Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 394 : Melawan Solomon Bagian Tiga


__ADS_3

Solomon mendecapkan lidahnya sebelum melesat maju, dia kini menggunakan kekuatan titan yang diinginkannya. Aku menahan pedangnya dan itu menciptakan ledakan tanah luar biasa.


Tubuhku terhempas ke atas kemudian memantul di permukaan tanah beberapa kali sebelum tertahan satu pohon. Kecuali aku tidak ada lagi yang mampu bertarung karena itu mari gunakan seluruh kemampuanku.


Aku menggunakan seluruh sihir dunia yang pernah aku kumpulkan dulu di benua enam wilayah, itu mencakup air, tanah, api, angin, suci, kayu serta sebagai tambahan petir.


Seluruh elemen membentuk dirinya menjadi bola-bola berwarna-warni kemudian mulai berputar mengelilingiku di mana aku tepat berada di tengah-tengahnya.


Solomon menghentakan kakinya begitu juga diriku, kami saling menjual beli serangan tanpa jeda sedikit pun, aku terlempar puluhan meter begitu juga dirinya.


Gak.


Aku memuntahkan darah saat Solomon menginjak tubuhku yang masih terbaring di tanah, setiap bola di dekatku mulai menyerangnya hingga memaksanya mundur, tentu aku tidak akan membiarkannya.


Setelah menutup jarak kutendang wajahnya hingga dia menabrak gunung dan meledak bersamaan kumpulan materialnya.


"Luar biasa, apa ini kekuatan Lion sesungguhnya."


"Aku tidak ingin mengakuinya tapi dia memang hebat."


Solomon menghempaskan seluruh apapun yang menimpanya sebelum ia terbang melesat padaku dengan sayap di punggungnya, dari awal Solomon adalah iblis sudah jelas dia bisa melakukannya.

__ADS_1


Dia menyeret pedangnya di tanah mengirimnya dari bawah ke atas, pedangnya menyelinap melewati perutku dan ketika aku menahannya tubuhku terlempar ke langit, saking tingginya Solomon terlihat kecil dari sini.


Dia memunculkan kegelapan di seluruh tubuhnya yang mana tersalurkan pada pedangnya, aku pun melakukan hal sama dengan memasukan seluruh elemen bola ke dalam pedangku.


Tak lupa aku juga merubah kedua mataku dengan pola bintang.


"SOLOMON."


"LION."


Kami memanggil nama kami masing-masing sebelum melesatkan serangan hebat dari ujung pedang kami, kedua serangan itu tertahan di tengah-tengah lalu meledak dahsyat, akibat ledakan tersebut mampu menciptakan getaran di udara maupun di permukaan tanah kemudian terdistorsikan menjadi gelombang yang menghempaskan seluruh apapun ke segala arah.


Pepohonan mulai tercabut dari akarnya dan terbang ke udara bersamaan kilatan petir yang menyambar tanpa henti.


"Meski begitu."


SRAK.


Satu tanganku terpotong dengan hanya sebuah tatapan saja, jika aku tidak bereaksi jelas leherku barusan akan terpenggal, aku pun memotong tangan Solomon yang memegang pedangnya dan bersiap mengakhiri segalanya.


Sebelum aku tahu, seseorang telah menekan belakang kepalaku lalu menghilang untuk muncul jauh di depan Solomon.

__ADS_1


Seseorang yang melakukannya adalah elf loli yang kukenal.


"Clarisa Marie, apa-apaan barusan?"


"Aku baru saja menyelematkanmu, jika kau terus melanjutkan serangan barusan kau akan mati Lion."


Aku jelas tidak bisa mencerna perkataannya, sudah jelas aku barusan akan menang. Seolah mampu membaca pikiranku Clarisa menjelaskan.


"Perhatikan mata Solomon."


Aku mengikuti apa yang dikatakannya dan terlihat bahwa mata kirinya kini telah kehilangan cahayanya.


"Barusan adalah sihir terlarang di mana memotong apapun hanya dengan sebuah tatapan, meskipun dia abadi atau tubuhnya kuat, setelah terpotong anggota tubuhnya tidak akan bisa disatukan kembali... tentu resikonya adalah dia akan kehilangan penglihatannya tapi kurasa Solomon tidak ragu untuk melakukannya."


Aku seketika merasakan rasa sakit dari tangan kiriku yang terpotong, tetes demi tetes darah itu mulai berjatuhan ke permukaan tanah, aku memang bisa menghentikan darahnya namun tanganku tidak bisa kembali menyatu.


Sementara tangan Solomon telah kembali pada tempatnya.


"Aku akan cacat selama hidupku."


"Tidak juga, mungkin Rion atau Aira memiliki penyelesaian untuk itu."

__ADS_1


Aku ingin tahu seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seorang bernama Clarisa Marie.


__ADS_2