
Ini adalah wilayah tembok suci Maria di kerajaan ortodoks suci, dibanding wilayah lainnya tempat ini merupakan kota satelit yang lebih cepat pulih dibanding kota lainnya.
Tentu kami berdua tidak datang untuk berjalan-jalan melainkan untuk pergi ke sebuah percetakan koran yang dimana mereka telah menyebarkan berbagai informasi ke seluruh benua ini. Jika tidak salah namanya adalah wanita burung. Seusai namanya dia seperti burung. Atau lebih tepatnya dia berpakaian mirip hewan seperti itu.
Dia orang yang bertanggung jawab di sini.
Ketika kami mengunjunginya dia dengan senang menyeduhkan teh untuk kami. Dilihat sekilas paling tidak ada sekitar 50 pegawai di sini.
"Aku tidak menyangka bahwa utusan nona Winny akan datang kemari, ini jelas sebuah kehormatan bagi wanita tua sepertiku."
Jika menyangkut umur Livia sebenarnya yang paling tua tapi jika menyangkut wajah, orang yang berkata itu adalah pemenangnya dalam hal penuaan.
"Jadi apa yang bisa kami bantu?"
"Kudengar akibat peperangan perusahaanmu telah menurun, aku ingin kau menyebar informasi ini, tentu semua yang ditulis di sana adalah kebenaran," kataku selagi memberikan sebuah berkas yang lama telah kubuat.
"Bukannya ini?"
__ADS_1
Aku tersenyum ke arahnya lalu melanjutkan.
"Itu adalah kebenaran 4000 tahun yang lalu, tentang kenapa perang terjadi dalam kurun waktu 1000 tahun, para dewa dewi yang turun membantu manusia serta kebenaran dari Dewi jahat Riona."
"Ya ampun... bukannya ini luar biasa, kami akan menjadi perusahaan nomor satu lagi jika menerbitkan informasi ini."
"Aku tidak peduli apa yang kau inginkan, tapi aku minta untuk menyebarkannya juga di benua enam wilayah... tentu aku tidak memungut biaya apapun dari itu."
"Aku akan pingsan, aku bisa membayangkan berapa keuntungan yang bisa kami dapatkan."
Aku tidak ingin mendengar perkataan seperti itu, namun fakta bahwa semua orang butuh uang tidaklah terbantahkan. Orang bilang uang tidak memberikan kebahagiaan namun aku jelas menyangkal hal itu. Kebahagiaan memang bisa dibeli dengan uang bahkan jika kau melihat dari sudut berbeda hal itu tetaplah sama.
Terlepas dari itu yang paling sulit adalah ketika kau memiliki semuanya namun merasa bosan untuk meraih apapun lagi, itulah yang kurasakan di duniaku yang sebelumnya.
Meninggalkan wanita burung aku menatap langit berawan yang mana menyembunyikan cahaya matahari di dalamnya. Livia yang melihatku memangilku dengan suara lembut.
"Tuan?"
__ADS_1
"Aku hanya sedikit mengingat masa lalu, berhubung kita sudah di sini apa ada sesuatu yang ingin kau beli? Aku akan mentraktirmu."
"Heh, bolehkah? Kalau begitu aku ingin makanan mewah yang dilapisi emas di atasnya."
Rasanya aku pernah mendengar makanan yang sama di duniaku.
"Memangnya bisa dimakan?"
"Tentu saja, aku tidak tahu caranya tapi mereka menyajikannya seperti itu... kau tidak bisa disebut orang kaya sebelum memakannya, yah itulah yang dikatakan orang-orang tapi bagiku selagi bisa dimakan akan kumakan."
"Bukannya kau malah terdengar seperti Harty."
"Benarkah?"
"Dia naga rakus bahkan jika tanah rasanya enak ia akan memakannya sampai habis."
"Dia akan memakan benua kalau begitu."
__ADS_1
Aku mengangguk mengiyakan, sejauh ini Harty terlihat biasa-biasa saja namun dia bisa dikategorikan orang yang memiliki dosa mematikan kerakusan, aku ingat di mana dia memakan para monster hingga habis dan suara dari tulang yang remuk sulit untuk dilupakan.