Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 407 : Menerobos Setiap Lantai


__ADS_3

"Ada apa Lion?" pertanyaan itu datang dari Dalius yang tampak heran.


"Bukan apa-apa, hanya saja kupikir kita akan merubah rencana untuk ke depannya."


"Maksudmu?"


"Alih-alih bertarung aku pikir kita akan menerobos maju ke setiap lantai berikutnya."


"Ah itu memang rencana bagus, tapi dengan kondisi sekarang?"


"Kita akan berisitirahat seharian di sini."


Valentine, Livia dan juga Harty mengangguk mengiyakan memberikan persetujuannya, terburu-buru hanya akan berakibat buruk berjalan dengan pelan sesuatu yang dibutuhkan sekarang.


Malam hari aku keluar untuk memeriksa keadaan, di pinggir sungai tampak duduk Farida yang sedang memikirkan sesuatu.


Dia jarang bicara tapi menurut Dalius dia hanya sedikit pemalu.


"Yo, belum tidur."

__ADS_1


"To-topeng."


"Kau tidak terbiasa dengan orang memakai topeng, maaf tapi aku tidak bisa menunjukkan wajahku."


Dia menggelengkan kepalanya lalu memperbolehkanku duduk di sampingnya. Setiap aku bertanya dia hanya akan menjawab dengan gelengan atau anggukan kupikir ini malah menjadi percakapan satu arah.


"Pakaian dalammu pasti berwarna putih," dia mengangguk secara spontan dan menyadari bahwa pertanyaan itu menjebaknya.


"Aa..aaa..aaa."


Cukup lucu melihat bagaimana wajahnya tersipu malu, jika itu istriku mereka dengan senang menunjukannya.


Meskipun aku yakin jawabannya benar menurut sebagian orang pekaian dalam mencerminkan bagaimana kepribadian seseorang meskipun aku juga meragukannya, setelahnya hanya ada sebuah keheningan di antara kami sampai kunang-kunang bermunculan di sekitar kami dan Farida dengan senang mencoba menangkapnya.


Dari siapapun sosoknya yang misterius membuatku berfikir bahwa dia sebenarnya pemilik labirin ini, jika itu memang benar apa tujuannya dia menyamar apa dia ingin menggiring kami ke jebakan yang dia siapkan? Atau mungkin mencoba hal lain.


Hal itu masihlah belum kuketahui tapi saat aku mencurigai orang lain aku juga tidak pernah melewatkan seseorang yang sama sekali tidak kucurigai, sosok itu adalah Dalius.


Dia bersikap ramah kepada setiap orang dan mencoba berbaur dengan orang yang baru dia kenal, besar kemungkinan entah dia atau Farida keduanyalah yang kucurigai sekarang.

__ADS_1


Seiring waktu aku akan menemukan jawabannya.


Seperti rencanaku kami menerobos ke setiap lantai dengan mengabaikan semua monster yang menyerap kami, Harty dan Livia yang memimpin jalan sementara aku dan Valentine di belakang untuk mengatasi serangan dari belakang sementara anggota party Dalius di tengah-tengah mengikuti pergerakan kami.


Harty mengirimkan pukulan besar membuat celah besar diantara kami dan monster sangat jauh, untuk monster yang bisa melompat akan dihabisi oleh Livia.


Setelah kami selesai dengan dua lantai anggota party Dalius yang menggantikannya, Theo dan Siel berada di depan dan sisanya di belakang.


Hal itu terus berlanjut hingga kami sampai di lantai 10, di lantai ini ada batu bintang yang kami cari, menurut Clarisa setiap lantai kelipatan sepuluh batu ini memiliki perbedaan dalam kekuatannya dan inilah yang menjadi dasar dari pembuatan gerbang miliknya.


Batunya sendiri sebesar bukit kecil dengan warna merah muda, tergantung lantainya itu akan berwarna berbeda tapi sejujurnya aku hanya harus mengambil sebesar kepalan tangan saja.


Seekor Hydra muncul di depan batu tersebut untuk menghadang kami. Theo yang bereaksi untuk menahan nafas apinya hingga ia terlempar menabrak dinding.


"Semuanya berpencar dan pastikan menyerang saat pandangannya teralihkan."


"Baik."


Semua orang menyebar seperti apa yang kukatakan. Di paling belakang Farida membuat sihir pelindung serta sihir Buff untuk kami semua.

__ADS_1


Cara yang terbaik untuk mengalahkan Hydra adalah dengan memenggal kepalanya.


__ADS_2