Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 61 : Bertahan Hidup


__ADS_3

Tubuhku yang kecil membuatku bergerak lebih cepat di antara orang-orang, dengan gesit aku menjulurkan tanganku untuk mengambil beberapa buah tanpa sepengetahuan pedagangnya lalu memakannya saat mereka tidak melihat.


Sekarang aku tidak peduli bagaimana aku hidup, yang jelas yang ingin kulakukan hanyalah terus bertahan hidup.


Beberapa hari semua yang kulakukan berjalan dengan lancar sampai suatu saat seluruh pedagang menangkapku dan mulai menyiksaku.


Di saat aku sekarat sesuatu yang tak terduga muncul di depanku, seorang wanita berdiri di depanku lalu membunuh mereka dengan hanya menggunakan pisau belati.


Tangannya yang cekatan menggorok leher mereka tanpa kesusahan, aku hanya bisa melihat bagaimana mereka semua mati selagi memegangi leher mereka yang tersayat.


"Kau baik-baik saja?"


Wanita di depanku mengulurkan tangannya.


Aku sudah kehilangan tenagaku dan hanya bisa menjawabnya dengan anggukan kecil, walau samar-samar aku tahu bahwa wanita itu sangat cantik, dia memiliki rambut pendek pirang dengan mata biru.


Tubuhnya terlihat ramping namun dipenuhi otot, ia mengenakan sepatu boot dengan gabungan celana pendek serta pakaian terkesan sederhana, ia terlihat tidak memikirkan penampilan asalkan itu mudah membuatnya bergerak dia pasti akan memakainya.


Tak lama kesadaranku diambil dariku hingga saat kusadari aku berada di sebuah ruangan asing dimana bangunannya tidak memiliki hal bagus untuk dikatakan.


Dindingnya retak serta telah ditumbuhi tanaman merambat, aku akan mengatakan ini adalah sebuah reruntuhan yang sudah dibiarkan terbengkalai sejak lama meski begitu aku masih tahu bahwa ini sebuah kamar.


"Kau sudah bangun."


Orang yang lebih dulu menyapaku adalah seorang wanita yang telah menyelamatkanku.


"Namaku Linda, namamu?"

__ADS_1


"Aku Nibela Cronil."


Seorang Titan sesuatu yang tidak akan kukatakan pada siapapun.


"Nama yang bagus, sebelumnya kau dipukuli oleh semua pedagang pasti menyakitkan."


"Ah iya."


"Aku membuatkan bubur jadi makanlah."


"Terima kasih."


Aku tidak bisa membalas kebaikannya namun paling tidak aku ingin mengucapkan terima kasih sebanyak yang bisa kulakukan.


Ketika aku mendapatkan buburku, Linda mengirimkan beberapa pertanyaan sederhana.


Tidak adalah kata yang kupakai.


"Keluarga?"


Semua hal itu telah hilang dariku.


"Begitu, hidupmu pasti sangat sulit... kami juga memiliki hidup yang sama dan memutuskan untuk hidup sebagai bandit, apa kau ingin bergabung dengan kami."


"Apa aku boleh?"


"Tentu saja, siapapun bisa bergabung dengan kami... tapi kami tidak menyarankan membunuh jika dalam situasi tertentu."

__ADS_1


"Aku mengerti."


Linda mengelus rambutku.


"Setelah makan aku akan memperkenalkanmu dengan semua orang."


Seperti yang dikatakannya aku diundang untuk turun ke bawah dan melihat seluruh wajah yang asing bagiku, tak hanya diisi wanita pria juga menghiasi semua tempat duduk.


Sayangnya tidak ada gadis yang seusiaku, hampir seluruhnya orang-orang dewasa.


Pria di sana sedang asyik bermain dengan pacarnya, beberapa wanita sedang bermain poker, dan beberapa pria lain sedang sibuk memperbaiki pedang maupun armor.


"Kau pasti gadis kecil itu, namaku Jack."


Jack yang mendekat ke arahku dengan membawa minuman alkohol di tangannya ditinju mundur oleh Linda.


"Kau bau, pastikan tidak menyentuhnya.. namanya Nibela, mulai sekarang dia akan bergabung dengan kita."


"Huh, itu luar biasa."


"Hidup Nibela, cepat besar agar kita bisa minum-minum."


Orang-orang ini menyambutku ramah tanpa memperdulikan perbedaan umurku. Semua orang di sini ada sekitar 20 orang.


Linda melanjutkan.


"Mulai sekarang aku sendiri yang melatihnya jika macam-macam atau menggangunya aku tidak akan diam."

__ADS_1


Semua orang mengangkat gelas minuman di tangannya selagi berteriak semangat.


__ADS_2