
Aku dibawa ke sebuah rumah bergaya tradisional di mana halamannya sangat luas serta pintunya harus digeser sebelum masuk.
"Di sini kamarmu, di lemari ada futon dan untuk makan para pelayan akan menyiapkannya."
Aku berseiza lalu membungkuk sedikit padanya.
"Terima kasih atas kebaikan hati nona Wisteria."
Dia berdeham sekali lalu melanjutkan.
"Ini permintaan kaisar jadi aku tidak bisa mengeluh lagi, para pelayan akan membawakan pakaian ganti karena itu tunggu saja."
"Dimengerti," jawabku singkat.
Kemewahan ini sangatlah nyaman.
Setiap pelayan di sini mengenakan kimono biru polos dengan rambut hitam sanggul, mereka dengan senang mendandaniku saat aku berganti pakaian serta menyisir rambutku agar terurai rapih.
Saat aku melihat pantulanku di cermin aku sangat terkejut bahwa aku sangatlah cantik, rambutku sedikit dibuat bergelombang sampai pinggul.
Untuk pakaiannya aku mengenakan kimono merah muda dengan obi berwarna biru serta haori berwarna serupa.
"Apa kau sudah selesai? Aku akan mengajakmu berjalan-jalan, ikutlah," ucap Wisteria muncul di depan pintu terbuka.
"Dengan senang hati aku menerima tawarannya tuan putri."
"Aku bukan tuan putri panggil saja Wisteria."
__ADS_1
Dengan gaya hidup seperti ini aku ragu untuk menyebut namanya tapi akan kucoba sebaik mungkin. Aku diajak untuk berkeliling di sekitar perkarangan, di dalam rumah ini tidak ada pria jadi hanya aku saja satu-satunya yang berada di sini atau sejujurnya aku masih menyamar menjadi wanita.
Aku melihat beberapa kolam yang diisi ikan koi berwarna-warni, karena langit di dunia bawah berwarna oranye jadi itu sedikit kurang nyaman melihatnya secara keseluruhan.
Wisteria berjongkok di dekat kolam selagi menyentuhkan tangannya ke permukaan air, para ikan lalu mendekatinya seolah sedang menghibur orang yang sedang sedih.
Paling tidak itulah yang kulihat.
Meski rumah ini besar kurasa hanya Wisteria saja yang tinggal di dalamnya itu pun jika mengabaikan sosok para pelayan.
Gadis ini mungkin terlihat baik-baik saja namun sebenarnya dia lebih kesepian dari siapapun, aku bisa melihat punggungnya yang begitu rapuh dan kosong.
Suara Wisteria mengagetkanku.
"Ada apa? Apa kau sedang memikirkan hal aneh-aneh tentangku?"
Dia malah menatapku dengan curiga.
"Apa? Apa aku tidak boleh memuji seseorang."
"Terima kasih atas pujiannya," balasnya datar.
"Benar-benar tanpa hati."
Aku mengikuti Wisteria untuk berjongkok, dan saat aku menirunya para ikan juga turut berdatangan, aku bisa menyentuh kulit licin mereka sampai salah satunya menggigit jariku.
"Uwah."
__ADS_1
Aku bangkit dengan ikan menggantung di sana.
"Mungkinkah ikan ini pemakan manusia."
"Mana mungkin...mereka vegetarian, mereka mungkin tidak senang disentuh olehmu."
"Apa kau suka menghabiskan waktu di sini?"
"Begitulah, tempat ini adalah tempat paling disukai ibuku.. dia selalu pergi ke sini untuk melihat mereka."
Kupikir karena dia selalu mengenakan haori bermotif kupu-kupu ia akan memelihara kupu-kupu ternyata aku salah.
"Apa di sana itu makam orang tuamu?" aku mengalihkan pandangan jauh ke arah tempat lain dan Wisteria mengangguk mengiyakan sebelum dia berjalan ke arah sana.
Dia meletakkan bunga di atas makam keduanya selagi berdoa.
"Menurutmu setelah iblis meninggal kemanakah mereka pergi?"
"Aku tidak tahu... definisi iblis di duniaku dan dunia ini sangatlah berbeda, tapi aku yakin seseorang selalu menerima balasan dengan apa yang mereka perbuat semasa hidup mereka."
"Perkataanmu terlalu dalam, keduanya telah meninggal saat aku masih kecil... aku pernah menanyakan satu hal pada mereka, apakah suatu hari langit akan terlihat indah pada siang hari."
"Dan jawaban mereka?"
"Itu mungkin saja."
Aku maupun Wisteria hanya bisa terdiam selagi menatap langit tersebut.
__ADS_1