
Pelayan pergi dengan wajah polos sementara hidangan Thomas baru saja sampai, dia memesan kue coklat.
"Aku memiliki obat penawarnya jadi jangan khawatir, aku akan memberikannya padamu juga."
Orang ini datang hanya untuk mencicipi racun, betapa berharganya hidupnya.
Aku sedikit menaikan topengku lalu menyendok kue ke dalam mulutku, sensasi manis dan asam dari potongan buah-buahan dapat kunikmati dengan rasa puas.
Sayangnya ini beracun.
Thomas memakan makanannya juga dia tersenyum selagi melirik bokong para pelayan yang berjalan melewatinya.
"Ekor mereka sangat indah, aku ngebet pengen kawin."
"Itu perkataan yang bisa membuatmu di penjara saat ini juga."
"Sepertinya begitu."
Aku kembali menghabiskan kueku lalu memesan kue berikutnya tanpa meminum penawar racun yang diberikan pada Thomas.
"Ka-kau? Kau memakannya lagi, apa tubuhmu baik-baik saja?"
"Tak perlu khawatir aku kebal racun."
"Heh, aku juga ingin memiliki tubuh seperti itu... sayangnya kenapa kau tidak melepas topengmu?"
"Aku sudah punya banyak istri, kurasa aku hanya ingin mereka saja yang tahu wajahku."
"Aku malah semakin penasaran."
Hidangan yang kami makan terakhir adalah puding.
__ADS_1
"Puding ini mirip dada wanita sangat lembut."
"Semua wanita menatapmu dengan pandangan membunuh loh."
"Biarkan saja, yang penting happy."
Aku tidak membenci orang-orang yang menjalani hidup mereka penuh semangat seperti ini.
"Jadi menurutmu siapa yang lebih menarik di antara mereka semua?'
"Jika kau bertanya aku lebih suka gadis telinga rubah di sana."
"Jadi begitu kau suka tipe Onee-san berdada besar, jika aku akan memilih dia."
Aku bisa melihat gadis kucing yang ditunjuk Thomas sudah bersiap membunuhnya dengan pisau.
"Yah, kurasa aku harus pergi sekarang... sampai jumpa lagi?"
"Lion kah."
Aku hanya melihat kepergiannya dari tempatku duduk. Sebelum aku bergegas seorang wanita rubah yang sebelumnya aku tunjuk menghentikan tanganku.
"Ada apa?"
"Bisa kita bicara sebentar."
Aku mengangguk mengiyakan dan tanpa kuduga dia membawaku ke dalam kamar di lantai dua. Aku menatap dengan pandangan bermasalah, apa kafe ini menyediakan layanan seperti ini.
Aku melirik dua wanita yang saling bercumbu di lorong tanpa malu.
Pantas saja Kafe ini tidak menyukai pria.
__ADS_1
Ketika aku berpikir demikian aku telah berada di atas ranjang.
"Maaf nona, aku tidak bisa melakukan hal itu."
"Aku mencium aroma yang kukenal di tubuhmu.. apa kau sebelumnya bermain-main dengan wanita rubah."
"Mana mungkin, aku sudah memiliki istri."
"Benarkah?"
"Aku memiliki seorang yang bisa disebut adikku sendiri, namanya Atlas ia sebelumnya tinggal di benua enam wilayah bersama kumpulan demi human lainnya, karena terjadi sesuatu aku membawanya tinggal bersamaku."
"Atlas kah... apa dia gadis buta?"
"Dari mana kau tahu?"
"Yah.. seluruh ras rubah awalnya berada di satu tempat di wilayah kekaisaran namun ras rubah ditangkap dan diperlakukan sebagai budak, beberapa berhasil melarikan diri termasuk aku.. sejak itu aku tidak tahu keberadaan yang lainnya."
Aku tidak tahu harus percaya atau tidak, tapi ini jelas sesuatu yang harus kuselidiki sendiri.
"Hanya itu yang ingin kubicarakan, karena sudah terlanjur di sini bagaimana kalau kita main satu ronde."
Nona rubah mulai melepaskan pakaiannya dan tangannya terjulur padaku, sebelum dia memegangi sesuatu yang tidak boleh dipegang olehnya, dari jendela seorang melemparkan apel ke kepalanya hingga dia terlempar jatuh.
"Hentikan Ginny, kau tidak bisa melakukan hal lebih dari itu."
"Padahal ini kesempatanku buat enak-enak dengan pria Thomas."
"Maaf untuk barusan Lion, kau tak apa?"
"Ah ya."
__ADS_1
Seperti yang dipanggil oleh wanita barusan yang berdiri itu memang Thomas, berbeda dari gaya serta penampilan waktu dia makan bersamaku, Thomas yang kulihat sekarang lebih tenang dan kalem.