Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 141 : Dua Gadis Suci Dan Satu Demi-human


__ADS_3

Wanita yang dimaksud White Tiger mengenakan tudung seperti kami jadi sulit untuk melihat wajahnya, dengan gerakan gesit dia melompat dari tembok ke tembok kemudian menaiki pagar besi hingga melompat ke bangunan lain layaknya seorang atlet Parkour.


"White Tiger, kita tutup jalannya kau di bawah dan aku akan mengejarnya dari atas."


"Siap 82."


Aku menekuk lututku untuk melompat ke atas bangunan dengan menggunakan plapon sebagai pijakan.


"Tunggu dulu, kami ingin bicara sebentar," teriakku.


Dia sama sekali tidak mendengarku dan berlari semakin cepat. Wajar jika dia tidak ingin dikenali sayangnya dia lari dari sesuatu yang tidak perlu.


Ia bergelantung di sebuah tiang untuk memutar tubuhnya menerjang ke arahku.


Saat seseorang tidak bisa melarikan diri, bertarung sesuatu yang akan dipilih sebagai pilihan terakhir.


Dia menarik pedang pendek dari pinggangnya sebelum menusukkannya ke arahku, tentu aku bisa menghindarinya dengan mudah.


"Kau salah paham kami berada di pihakmu."


"Memangnya aku percaya, kalian jelas berada dipihak Priest agung."


"Seberapa buruk kau mengenali seseorang."


Aku menangkis tangan yang terjulur padaku, lalu melipatnya hingga pedang jatuh menyusuri genteng sebelum menusuk tepat di kepala White Tiger yang muncul tiba-tiba.


"Gwaaah... kepalaku bocor."


Aku bisa melihat darah menyembur dari sana.


"Percayalah pada kami, Diona juga berada bersama kami."


"Diona?"

__ADS_1


Aku melompat ke bawah untuk memeriksa keadaan White Tiger. Orang ini tak hanya tidak berguna dia juga malah menyusahkan.


"Tenanglah, aku akan menyembuhkannya."


Aku menarik pedangnya lalu menggunakan sihir air untuk menyembuhkannya.


"Kukira aku akan kehabisan darah barusan."


"Kau ini tidak selemah itu kan."


"Akit tahu, apa kau tahu rasanya sebuah pedang menancap di kepalamu?"


Aku tidak ingin merasakannya.


Wanita yang sebelumnya aku kejar mendekat lalu membuka tudung yang menyelimuti wajahnya yang mana menampilkan wajah cantik dengan rambut putih dengan bilasan warna merah.


Penampilannya mirip seperti Diona tapi lebih dewasa.


"Jangan salah paham dulu, aku tidak terlibat..." ucap White Tiger panik.


Sebelumnya gadis suci diserang oleh demi-human karena itu tidak aneh jika gadis suci mencurigainya sebagai salah satunya namun sepertinya dia mengerti situasinya.


"Aku tahu, ikuti aku... kurasa kalian mungkin bisa dipercaya."


Aku maupun White Tiger saling menatap lalu mengangguk dalam diam. Dia memperkenalkan dirinya sebagai gadis suci bernama Thalisa.


Thalisa adalah kakak tertua dari tiga gadis suci karena itu dia lebih dewasa dari Diona serta berwawasan tinggi. Kami dibawa ke sebuah rumah kecil di pinggiran kota yang seluruh bangunannya dibuat dari kayu sederhana.


Thalisa mengetuk pintu tiga kali dengan sebuah nada sebelum akhirnya pintu terbuka menampilkan sosok gadis kucing di dalamnya.


"Moo.. sudah kubilang jangan berkeliaran ke luar Thalisa, dan mereka...."


"Maaf Pir, aku hanya ingin melihat situasi di luar dan mereka mengatakan bahwa Diona bersama mereka."

__ADS_1


"Masuklah, akan sangat buruk jika ada seseorang yang mendengar kita."


"Um..."


Kami duduk di kursi yang dibatasi oleh meja kecil, gadis kucing bernama Pir meletakan teh yang mana aku terima dengan baik.


"Nyan.. bukannya pria ini sangat tampan, hey... apa kau mau tidur denganku?"


"Wanita semuanya sangat berani mengatakan hal itu."


"Sudah jelas, wanita suka pria tampan dan juga kaya... aku bisa mencium bau uang darimu."


White Tiger memotong.


"Apa kau selalu mandi dengan uang, aku juga ingin melakukannya sesekali biar aku dapat wanita juga."


"Hentikan White Tiger, tahan dirimu... dia hanya bercanda."


"Ah, salahku."


Dia mengambil tehnya untuk dia nikmati sendiri dan aku menjelaskan pertemuanku dengan Diona sampai mengambil Kota Prima dengan bantuan para Beast maupun Monster yang berasal dari dungeon suci.


Seketika ekpresi Thalisa memucat.


"Dia melakukan sejauh itu, dia sudah tumbuh menjadi seperti gadis suci sesungguhnya."


Sebenarnya akulah yang mendorongnya seperti itu namun aku tidak ingin mengatakannya, lagipula gadis suci apanya? Karena aku menggepre dadanya dia hendak menghukumku di penjara kediamannya dan menyiksaku setiap harinya.


Walau itu kesalahanku dia tidak perlu sejauh itu, dan jika aku mengatakannya gadis suci yang sekarang kutemui pasti akan langsung membunuhku aku yakin.


"Jadi kenapa kau bisa berada di kediaman Diona waktu itu?" tanya Thalisa.


Sudah kuduga dia langsung menemukan hal yang tidak kuceritakan dengan mudahnya.

__ADS_1


__ADS_2