Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 294 : Bunga Iblis


__ADS_3

Mengabaikan setiap bunga yang kami lalui, aku melihat beberapa rombongan dari ras iblis telah berada di depan kami.


Rin menghentikan tanganku dan bilang untuk menunggu mereka lebih dulu keluar dari padang rumput ini.


Aku ingin tahu kenapa alasannya? Setelah menunggu beberapa saat aku melihat bahwa mereka telah mencabut bunga tersebut lalu memasukannya ke dalam tas, bersamaan itu suara teriakan mirip suara nyanyian neraka terdengar.


Sulit untuk menggambarkannya kendati demikian suaranya begitu mengerikan serta yang mendengarnya akan kesakitan.


Meski aku dan Rin berada sangat jauh kami bisa mendengarnya samar-samar, orang-orang itu menutup telinga mereka yang berdarah dan di saat yang sama pula bunga-bunga yang sebelumnya tertancap di tanah mulai melompat ke udara menyerang tubuh mereka dari segala arah kemudian mengoyak daging mereka tanpa ampun, hanya dalam hitungan detik tubuh mereka lenyap bahkan tulang tengkoraknya tak tersisa lagi.


"Tolong... tolong... to.."


Satu tangan tampak terarah ke arah kami sayangnya kami tidak bisa berbuat banyak.


Itu merupakan cara kematian yang mengerikan.


"Orang-orang bodoh itu?"


"Kenapa mereka nekad untuk mengambilnya?" tanyaku.


"Bunga ini cukup berharga jika dijual aku yakin mereka datang dari jauh tanpa tahu benda seperti apa yang mereka petik."


"Bukannya berarti bunga ini bisa dipetik?"


"Ada caranya tapi itu memerlukan obat bius dengan jumlah besar, karena biayanya lebih mahal dibandingkan bunganya sendiri jadi orang-orang mulai berhenti memetiknya."


"Jadi begitu."


"Untuk sekarang mari keluar dari sini."

__ADS_1


Aku mengangguk mengiyakan.


Kami sampai di sebuah kota yang sedikit lebih maju dari desa yang kukunjungi, orang-orang masih menggunakan kimono seperti sebelumnya.


"Ara, penginapanku kedatangan dua wanita cantik," seorang wanita berkimono hitam menyambut kami di meja resepsionis.


"Kami perlu satu kamar."


"Itu sekitar 2000 barel untuk dua hari termasuk tiga kali makan serta pemandian air panas."


"Tentu."


Rin meletakkan kantong uang yang diambil dari dadanya.


Barel terbuat dari tembaga di mana ukurannya sendiri sama dengan koin hanya saja di bagian tengah terdapat lubang kecil seolah telihat seperti uang kuno pada zaman dahulu.


"Kami mengerti.


Aku maupun Rin naik ke lantai dua dan di sana kamar kami telah siap untuk dimasuki, ada dua ranjang yang bisa digunakan serta lemari yang tidak ada apapun di dalamnya selain gantungan baju saja.


Aku membawa pakaian ganti sayangnya itu untuk digunakan pria. Rin juga mengalami hal sulit sepertiku, mau bagaimana lagi kereta kami telah dihancurkan dan semua perbekalan telah hangus terbakar bahkan uang yang kami miliki telah habis.


"Kurasa kita harus mencari pekerjaan di sini," atas pernyataanku Rin hanya mengangguk mengiyakan, untuk sekarang kami hanya akan mandi dan mengenakan pakaian ini lagi.


Aku duduk di kursi sementara Rin menggosok punggungku.


"Kenapa kau malu-malu, sini aku bersihkan bagian depanmu?"


"Jangan aku bisa melakukannya sendiri."

__ADS_1


"Tak apa, kita sama-sama wanita bukan."


Aku tidak berani bilang bahwa aku seorang pria di dalamnya, yang bisa kulakukan hanya mencoba berusaha untuk tidak ketahuan.


"Sekarang giliranku, tolong bersihkan punggungku juga."


Tamat sudah.


Aku tidak mau menyentuh bagian itu..


"Kenapa berhenti cepat lakukan."


Aku menyentuh bagian dadanya lalu sedikit memijatnya dengan spon dan busa, ketika itu tertekan maka tanganku bisa merasakan kelembutan yang sulit dilupakan.


Tingkat keelastisan di mana akan membalasmu sesuai gaya yang kau berikan padanya. Ini mungkin bisa disebut hukum fisika juga.


Aku akan dibunuh.


Aku akan dibunuh.


Pasti dibunuh.


"Bagian bawahnya?"


"Maaf Rin, tolong lakukan sendiri."


"Baiklah kalau begitu.."


Sampai matipun aku tidak akan memberitahukannya bahwa aku pria.

__ADS_1


__ADS_2