
Kami hanya mengisi pagi ini dengan obrolan ringan sampai seorang berlari ke arah kami semua. Roxy orang yang lebih dulu menghampirinya.
"Kau baik-baik saja?"
"Kota diserang monster jumlahnya terlalu banyak untuk dihadapi kami, kalian penjaga cepat bantu kami."
Yang bicara itu adalah pria yang merupakan teman pria arogan.
Karl hendak berbicara namun Roxy segera menghentikannya, dia pasti ingin mengatakan bahwa semua itu tanggung jawabnya. Namun dari kami semua sama sekali tidak ada yang menyalahkannya. Bagaimanpun lambat laun seluruh kota ataupun desa akan diserang juga.
"Penjelajahan Hutan Iblis akan diundur lebih dulu, semuanya naik ke atas kuda dan kita akan pergi ke kota."
"Baik."
Semua orang menjawab secara serempak, tidak ada gunanya menjaga benteng jika monsternya sendiri sudah masuk ke dalam kota.
Karenanya kami mengikuti perintah Roxy.
Aku menunggangi kuda putih bersama Harty di depan, Rion dalam bentuk pedangnya di pinggangku sementara Valentine terbang dengan payungnya.
Amarzuki diam-diam mendekatkan kudanya di sampingku selagi berbisik-bisik.
"Petualang itu membuatku kesal, saat kita membutuhkan bantuan mereka, mereka tidak mau membantu, giliran mereka dalam kesusahan mereka malah meminta bantuan pada kita."
"Wakil ketua," suara Roxy memperingati.
"Aku hanya asal bicara, maafkan aku."
__ADS_1
Amarzuki menjauh dariku selagi menutup sebelah matanya.
Aku hanya bisa tersenyum masam ke arahnya.
Sesampainya di kota Roxy mengangkat pedangnya selagi berteriak.
"Semuanya menyebar dan habisi mereka."
"Hooi."
Aku bisa melihat pria arogan itu membantai para goblin yang menyerang. Aku turun dari kuda bersama Harty untuk bertarung secara langsung.
"Saatnya untuk menghajar mereka."
Harty berlari setelah mengatakan itu sedangkan aku menarik pedangku untuk menebas para goblin yang mendekat bersama Roxy di sebelahku.
Seekor goblin berlari ke arahku saat hendak akan kutebas dia lebih dulu tumbang dengan anak panah menembus kepalanya.
"Ini bukan kompetisi," kataku pada Karl yang dengan gagah memanah dari kudanya.
"Dia memang seperti itu jadi jangan dihiraukan," ucap Roxy menebas goblin yang melompat padanya.
"Aku tidak keberatan dengan dia seperti itu maka aku tidak perlu berkerja keras sementara bayaranku masih tetap sama."
"Haha kurasa begitu."
Aku memenggal tiga goblin sekaligus sebelum berlari untuk menyelamatkan para petualang yang kewalahan.
__ADS_1
"Bagi yang terluka kalian semua mundur, sisanya serahkan pada kami."
"Kau hanya level satu kau tidak berhak memerintah kami."
Orang-orang ini masih saja memiliki kesombongan saat seperti ini.
Sepuluh goblin melompat ke arah kami dengan sekali tebasanku tubuh mereka terpotong-potong hingga darah memuncrat ke arah wajah para petualang.
"Cepat pergi."
"Baik."
Akhirnya mereka mau menurut juga. Aku mengalihkan pandanganku ke arah rekanku, Harty memukul wajah satu goblin untuk mengirimnya terbang ke udara, goblin itu membentur dinding membuat tubuhnya bercerai-berai.
Di sisi lain Valentine melayang di udara lalu menjerat musuhnya dengan bunga mawar.
Amarzuki berkata ke arahku selagi memegang kepala goblin yang dipenggalnya.
"Anggota partymu sangat hebat, jika ada mereka semuanya terasa mudah."
Aku berfikir sampai kapan dia berhenti memuji anggota partyku dan juga buang cepat kepala itu.
Di antara kumpulan goblin ini ada goblin yang lebih besar berada di belakang, dia membawa golok raksasa dengan mahkota di belakangnya.
"Bukannya itu goblin king?"
"Apa mungkin jika kita mengalahkannya maka faktor bencana akan berhenti."
__ADS_1
"Tidak, biasanya raja yang ditunjuk oleh hutan iblis tidak akan keluar dari wilayah tersebut, walau kita mengalahkannya faktor bencana tidak akan menghilang."
Mau tidak mau pada akhirnya kami harus pergi ke hutan iblis untuk menyelesaikan semuanya.