Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 271 : Akhir Yang Didapatkan


__ADS_3

Tombak diluncurkan menerjang dengan kecepatan tinggi memaksaku untuk menggunakan sihir teleportasi, kendati demikian tombak itu menghilang dan terus mengejarku.


"Sayang sekali, tombak itu akan terus mengejarmu kemanapun kau pergi."


Benar-benar merepotkan.


Aku melompat saat tombak melesat maju, tombak itu menembus bangunan lalu berputar untuk mengincarku kembali.


Kulesatkan sihir api yang dicampur dengan sihir angin menjadi tombak, ketika tombak itu berbenturan sihirkulah yang kalah hingga ujungnya yang tajam sedikit melukai bahuku.


Jika terkena jantungku aku jelas akan mati.


Aku berlari secara zig-zag, jika tombak ini terus mengincarku aku hanya harus mengarahkannya ke arah Blossom sendiri.


Aku berlari ke arahnya saat tombak terus berusaha mengenaiku, aku muncul di belakang Blossom sehingga saat dia menebas dia hanya mengenai udara.


"Cara seperti ini sudah sering aku lihat," katanya.


"Dengan ini kau hanya bisa membatalkan sihirmu atau mati bersama-sama."


"Masih ada pilihan ketiga yaitu seperti ini."


SRAK.


Pedang yang berada di tangannya bergerak sendiri lalu menusukku bersama dirinya.


"Kau."

__ADS_1


"Selagi jantungku tidak tertusuk itu bukanlah masalah."


Orang ini lebih nekad dari yang kubayangkan.


Tombak yang terarah berhenti lalu jatuh menjadi benda cair. Blossom menarik pedangnya sementara aku terhuyung-huyung ke belakang sebelum menerima tebasannya lain yang mana membuat darah menyembur ke udara.


"Warna darahmu lebih indah dari yang kubayangkan."


"Lion?" Aira maupun Rion memanggilku.


Aku tumbang menatap langit. Walau aku bisa menggunakan sihir dunia tak kusangka itu masih belum cukup bertarung dengan mereka pada akhirnya aku memang harus menggunakan semua yang kumiliki.


"Lion, apa kau akan menggunakan teknik waktu itu?"


"Tidak, aku menggunakan cara berbeda," balasku pada Rion.


"Bukannya itu?"


Tanaman telah mengerumuni sekeliling Blossom, akar-akarnya menembus tubuh dirinya lalu menghisap darah yang berada di dalam tubuhnya.


"Jadi begitu, kau ingin membunuhku dengan cara seperti ini... kau benar-benar kuat."


"Sudah menyerah."


"Tidak, kesenangan selanjutnya baru dimulai."


Tubuh Blossom mulai membesar kemudian secara perlahan tubuhnya sedikit demi sedikit berubah menjadi sosok yang semua orang kenal sebagai kelelawar raksasa, dengan sekali kibasan sayapnya telah menghancurkan seluruh pohon ataupun bangunan di sekelilingnya hingga kini yang kulihat hanyalah area kosong dengan makhluk mengerikan yang terbang ke arahku.

__ADS_1


Kedua mataku berubah menghitam dengan mantel hitam tercipta dari bayangan hitam.


"Matilah," teriak Blossom dan aku pun mengayunkan pedangku.


Keheningan terasa di antara kami berdua, darah kembali menyembur dari tubuhku begitu juga dari Blossom entah aku atau dirinya kami tumbang secara bersamaan.


Aku bisa melihat wujud Blossom yang telah kembali sedia kala, dia bangkit lalu menyeret tubuhnya yang penuh luka.


"Aku tidak mungkin kalah, setelah membalaskan dendamku aku tidak akan mati begitu saja, semua orang juga haru mati.. mereka tidak perlu bahagia."


Jika ada dosa mematikan kecemburuan di dunia ini maka kurasa orang yang pantas memilikinya adalah Blossom.


Dia hanya seperti sebuah katak dalam sumur yang tidak tahu apapun dan hanya mengurung dirinya dengan perasaan seperti itu.


Aku mengulurkan tanganku.


"Inilah akhirnya."


Tanah menyembur dari sekelilingnya dengan bentuk mengerucut yang mana menembus seluruh bagian tubuhnya.


Dia hanya berdiri di sana dengan kematian yang diperolehnya.


"Beristirahatlah dengan tenang," kataku melirik ke arah Blossom yang tersenyum selagi menutup matanya.


Angin sejuk mengibarkan rambutnya dengan indah.


Meski kau diperlakukan buruk oleh orang lain bukan berarti kau harus melakukan hal sama pada semua orang. Kini entah dirinya, orang lain ataupun negaranya telah hancur untuk selamanya.

__ADS_1


__ADS_2