
"Ada apa Lion?" Harty yang melangkah di depanku berbalik untuk menanyakan hal demikian.
"Tidak, aku hanya merasa bahwa seseorang baru saja menepuk bahuku."
"Tidak ada siapapun di belakangmu, mungkin cuma perasaanmu... cepatlah, yang lain sudah mendaftar."
"Tunggu, aku tidak ingin ikut hal seperti ini."
"Kau harus ikut."
Di depan sebuah toko sedang ada perlombaan makan mie super pedas yang diikuti beberapa orang termasuk orang yang kukenal yaitu Aira, Harty, Valentine dan juga Misa.
Ada seseorang lagi yang kukenal dia adalah Winny, gadis suci yang memimpin negara ini. Jika menghitung dengan peserta lainnya kami semua ada 10 orang.
Sungguh disayangkan bahwa aku terlibat dalam hal ini, bukannya aku tidak suka kemeriahan orang-orang yang bersorak-sorai semangat ini melainkan aku hanya tidak kuat untuk memakan sesuatu yang pedas dalam jumlah banyak.
Panitia memberikan sedikit saran.
"Kunci memakan makanan yang pedas adalah pada kecepatannya, selama kalian tidak langsung berhenti maka kalian bisa makan sebanyak yang kalian suka."
Orang ini pasti meminta kami untuk mati.
Terlebih saat mendaftar kami diberi formulir yang menyatakan bahwa kami tidak akan menuntut apapun kepada pihak penyelenggara.
Aku menyapa Winny yang duduk di sampingku dengan tubuh gemetaran.
"Hey, kau baik-baik saja."
"Ah Lion, sejak kapan kau ada di sampingku?"
Orang ini.
"Sejak awal."
"Maafkan aku, aku tidak melihat... aku sebenarnya tidak terlalu suka ikut dalam hal seperti ini tapi pihak kerajaan bilang bahwa aku sesekali harus ikut berpartisipasi dalam hal semacam ini untuk memeriahkan berbagai hal."
"Begitu."
Agar menjadi pemimpin yang disukai rakyatnya kurasa. Para petinggi pasti sengaja melakukannya tanpa memberitahukan alasannya.
__ADS_1
Aku yakin itu.
"Berjuanglah nona Winny."
"Kami selalu mendukungmu."
Tekanannya cukup kuat juga.
Untuk anggotaku yang lain mereka tampak lebih fokus dengan makanan yang sudah ditaruh di depan meja mereka, yaitu mie dengan daging serta baso berkuah super pedas.
Walau tampak menggiurkan tetap saja ini mengerikan seolah makanan ini berkata makanlah kami dan rasakan neraka.
Panitia mulai mengangkat tangannya dan berkata 'mulai' yang mana menjadi isyarat kami.
Baru lima kali suapan aku maupun Winny tumbang di saat yang sama.
"Perutku sakit, kepalaku pusing dan kakiku gemetaran."
Dia memiliki gejala yang sama seperti yang kualami sekarang, meski begitu semua orang masih mendukung Winny dengan semangat.
"Hentikan, jangan mendukungku lagi."
Aku merasa kasihan padanya, pada akhirnya Winny memutuskan untuk pulang ke istana, dia sempat mengundang aku juga tapi aku hanya datang untuk makanan ini saja dan memutuskan akan berkunjung lain kali.
"Ah ya."
Setelah kami berdua, peserta lain mulai berjatuhan kembali menyisakan anggotaku saja.
Aira dan Harty memimpin sementara Valentine dan Misa kalah setelah menghabiskan setengahnya.
Mereka benar-benar kuat, ngomong-ngomong ramuan obat yang disediakan oleh pemilik toko ini cukup ampuh menghilangkan gejala kepedasan.
Beberapa waktu berlalu keduanya telah menghabiskan makanannya, sungguh mereka memiliki perut yang kuat.
"Luar biasa, ada dua orang yang berhasil menghabiskan makanannya.. menurut peraturan tidak boleh ada dua pemenang karena itu mari ulang kompetisinya untuk keduanya," kata panitia bersemangat.
Aku bisa menebak siapa yang akan menang.
Perut Harty sangat besar karena itulah jika adu ketahanan seberapa banyak dia mampu makan dialah pemenangnya.
__ADS_1
Aira hanya bisa memasukan beberapa suapan terakhir sementara Harty masih mengunyah.
"Aira, apa kau tidak ingin menghabiskan punyamu?"
"Ambil saja, perutku sudah kenyang."
"Terima kasih."
Dia adalah monster sesungguhnya lagipula aku bertanya-tanya bagaimana mereka bisa kebal pedas, hal itu tidak bisa dijawab.
Harty tertawa dengan hadiah uang yang didapatkannya.
"Mari kembali suamiku," ucap Valentine.
"Iya."
Setelah membeli beberapa oleh-oleh, kami akhirnya memutuskan untuk kembali.
Yang kubeli adalah mie dengan rasa biasa tanpa rasa pedas.
Keesokan paginya di luar perkarangan istana aku duduk berduaan dengan Rion yang duduk selagi meminum tehnya.
"Di sini damai sekali ya, Lion."
"Um... apa perutmu tidak apa-apa?"
"Belakangan ini beratnya bertambah, mungkin aku kebanyakan makan hehe."
"Ibu hamil baik untuk mengonsumsi banyak makanan."
"Benar sekali."
Aku melanjutkan setelah menyesap tehku.
"Kita selalu berpetualang bersama tapi aku masih belum tahu tentang masa lalu Rion dan juga soal dosa mematikan, boleh aku mendengar keseluruhan ceritanya. Itu membuatku penasaran."
"Fufu saat itu meski aku dihukum turun ke dunia ini aku tetaplah kuat, aku bahkan mengalahkan lima raja iblis utama yang dibuat oleh Solomon, kupikir ini bukan cerita yang membosankan."
"Tolong ceritakan semuanya meski membutuhkan waktu seharian," tegasku demikian.
__ADS_1
"Baiklah, bagaimana kalau kita memulai saat desa tempat tinggalku membeku seutuhnya selepas kepergian Nightmare."
Aku mengangguk mengiyakan dan saat kusadari bukan hanya aku saja yang ingin mendengarkan akan tetapi seluruh istriku termasuk pelayan dan Harty turut bergabung juga.