Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 404 : Anggota Tambahan


__ADS_3

Kami menemukan jejak Harty yang masuk ke dalam gua kecil, ada aroma daging bakar dari dalam sana jadi tidak heran jika dia datang kemari.


"Yo, Kalian juga datang ke sini," diluar dugaan orang yang bersembunyi di sini adalah kelompok Dalius yang tempo hari bertemu dengan kami di guild.


"Sepertinya Harty telah membuat masalah di sini, aku minta maaf."


"Santai saja, kami punya banyak daging."


"Meski begitu aku akan menggantinya dengan daging kami."


Harty bisa makan daging untuk jatah sepuluh orang atau lebih, rasanya tidak enak jika bekal mereka habis karenanya.


"Daging ini enak Lion, cepatlah duduk dan coba juga."


Kepribadiannya sangat buruk.


Aku hanya menghela nafas panjang dan akhirnya kami makan bersama. Aku menceritakan bagaimana kami berasal dari Elfdian serta berencana pergi ke ujung dari labirin ini.


Itu membuat mereka terkejut.


Orang yang selalu terlihat serius Siel berkata.


"Jadi benar, ada rumor bahwa benua iblis telah kembali pulih."


"Kalian bisa melihatnya sendiri nanti," kataku demikian.


"Kau bilang kalian ingin ke lantai terakhir, apa yang sebenarnya kalian cari?" tanya Dalius.


"Kami ingin mengambil setiap batu bintang."

__ADS_1


"Batu itukah, tidak banyak orang yang sampai lantai 10 tapi kurasa kalian pasti bisa mencapainya."


Aku hanya tertawa ragu, kami juga belum bisa memastikan hal itu.


"Bagaimana dengan kalian?"


"Kami hanya sampai lantai ini dan kembali setelah mengumpulkan buah-buahan dari sini, di luar harga mereka cukup tinggi loh."


"Heh begitu."


Di dunia ini uang dapat didapatkan dengan berbagai cara, ketika aku berfikir bahwa kami seharusnya melanjutkan perjalanan, Dalius berkata.


"Itu ide awalnya tapi kurasa aku berubah pikiran, Siel, Farida dan Theo bisa kembali ke kota sedangkan aku ingin bergabung dengan ekspedisi kalian, bisakah aku bergabung saat menjelajah labirin ini saja."


"Oi, oi, Dalius.... tempat ini sangat berbahaya, kau bisa terbunuh," potong Theo namun Siel mempunyai pikiran yang sama dengan ketuanya.


"Aku juga akan ikut, aku juga sedikit penasaran dengan apa yang ada di puncak labirin ini."


"Kalian berdua, bagaimana jika kalian mati?"


"Itu resiko petualang," balasnya secara serempak.


Mereka ini seenaknya saja.


Sementara Farida tampak kebingungan dan terus mengangguk-anggukan kepalanya, kupikir dia juga ingin ikut.


"Tolong lah bawa kami juga."


"Jika kalian sejauh itu, apa boleh buat tapi jelas menjelajahi labirin ini sangat berbahaya."

__ADS_1


"Tidak masalah kami menerima resikonya sendiri."


Theo akhirnya menyerah dan memilih untuk ikut, dia tidak ingin menjadi seorang yang ditinggal sendirian.


Livia, Valentine dan juga Harty yang sedang makan pun tidak keberatan, dengan ini anggota kami bertambah empat orang.


Siang harinya kami berniat turun ke lantai tiga, beberapa pohon di lantai dua ternyata ada yang hidup dan menjerat siapapun yang mendekat.


Para wanita mati-matian untuk menekan rok mereka agar tidak terlihat sementara aku, Theo dan Dalius bergantian mengalahkan sumbernya.


Aku dan Dalius menggunakan sihir api sementara Theo memblokir serangan apapun yang mengarah pada kami berdua.


"Fire Bolt."


Itu adalah pohon terakhir yang berhasil kami kalahkan.


"Kenapa selalu wanita yang mendapat pelecehan seperti ini," protes Siel dan Farida mengangguk berulang kali.


Dalius yang menjawabnya.


"Mau bagaimana lagi, tidak ada orang yang mau melihat pria tergantung dan dilecehkan bukan."


Itu adalah perkataan yang bijaksana sayangnya anggota partynya malah menghajarnya.


"Sakit, sakit, Theo selamatkan aku."


"Kau menerima apa yang kau tabur."


"Syukurlah aku mengenakan celana berbulu wol."

__ADS_1


"Jangan memamerkannya," kataku pada Harty.


Entah kenapa kami punya kelompok yang menyenangkan di sini.


__ADS_2