Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 144 : Pertarungan Akhir Di Negeri Wilayah Suci Bagian Dua


__ADS_3

BAM!


Asap menelan seluruh bidang pandangku seutuhnya, bersamaan material yang menyembur ke udara sensasi rasa sakit bergulir dari tangan kananku. Darah menetes perlahan dari sana membuat genangan kecil tepat di dekat kakiku.


Seperti yang kuduga tanganku sudah lenyap.


Aku melihat ke arah semua orang, syukurlah bahwa mereka baik-baik saja, sesaat sebelum ledakan aku menyelimuti mereka dengan tanaman hingga mampu membuat mereka tetap aman.


Di saat semua orang kehilangan kata-kata Laxus tertawa.


"Apa-apaan denganmu haha dibanding melindungi dirimu kau malah menyelamatkan mereka, sekarang kau hanya akan menerima kematian."


Asap mengepul dari tubuhku namun sebelum aku bisa berubah menjadi Titan pedang dari cahaya menancapku dari segala arah.


Tongkat itu jelas sesuatu yang diberikan Venus, jika demikian aneh rasanya bahwa tongkat itu sangatlah kuat hingga bisa membuat siapapun tidak bisa menggunakan sihir teleportasi.


"Matilah."


Tepat saat pedang lain meluncur ke arahku sosok gadis jahil muncul di depanku yang mana dengan santai menjepit pedangnya dengan jari rampingnya.


Rambutnya yang berwarna pucat tampak berkibar bersama pakaiannya yang berayun indah.


"Sudah kukatakan Lion, kita ini harus bersama.. lihat kau terluka dan tanganmu hilang bagaimana kau menyentuh dadaku dengan satu tangan."


Aku tersenyum masam sementara yang lainnya menunjuk kekesalan.


"Aku sangat iri."


"Diamlah White Tiger, aku di sini hampir mati."


Aku menyesal berfikir sosok di depanku yang merupakan Rion terlihat keren atau sebagainya, dia masih tetap sama.


"Siapa kau berani menghalangi sihirku?"


"Sihirmu? Jelas bukan, sihir yang kau gunakan adalah sihir pinjaman."


"Omong kosong, aku ini orang yang sangat beriman dan sekarang aku telah menjadi dewa."


"Dewa? Fufu kau terlalu memandang tinggi dirimu kau masih manusia sekarang ataupun nanti."


Dewi ini memang pandai memprovokasi orang lain.

__ADS_1


"Lion, bisakah kau tidak mengejekku saat aku telah datang menyelamatkanmu. Aku akan pulang jika begitu."


"Salahku, aku minta maaf," balasku demikian.


Akan buruk jika dia benar-benar pergi.


"Kau akan mengakuiku setelah kau menerima kekuatan dewa, rasakan ini.... Holy Explosion."


Serangan cahaya dilesatkan kembali, bagi seorang Rion yang merupakan dewi itu bukanlah apa-apa.


Meskipun dia telah memberikan sebagian kekuatannya, dewi tetaplah dewi bahkan setelah banyak memberikan kemampuan bagi para pahlawan kekuatan mereka tak terbatas.


Cahaya yang dikeluarkan oleh Laxus dalam sekejap menghilang bersamaan pecahan tongkat yang hancur berserakan.


"Elemental Bridge, Rantai kematian."


Sebuah rantai dengan ujung tajam menusuk Priest agung dari segala arah yang mana masing-masing keluar dari tanah, bersamaan itu tiba-tiba saja sebuah pintu muncul di bawah kakinya, terbuka, menampilkan api yang meluap-luap ke udara.


Mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun sebelum akhirnya seluruh tubuhnya dijatuhkan dan pintu tertutup setelahnya.


Jika ada yang mengatakan bagaimana rasanya dijatuhkan ke dalam neraka, kurasa gambaran di depan kami bisa menjelaskannya.


"Itulah akibatnya jika meninggalkanku lagi, aku akan terus bersamamu selama dunia ini masih ada."


"Kenapa rasanya seperti terdengar sebuah kutukan?" kataku tanpa mendapatkan jawaban.


Di sisi lain White Tiger membuka mulutnya.


"Maafkan aku, karena aku lemah tanganmu hilang."


"Tidak sudah dipikirkan aku masih punya satu lagi."


"Kau ini gila? Setelah kehilangan tangan kau bisa santai seperti itu," ucap Thalisa namun tanpa perlu dikhawatirkan tanganku akan kembali ada.


Tentu dewi di sampingku yang melakukannya, meksipun aku harus mendorong wajahnya menjauh karena terus mencoba mengapit telingaku dengan bibirnya.


"Menjauhlah dariku."


"Tidak tidak aku ingin lebih lama memeluk Lion."


"Jika kau sekuat ini harusnya kau sendiri bisa hidup santai tanpa bantuanku."

__ADS_1


"Itu merepotkan jika selalu bertarung, karena itulah aku memanggilmu kemari jadi budakku, ah maksudku pahlawanku."


"Kau mengatakan tujuanmu sesungguhnya barusan."


"Tidak, aku cuma salah bicara."


Pir berbisik ke arah White Tiger dengan suara yang masih bisa terdengar jelas olehku.


"Bukannya mereka sangat akrab."


"Aku juga berfikiran sama, aku yakin mereka suami istri."


"Pantas saja."


Aku memilih mengabaikannya, dengan ini tugasku di sini sudah selesai dan tiga gadis suci bisa kembali ke posisinya dan membentuk negara suci yang baru yang menerima siapapun ras tinggal di dalamnya.


Di dekat gerbang kota aku dan Rion melirik ke arah sebuah pertunjukan kembang api megah, sebuah perayaan sedang diadakan meski demikian aku tidak memiliki waktu untuk bersantai.


Tiga gadis suci mendekat dan salah satunya Diona yang berjalan bersama Lamia.


Dia melemparkanku bola yang kuinginkan hingga kekuatan di dalamnya terserap oleh tubuhku.


"Kalau begitu aku permisi, dengan ini kalian akan bisa menentukan kerajaan seperti apa kedepannya, mari pulang Rion."


"Baik."


Sebuah teriakan terdengar dari belakangku khususnya dari para Beast ataupun Diona sendiri.


"Terima kasih banyak Lion, tanpamu negeri ini tidak akan berubah sampai kapanpun."


Aku melambaikan tanganku pada mereka.


"Jaga diri kalian... Teleportasi Gate."


Kami berdua menghilang dalam gerbang perpindahan.


Bagiku pertarunganku di benua ini hanyalah sebuah permulaan saja, peperangan sesungguhnya akan dimulai dari sekarang.


Ranger, Venus, Nightmare dan juga diriku, dari kami siapakah yang akan mampu mewujudkan mimpinya di dunia ini. Sesuatu yang hanya bisa diputuskan dalam pertarungan yang disebut Perang Besar.


Jika pun manusia di benua itu tidak bisa belajar dari kesalahannya aku juga tidak segan untuk memusnahkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2