
"Eh, jadi begitu cara kerjanya."
Aku mengarahkan kamera ke ruangan kosong sementara Clarisa mengambil sebuah kotak kubus lalu menekannya, dan dalam sekejap sebuah layar di munculkan dari sana yang menampilkan ruangan kosong yang sedang aku rekam.
Kelebihan dari alat yang kubuat adalah mudah dibawa ke mana saja, yang menjadi kekurangan seluruh acara hanya bisa diputar secara live. Aku memberitahukan pada Clarisa dan ia mengangguk menegaskan.
"Tapi ini lebih dari cukup, bisa dibayangkan para petualanglah yang akan terbantu dengan ini, mereka selalu berada di dungeon di tempat yang sepi dan gelap dengan ini mereka punya sesuatu untuk menghibur mereka," ucap Clarisa.
"Seperti itulah, agar mendapatkan uang dari hasil penjualan televisi ini aku membuatnya hanya bisa bertahan selama tiga bulan, dan mereka harus membelinya kristal kubus ini kembali untuk menyaksikan acara kita."
Aku diam sejenak lalu melanjutkan.
"Kita memerlukan banyak staf untuk membuat acara ini berjalan seharian penuh dan kita juga perlu uang untuk gaji mereka."
"Kau sudah memikirkannya sejauh itu, lalu siapa yang akan bertanggung jawab untuk ini."
"Aku meminta istriku Ricol dan Valentine untuk yang mengelola tempat ini, sebentar lagi mereka akan datang untuk membantu kita audisi pencarian bakatnya."
"Aku mengerti, akan menyenangkan mengelola tempat ini tapi aku lebih suka menunggu penemuan apa lagi yang akan kau ciptakan, sejauh hidupku semua ini mungkin pengetahuan yang tidak akan didapatkan di manapun kau berada."
Aku tersenyum masam.
"Pokoknya mari tentukan apa saja yang kita butuhkan."
Clarisa diam memikirkannya.
__ADS_1
"Benar juga, ruangan penyiaran akan terbagi lima tempat di mana mereka akan siaran dalam waktu bersamaan tapi bagaimana kita bisa memilih Chanel yang kita suka hanya dengan satu kotak kecil ini."
"Yang kau pegang hanya contoh saja, yang sesungguhnya adalah ini."
"Apa?"
Aku mengeluarkan kubus yang berbeda dari apa yang dipegang oleh Clarisa. Itu memiliki satu tombol yang apabila ditekan layar akan segera otomatis berganti.
"Bagus bukan."
"Itu memang bagus."
"Aku membuat variasi warnanya juga untuk pria maco, wanita dan juga anak-anak."
"Untuk pria maco bukannya itu terlalu imut dengan warna merah muda."
"Logika macam apa itu?"
Ricol dan Valentine muncul setelah beberapa saat, mereka mengenakan setelan jas rapih dengan rok ketat mirip pegawai kantoran.
"Suamiku kami sudah datang," Ricol seperti biasa paling bersemangat dari siapapun kemudian disusul Valentine.
"Kami akan melakukan yang terbaik."
"Mohon bantuannya, dan juga Ricol jangan terlalu menempel denganku."
__ADS_1
"Suamiku sangat pemalu."
"Aku juga harus menempel."
"Fufu masa muda penuh gairah meski kalian sudah menikah jangan melakukan adegan dewasa di tempat kerja, itu seperti perusahaan yang tidak beradab kau tahu."
Perkataan Clarisa mampu menghentikan keduanya.
Terkadang dia lembut dan terkadang dia benar-benar kejam.
Audisi bakat telah dibuka dengan antrian cukup panjang, tak hanya elf, ras rubah juga turut ambil bagian dari ini semua.
Kami menguji banyak hal dalam segala aspek sesuai kemampuan mereka, seperti menyanyi, melawak, bakat bicara, memasak dan berbagai hal yang kau bisa temukan di televisi pada umumnya.
"Mereka sangat bagus, kita benar-benar punya banyak tenaga yang berkualitas."
"Aku juga setuju dengan Valentine, apa kita yakin hanya membatasi penayangan ini dari jam 6 sampai 10 malam saja suamiku."
"Kita harus memikirkan orang-orang agar tidak bergadang semalaman, kupikir itu jalan yang bagus untuk membuat batasan."
Clarisa menambahkan.
"Walau pekerja dibagi dua shift kita juga harus memikirkan kesehatan mereka juga, aku setuju dengan ini."
Selanjutnya yang harus kami lakukan adalah memberikan mereka banyak latihan, menyebarkan kubus ini, serta mulai mengudara.
__ADS_1
Semuanya harus dilakukan secara matang.