
Aku memeriksa rute yang akan kami lewati dan menemukan kerajaan Hibel berada di rute yang akan kami lewati.
"Apa tak masalah jika kita melewati kerajaan Hibel."
"Kupikir tidak masalah, lagipula aku selalu berwujud manusia sekarang karena itu tidak akan ada yang mengetahuinya bahwa aku naga tersebut."
"Itu memang benar, untuk sekarang... Harty apa bisa kau ambil peti harta itu, kita akan mengembalikannya ke kerajaan tersebut."
"Dikembalikan, apa kita tidak mengambilnya?" potong Hualing dan aku menggelengkan kepala sebagai balasan.
"Sepertinya perahu mereka diserang bajak laut atau sebagainya karena itu lebih baik memberikannya kembali ke pemiliknya yang asli."
"Kalau diserang bajak laut bukannya harusnya mereka mengambil uang tersebut."
"Koin ini memang terbuat dari emas tapi sayangnya koin ini pasti tidak memiliki nilai tukar di negeri lain.. dan jika mereka menggunakan di kerajaan Hibel mereka pasti akan ketahuan sebagai perompak dan mereka akan ditangkap."
"Jadi begitu, ada kemungkinan uang ini hanya berfungsi di satu kota tertentu."
"Itu hanya dugaanku saja, apa kau menemukan barang berharga lainnya selain koin ini?"
"Tidak, kecuali tulang berulang yang masih mengenakan pakaiannya utuh, aku tidak menemukan apapun lagi."
"Mari bawa tulang berulang itu juga, Harty tolong bawa hartanya dan bantu juga Hualing."
"Oke."
__ADS_1
"Ikuti aku."
Aku mengikuti Hualing yang berenang di depan, sesampainya di lokasi, setiap tulang yang mereka bawa aku langsung memasukannya ke sihir penyimpanan termasuk peti harta karunnya, sesampainya di sana aku akan menjelaskan semuanya.
Paling tidak kurasa ada yang menunggu kepulangan semua kru ini untuk di makamkan di tempat kelahiran mereka.
"Ini yang terakhir Lion."
"Baiklah."
Aku menaikan kembali Hualing ke perahu sementara Harty telah mengambil tempat duduknya yang sebelumnya.
"Dingin sekali."
Sebelum pakaian dalamnya kering Hualing akan seperti itu. Hanya tinggal satu jam lagi untuk sampai ke pulau jadi sebelum itu kuharap dia akan bisa mengenakan pakaiannya lagi.
Melihatnya membuatku sedikit mual.
Aku mengambil pisau lalu mengiris tipis daging ikan pilihanku dengan posisi sedikit miring sehingga semuanya terpotong dengan baik.
Akan enak jika ditambahkan dengan kecap asin, jahe atau wasabi, karena tidak ada syukurlah ada perasan jeruk nipis yang cukup untuk membuang rasa amisnya.
Aku memberikan satu porsi ikan untuk Hualing, satu porsi untukku dan juga untuk Harty.
Walau sedikit dia juga pasti ingin mencobanya.
__ADS_1
"Uwah kenapa ini jauh lebih enak padahal cuma diberi bumbu perasan jeruk saja," teriak Harty dan Hualing juga mengangguk setuju.
"Ini semua tergantung dengan teknik memotong, aku memilih irisan hanya pada daging yang terbaik dan membuang daging yang tidak perlu."
"Aku memakan semuanya jadi aku tidak tahu mana bagian daging yang paling enaknya."
Dia menjawab pertanyaannya sendiri.
"Rasanya aku ingin makan lagi," ucap Hualing tapi sayangnya semua ikan sudah dimakan habis oleh Harty jadi mungkin lain kali saja.
Harty berkata.
"Bukannya aneh Hualing itu ikan tapi makan ikan juga."
"Sudah kubilang jangan menyamakan aku dengan ikan, ras Siren dan ikan itu berbeda."
"Aku tidak tahu bedanya."
"Ikan hiu makan ikan, lumba-lumba juga, bukannya itu juga aneh."
Kurasa itu yang dinamakan ekosistem dimana makhluk kuat memakan makhluk lemah demi bertahan hidup. Dan juga aku ragu menyebut Siren dengan sebutan ikan.
"Yah, bukannya Harty juga makan tokek, tokek juga jenis naga bukan, itu jelas sangat aneh."
"Tokek bukan naga itu jenis berbeda."
__ADS_1
"Aku juga berbeda."
Mereka malah bertengkar tentang hal sepele.