada sebuah pertarungan.
Di sisi lain Glory memiliki kemampuan yang bisa diandalkan, sebelum dia bergabung dengan pasukan pejuang bersama Weis dan lainnya dia adalah seorang penyihir hingga entah serangan jauh atau dekat keduanya bukan masalah.
Menyadari hal itu, Evila akan lebih dulu membunuhnya sebelum berubah menjadi hal merepotkan.
__ADS_1
"Kalian diam, apa tidak ingin maju lagi.. jika begitu maka aku yang akan menyerang," katanya demikian.