
Dua hari setelah insiden penyerangan Priodal Demon, aku pergi luar kota di mana lima penyihir telah menungguku.
Sebelumnya aku meminta gadis loket untuk mengumpulkan penyihir tapi yang bisa aku lihat hanyalah penyihir cupu.
Berbeda dengan Ryker maupun Kizuna, mereka lebih seperti kutu buku.
Singkatnya tiga pria dan dua wanita.
Aku melirik ke arah gadis loket yang sesungguhnya telah menemaniku seharian ini.
"Itu... hanya mereka yang mau menerima pekerjaan sulit ini."
"Arrrrgghh," aku berteriak dalam hati.
"Anu apa kami diterima?" kata salah satu pria berkacamata.
Hampir aura pria ini seperti perempuan.
Kukira mereka akan kasar seperti petualang lainnya.
Biasanya berbicara sesuatu yang anti mainstream.
"Kukira pemimpin kami kuat, ternyata kau lemah? Biar aku menggantikanmu."
"Cih... aku repot-repot datang kemari ternyata hanya berlima."
Atau mungkin.
"Kalian pria hanya mengganggu, menyingkirlah."
Seperti Itulah.
Namun bayanganku jelas berbeda.
__ADS_1
Sekali lagi mereka seperti orang-orang yang taat peraturan yang akan tidur jam 7 malam dan bangun lebih awal dari semua orang untuk berolahraga atau semacamnya.
"Kalau begitu aku serahkan padamu tuan Lion."
Gadis loket melarikan diri.
Mari kita lihat apa mereka bisa berubah jadi sosok yang luar biasa kedepannya yang bisa membunuh Iblis Titan tanpa ragu. Untuk sekarang mari mulai dengan perkenalan.
Pertama adalah pria berkacamata dengan rambut mangkuk.
"Namaku Weis, aku tinggal di desa jauh dari sini dan berharap bisa mendapatkan bayaran lebih."
"Selanjutnya."
"Namaku Ace, salam kenal... aku memiliki keinginan sama dengan Weis, kami tinggal di desa yang sama," yang berkata itu adalah pria berambut merah.
Kenapa nama mereka keren tapi sifatnya malah sebaliknya.
Disusul Edmund, kemudian dua wanita bernama Qiana dan Glory.
"Namaku Lion, seperti apa yang sebelumnya di informasikan pada kalian kita akan bertarung melawan iblis Titan, tinggi mereka bervariasi yang jelas paling tinggi sejauh ini mencapai 80 meter."
Mereka jelas terkejut.
"Apa kami akan bertarung dengan sihir?" kata Edmund malu-malu sementara aku memucat.
Anak ini terlalu lembut dan perasa.
"Tentu saja tidak, kalian akan bertarung sebagai pejuang.. aku akan melatih kalian sekeras mungkin antara hidup dan mati, yang jelas...aku akan mengubah kalian tidak selembek ini."
Aku memberikan mereka masing-masing seragam militer berwarna hitam dan aku juga merubah penampilan mereka.
Qiana memotong rambutnya sebahu, walau sempat memberontak kami berhasil meyakinkannya sementara untuk Glory dia mengikat rambutnya.
__ADS_1
Walau dia ingin berpakaian tertutup aku sengaja memilihkannya yang sedikit memperlihatkan belahan dadanya.
"Ini memalukan."
"Tidak, rambutku yang indah."
Untuk pria tidak ada keluhan kecuali mereka masih penakut seperti biasanya.
Titan tidak akan diam saat mereka menemukan musuh jika mereka seperti ini terus mereka akan mati sangat mudah, aku menciptakan puluhan pohon yang berbentuk seperti Titan dengan ukuran berbeda untuk mereka kalahkan.
"Kelemahan mereka sama seperti manusia namun jika kalian ingin membunuhnya cepat kalian harus memotong leher atau menusuk jantung mereka."
"Itu terlalu berlebihan, kami ini penyihir... tidak bisa bertarung," ucap Weis dan aku menyangkalnya.
"Karena kalian penyihir maka hanya kalian yang bisa bertarung, penyihir memiliki mana yang lebih besar dari job lainnya karena itulah kalian dibutuhkan untuk ini."
"Apa maksudnya?" tanya Qiana dan aku membalasnya dengan santai.
"Sepatu dan dua pedang yang kalian gunakan bukanlah alat biasa. Cobalah untuk mengalirkan mana ke dua benda tersebut."
Ketika mereka melakukannya kedua benda itu bersinar sesuai elemen sihir yang mereka pelajari.
"Pedang kalian akan semakin tajam jika ditambahkan mana dan juga sepatu kalian membuat dorongan untuk membuat kalian melompat lebih jauh."
Mereka mencoba untuk melompat dan selanjutnya kelimanya telah melompat sejauh lebih dari 80 meter di udara.
"Ini luar biasa, aku bisa melihat semuanya dari sini... bahkan aku hanya bisa terbang sekitar 10 meter saja."
"Aku juga."
Ini hanyalah bagian awalnya yang tersulit barulah dimulai.
"Sekarang serang arena pelatihannya."
__ADS_1
"Baik."