Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 78 : Teman Satu Meja


__ADS_3

"Tolong dagingnya lagi."


"Baik."


Di kedai itu Harty menghabiskan persediaan dagingnya dalam waktu beberapa jam saja, semua orang tampak tak bisa berkata apapun lagi khususnya para pelayan yang kewalahan.


Selain dirinya kami juga mengikuti di sampingnya dengan makanan secukupnya, hari ini dia menang dan dia mendapatkan apa yang dia inginkan.


Bahkan berkatnya aku kini bisa mengendalikan empat sihir dunia khususnya api yang sangat berguna dalam keadaan sulit.


Valentine berbisik ke arahku selagi menunjuk ke arah luar pintu di mana gadis serigala berada.


"Apa kita tidak bisa mengundangnya juga?"


"Aku juga merasa kasihan mari suruh dia bergabung dengan kita."


Aku mengulurkan tangan memanggilnya dan gadis serigala bernama Risela mengibaskan ekornya selagi berlari ke arahku.


"Terima kasih banyak."


"Makanlah sebanyak yang kau inginkan."


Dia juga memiliki nafsu makan seperti Harty meskipun tidak sebanyak dirinya.


"Nibela kau ingin tambah lagi."


"Aku sudah kenyang."


"Valentine dan Rion?"


Mereka dua juga sama, hanya Harty dan Risela yang masih makan.


"Akyu baryu makyan makanan seperti ini."


"Bicara atau makan tolong pilih salah satu," kataku kepadanya.

__ADS_1


Kami lalu memperkenalkan diri.


Setelah selesai Risela menjelaskan tentang dirinya.


Alasan dia datang mengikuti pertandingan ini adalah untuk bisa mendapatkan uang demi membantu desanya khususnya soal makanan.


Desa miliknya hanya desa tandus tanpa apapun dan orang-orang hanya bisa makan sedikit.


Dia berfikir jika dia memiliki uang dan makanan desanya akan jadi lebih baik.


Entah kenapa aku merasa bersalah padanya.


Jika anggota partyku tidak ikut sudah jelas di pemenangnya.


"Maafkan aku."


"Eh, kenapa kau tiba-tiba minta maaf, akulah yang harus minta maaf karena mengganggu kalian."


"Lalu saat di sini kau tidur di mana?"


"Aku tidur di emperan toko.. aku sudah biasa jadi tidak usah dipikirkan."


"Nah Risela untuk malam ini kau bisa tidur di penginapan yang kami sewa, kebetulan kami menyewa dua kamar.. kau bisa memakai salah satunya bersama Nibela, Valentine dan juga Harty... soal desa aku bisa membantumu."


"Benar, kamu bisa tidur bersamaku," tambah Nibela.


"Terima kasih, rasanya aku ingin menangis."


Melihat ekor dan telinganya bergoyang cukup menghangatkan hati.


Baru saja kami hendak pergi ke penginapan seorang menerobos masuk dengan luka di sekujur tubuhnya, dia mengerang kesakitan selagi mengulurkan tangannya meminta bantuan.


Aku bisa melihat seekor kuda di luar.


Valentine mengangkat suara.

__ADS_1


"Bukannya dia komandan yang kita temui di kota sebelumnya."


"Itu benar."


Aku segera mendekat ke arahnya.


"Syukurlah kau ada di sini juga."


"Apa yang terjadi?"


"Pemilik tanah kota kami bersengkongkol dengan Raja Iblis Barat. Dia menggunakan sihir necromancer untuk menghancurkan kota. Dia bilang dia sudah tidak bisa mendapatkan keuntungan lagi dari kami lalu dia melakukan ini semua."


"Bagaimana dengan pengguna tombak itu?" tanyaku.


"Dia sudah dibunuh dan sekarang menjadi mayat hidup."


Ini jelas membuatku marah.


"Valentine tolong sembuhkan komandan ini, untuk Rion, Nibela dan Harty ikut aku."


"Kami mengerti."


Rion berubah jadi pedang sementara Harty berubah menjadi naga hingga kami terbang menembus langit malam.


"Maaf membuatmu harus terbang Harty, padahal kau sudah makan."


"Tidak usah dipikirkan, ini bukan masalah.. tapi aku tidak bisa bertarung."


"Tidak masalah, aku dan Nibela sudah cukup."


Tepat di atas langit aku bisa melihat kota yang terbakar serta para mayat hidup yang mulai menghancurkan kota.


Kami berdua mendarat dengan baik dan tampak di antara mayat itu ada pengguna tombak yang kukenal dan salah satunya membuat Nibela terdiam.


"Ada apa Nibela?"

__ADS_1


"Yang itu... Linda."


Orang yang mati karena rekannya sendiri sekaligus orang yang mengajari banyak hal padanya telah dibangkitkan lagi dengan necromancer.


__ADS_2