Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 184 : Rencana Tersembunyi


__ADS_3

Sudut pandang Lion.


Setelah menerima pukulan yang mengerikan aku tetap berdiri tanpa kendala, orang yang memukul diriku adalah orang yang sepenuhnya menggunakan otot sebagai kekuatan miliknya.


Dia melompat dan mendarat di depanku, hanya dengan berat badannya dia mampu menghempaskan seluruh bangunan di sekitarnya.


"Sesuai yang diharapkan dari seorang Titan."


"Bukannya kau juga Titan, paling tidak kau juga setara denganku."


Nilstrong melesat maju, dia mengirim tinju dari ototnya yang terlatih sementara aku berusaha untuk tidak terkena.


"Kenapa kau begitu keras kepala, ras kalian bisa hidup tenang sekarang."


"Bodoh, kalian telah banyak mengambil apa yang berharga dari kami, aku tidak akan berhenti sebelum kalian benar-benar punah."


"Lupakan saja rencana bodoh kalian... manusia makhluk yang sering reproduksi kalian tidak bisa menghentikan mereka."


Kuharap Rion bisa mengatakannya dengan sedikit lebih baik.


"Berisik, bagi ras kami membunuh manusia merupakan satu wasiat secara turun menurun di wariskan dari pemimpin kami."


"Apa maksudmu?"


Nilstrong memberikan pukulan yang membuat udara yang mampu menghempaskanku ke belakang.


Dia memasang pukulan mirip kepala banteng, aku menahannya namun dia terus mendorong tubuhku menabrak puluhan rumah sebelum membiarkanku terkapar di lantai batu dengan muntahan darah yang menyakitkan.


"Dewa Titan telah meninggalkan surat pada kami agar memusnahkan seluruh umat manusia, dengan ini maka kehidupan yang kami inginkan akan tercipta selamanya."


Aku sama sekali tidak pernah mendengar hal itu. Apa Lu Shang benar-benar menulisnya?


"Dari mana kau mendapatkan surat tersebut?"

__ADS_1


"Semua Titan yang ikut perang telah melihatnya sendiri, demi pemimpin kami hal ini pantas dilakukan."


Aku diam untuk memikirkannya sebelum tiba-tiba saja Ryker jatuh dari atas dan aku menangkapnya dengan baik.


"Oi, kau baik-baik saja," kataku.


"Lion?"


"Jangan berbicara dulu aku akan menyembuhkanmu," hampir seluruh organ dalamnya telah rusak.


Orang macam apa yang telah melakukan ini? Aku melirik ke arah dua pria yang datang dari belakang Nilstrong.


Pria satunya adalah Ranger dan pria lain seseorang yang tidak kukenal, ia memiliki rambut merah dengan pedang di punggungnya serta ekpresi yang sedikit malas.


Dia bertanya.


"Temanmu ini sangat lemah, aku bahkan menghancurkan rohnya dengan mudah."


Maksudnya Symponia, dia sudah mati?


"Kita tidak dalam posisi menguntungkan sekarang, seluruh pasukan telah dibantai oleh orang itu."


"Mustahil?"


"Tepat sekali, namaku Renard aku cukup bersenang-senang saat membunuh mereka."


Aku mencoba merasakan seluruh anggotaku namun yang bisa kurasakan hanya mana dari Kizuna, Gracia, Charlotte dan seorang yang dipanggil Titan Pedang.


Bagaimana ini bisa terjadi?


Ranger melanjutkan.


"Rencana kami telah selesai, saat ini kau gagal meraih keinginanmu Lion."

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Saat kalian mencoba menyerang kami aku telah memasang bom di setiap kota besar meliputi Tembok Keadilan Julius, Tembok Penghakiman Argos dan Tembok Kebijaksanaan Chaldis, dengan hanya menekan tombol ini ribuan manusia akan mati dengan mudah."


"Kau?" aku berteriak ke arahnya namun Ranger hanya tersenyum senang.


"Jangan repot-repot soal Venus, aku sudah mengurungnya di dalam ruang hampa, dia tidak bisa keluar dari sana," ucap Renard menjelaskan.


"Bagaimana kau bisa melakukannya?" aku hanya bisa mengutarakan pertanyaan lagi dan lagi.


"Mempelajari kemampuan dewa bukanlah hal sulit... saat para dewa-dewi membantu manusia aku berhasil mendapatkan darah salah satu dewa lalu meminumnya, sama seperti Ranger yang meminum darah Lu Shang aku juga melakukannya untuk memiliki kekuatan yang sama dengan mereka... dibanding ramuan yang diberikan oleh Ranger padamu, darah ini jelas lebih hebat."


"Kurasa sudah cukup di sana Renard," sela Ranger.


"Maafkan aku, aku tidak semangat seperti ini terakhir membunuh manusia."


Ranger mengulurkan tangannya ke arahku.


"Sekarang kau Titan Lion, dibandingkan berpihak pada manusia lebih baik kau berpihak pada kami, kita bisa bersama-sama membangun dunia impian kita."


"Jangan bercanda, kau ingin membunuh semuanya."


"Itu apa yang seharusnya dilakukan sejak lama... lihat ini baik-baik Lion, kau gagal menyelamatkan mereka semua."


Ranger memencet tombol di tangannya selanjutnya dari kejauhan tampak ledakan terdengar hingga mengguncang tanah dalam bentuk gempa bumi.


Aku terduduk lemas tanpa daya sementara Ranger tersenyum puas.


"Dalam seminggu lagi datanglah ke ibukota kerajaan ini, aku akan menunggumu dan rekanmu untuk pertarungan akhir jika kalian tidak datang maka seluruh tawanan kota itu akan di musnahkan sama seperti yang kulakukan sekarang."


Aku menatap Ranger dengan kebencian.


"Aku akan membunuhmu."

__ADS_1


"Begitulah seharusnya, kebencian tidak pernah menghilang dari dunia ini...manusia membunuh Titan dan kami juga membunuh manusia, sampai salah satu dari kita punah tidak akan ada namanya kedamaian."


Ketika ketiganya menghilang aku hanya bisa berteriak frustasi.


__ADS_2