
Aku membawa Atlas ke akademi Harfia di mana di ruangan itu juga ada Gracia dan Nibela .
Setelah menjelaskan situasinya Gracia menyilangkan tangannya di depan selagi menghela nafas panjang.
"Masalah benar-benar mengikutimu," katanya lalu melanjutkan.
"Jadi kau ingin memintaku untuk menjaga Atlas."
"Benar, kukira dia akan lebih nyaman jika ada Nibela di dekatnya."
"Dasar suka seenaknya... karena kau sudah di sini kebetulan aku sudah mendapatkan beberapa informasi di benua manusia, Tembok Suci Maria telah diambil oleh pihak Titan dan juga para elf sudah dibawa ke benua iblis oleh Ryker."
"Syukurlah."
Rion tampak senang mendengarnya.
"Tapi masalahnya menurut laporan Ryker ada Titan yang memangsa manusia dan mereka adalah manusia yang dirubah menjadi Titan."
"Mereka sudah sejauh itu."
"Kau tidak terkejut?"
"Aku hanya pernah memikirkan bahwa Titan suatu hari akan memakan manusia," balasku ringan.
Untuk Nibela dan Atlas keduanya hanya mendengarkan tanpa mengatakan apapun.
Bersamaan itu 'Prang' tiba-tiba saja kaca pecah oleh seorang pria yang menerobos masuk di antara kami semua, dia menyeringai selagi berkata selagi melirik ke arah Nibela.
"Akhirnya kutemukan."
Asap mengepul dari tubuhnya hingga aku berteriak.
"Gawat... dia Titan, Gracia."
"Aku tahu."
__ADS_1
Gracia langsung mengambil Nibela dan Atlas bersamanya untuk melompat keluar jendela.
Sementara itu aku berlari setelah mengambil pedang Rion lalu menebaskannya ke arah pria tersebut.
Dia menahannya dengan tangan hingga setengah dagingnya tertembus bilah tajam.
"Kau hanya manusia, matilah."
Crek... DOAAAAAAR.
Seluruh bangunan hancur dalam sekejap dan tubuhku terlempar ke udara hingga berputar beberapa kali sebelum menahan kakiku dengan lingkaran sihir di udara.
Puing-puing akademi kini berjatuhan dan di antara itu sesosok Titan setinggi 60 m telah merusaknya.
Benar, dia pria yang sebelumnya kutebas.
Baju zirah sepenuhnya telah menyelimuti dirinya.
Aku melirik ke arah kota dan di sana puluhan Titan bermunculan, berbeda dari Titan di depanku mereka tidak menggunakan baju besi melainkan hanya daging.
Aku turun ke bawah untuk bergabung dengan Gracia dan lainnya.
"Sepertinya mereka mengincar Nibela, menurutmu apa alasannya?" ucap Gracia ke arahku.
"Hanya dua alasan yang kupikirkan, pertama mereka ingin menggunakan kekuatan Nibela untuk menghancurkan umat manusia dan satu lagi adalah mengambil darah Nibela."
"Darahku?"
"Tidak salah lagi, mereka ingin mengambilnya untuk merubah tubuh mereka menjadi Titan terkuat."
"Mustahil? Mereka sudah kelewatan."
Titan raksasa di depan kami membelah bangunan akademi selagi berteriak menjulurkan kepalanya.
'GWAAAAAAAH."
__ADS_1
Suara raungan itu membelah udara, membuat ketakutan intens yang luar biasa. Orang-orang yang sebelumnya ingin bertarung pada akhirnya gemetaran lalu berhamburan pergi.
Beberapa guru di akademi memutuskan untuk bertarung dengan segala kemampuan yang mereka miliki, salah satunya menciptakan tali dari sihirnya untuk menjerat Titan, kemudian disusul yang lainnya dengan sihir serangan sayangnya itu sama sekali tidak berpengaruh hingga hasilnya.
Tubuh para guru itu terhempas ke segala arah.
Salah satunya terbaring di tanah.
Selanjutnya.
Sebuah kaki menginjaknya hingga remuk membuat material tanah berhamburan ke udara.
"Fery."
Seorang wanita berteriak dengan emosi.
Dia secara membabi buta menembakan sihirnya namun itu tidak berpengaruh.
Jari Titan menangkap kepalanya, wanita itu hanya bisa menangis sebelum kepalanya hancur berserakan.
Aku berkata ke arah Nibela dan Atlas.
"Kalian bersembunyilah di belakang."
"Kami mengerti."
Gracia menarik pedang yang keluar dari tubuhnya dan menunjukan bilahnya.
"Sialan... mereka sudah berani sekali menyerang kita."
"Aku juga setuju, bagaimana dengan Titan yang ada di sana?"
"Itu Titan dari manusia kita bisa mengatasinya nanti lagipula yang lain pasti bisa melukainya juga, jika yang ada di depan kita hanya kita yang bisa melukainya."
Aku mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1