
Di dalam gang yang ditelan kegelapan malam aku telah membunuh sekitar tiga orang sekaligus dengan melukai leher mereka.
"Semenjak bersamamu aku rasa aku terus saja terlibat pembunuhan."
"Mau bagaimana lagi? Di dunia ini membunuh adalah hal yang wajar terlebih bukannya ini cukup menyenangkan, dibalik wajahmu kau tersenyum bukan? Ini bisa dibilang adalah gairah birahiku."
"Nafsu membunuh lebih tepatnya," aku menegaskan hal itu.
Aku bahkan tidak merasa kasihan ataupun iba seolah sifat kemanusiaanku benar-benar telah menghilang seutuhnya yang masih berguna dariku hanya logika yang kumiliki.
Aku melompat ke setiap bangunan selagi mengingat wajah siapapun yang harus kubunuh lalu masuk ke rumah bordil dan mengambil nyawa mereka tanpa ampun.
"Padahal sedang enak-enak, kau malah menusuknya dari belakang aku merasa kasihan padanya loh."
Kasihan Rion hanya sebuah omong kosong belaka untuk menggodaku karena itu aku memilih mengabaikannya sebelum akhirnya pergi ke bagian bangunan pusat pengelolaan wilayah ini.
Seperti sebelumnya ratu yang ada di sini hanyalah sebuah penyamaran, pada dasarnya hanya ada satu Huang Lien yang asli dan itu orang yang bersama kami.
Aku menepuk bagian belakang penjaga hingga mereka tak sadarkan diri sebelum menerobos masuk.
"Penyusup? Hentikan dia."
Kuciptakan semburan air yang mana menghempaskan seluruh penjaga ke kolam ikan koi kemudian menjerat mereka dengan air yang menyerupai tentakel gurita.
Sihir dunia air milikku mampu memanipulasi bentuk air apapun tanpa kesulitan, aku menendang pintu utama di mana Lien palsu berada di dalamnya. Ada tirai tipis yang menutupi ranjangnya dan sepertinya dia tertidur pulas dengan selimut.
Tanpa menahan diri aku menembuskan pendangku hingga sebuah suara terdengar dari belakang.
"Kau tidak ada ampun."
"Lien palsu kah?"
__ADS_1
"Aku lebih suka kau memanggilku dengan nama Misa."
Apa yang kutusuk sekarang hanyalah sebuah boneka tanpa jiwa.
"Dengan keributan yang kau buat mana mungkin aku tidak menyadarinya."
Aku menarik pedangku untuk menunjukan ujung bilahnya padanya. Di depanku berdiri seorang gadis berambut biru panjang dengan rok pendek hitam serta bagian atas berenda berwarna serupa yang menonjolkan bagian dadanya yang besar seolah itu bisa menyembul keluar kapanpun.
Matanya yang berwarna perak menatapku dengan senyuman.
Rion memperingati.
"Ia menggunakan sihir boneka yang dicampur dengan sihir ilusi."
Aku memastikan boneka yang sebelumnya aku tusuk dan boneka itu berubah menjadi Huang Lien yang kukenal dengan daging dan pakaian utuh.
"Jadi beginilah cara yang kau perbuat untuk menipu banyak orang."
"Maaf saja tapi aku hanya menuruti perintah saja.. aku tidak bermaksud lain terhadap wilayah ini."
Rion yang menjawabnya.
"Dia hanya seorang budak."
"Maksudnya budak dari raja itu."
"Bukan begitu... penjualan budak di tempatku mengenal baik raja di wilayah barat jadi dia meminjamkanku sebentar untuk membantunya.. aku hanya bertugas untuk menggantikan peran ratu di sini."
Sekarang semuanya masuk akal.
"Ngomong-ngomong sejak tadi kau terus melihat dadaku, apa kau tertarik denganku?"
__ADS_1
"Sangat tertarik," tanpa sadar aku mengatakannya terang-terangan hingga Rion menggerutu akan sesuatu.
"Sudah kuduga hal seperti ini terjadi... lakukan saja semaumu, aku tidak peduli."
Dia benar-benar marah.
Sementara itu Misa memasukan ujung jarinya ke dalam mulutnya lalu mengeluarkan air liur dari sana.
"Kalau kau menginginkanku kau bisa datang ke wilayah angin dan membeliku di sana... yah walaupun hargaku sangat mahal, aku juga masih perawan loh."
"Wilayah angin?"
"Di wilayah itu perbudakan dianggap hal legal, kau mungkin akan terkejut saat datang ke sana," tambah Rion.
"Begitu, tapi ngomong-ngomong bagaimana dengan urusanmu di sini?'
"Aku hanya diminta untuk menyamar saja setelah ketahuan maka pekerjaanku selesai, kalau begitu aku akan menunggumu di sana dadah."
Dia melesat melarikan diri.
Aku bertanya pada Rion.
"Tidak biasanya kau memperbolehkanku untuk mengambil wanita lain?"
"Seharusnya memang begitu tapi kau memang benar-benar harus mendapatkan wanita barusan, sepertinya dia mengambil kekuatanku lalu menyegelnya ke tubuhnya."
"Dengan kata lain?"
"Kekuatanku sudah tidak ada lagi di wilayah ini, kau harus mengambil kekuatan tanah dan angin di tempat yang sama."
Aku memegangi kepalaku frustasi.
__ADS_1
"Kenapa bisa?"
"Kita akan mengetahuinya jika langsung menanyakan langsung pada Misa."