
Pagi berikutnya Hime yang bersama Ringbel mengetuk kamarku.
"Lion, kau sudah bangun."
"Ada apa? Hari ini aku ingin tidur lebih lama."
"Bukan waktunya bersantai Yukisa, Ernos dan juga Erna belum kembali sejak malam."
"Mereka."
Aku membuka pintu lalu bertanya kembali.
"Bagaimana dengan Wisteria?"
"Ia sudah mencari keberadaan mereka di kota bersama para pasukan."
"Aku juga akan pergi mencarinya."
Aku mengenakan topengku lalu melompat dari rumah ke rumah dengan gerakan cepat, aku pikir karena Yukisa adalah pasukan elit dia tidak mungkin mudah dikalahkan tapi aku ceroboh.
Dia mencoba membantu Ernos dan Erna untuk menangkap para bandit dan sebagian anggota bandit telah menyusup ke ibukota, karena itulah mereka bergerak tanpa pikir panjang.
Wisteria tiba-tiba muncul di dekatku dengan kumpulan kupu-kupu berterbangan di sekelilingnya.
"Lion."
"Bagaimana?"
"Aku tidak bisa menemukan mereka."
"Jangan khawatir aku tahu mereka pergi ke mana tapi sebelum itu kita harus mencari seseorang di sini."
__ADS_1
"Seseorang?"
"Itu dia."
Kami melompat tepat di depan seorang pria yang berjalan sendirian di jalanan utama, dia sedikit memekik sebelum memasang sarung tinju di lengannya, benar... dia adalah orang yang sama saat aku mengetesnya di ujian pasukan elit.
"Kenapa dia langsung memasang sikap menyerang?" tanya Wisteria kebingungan.
"Dia adalah salah satu pemimpin para bandit yang menyerang keluarga dari kedua iblis bersaudara itu."
"Apa?"
"Cih... ketahuan kah, harusnya aku melarang anggotaku untuk pergi ke rumah Succubus."
Begitulah kenapa informasinya bocor.
Wisteria segera menarik pedangnya untuk memberikan tekanan militer.
Dia melirik ke arahku setelah mengabaikan perkataan Wisteria.
"Saat di ujian aku belum serius, sekarang aku benar-benar akan mengalahkanmu. Jika kau tidak menghalangiku sekarang kami akan jauh lebih mudah mengambil kekaisaran."
"Dasar kau," teriak Wisteria melesat maju.
Tebasannya bertubrukan dengan sarung tinju musuhnya.
"Apa segini kekuatan pasukan elit, lebih kuat lagi."
Memang benar dia cukup kuat dari sebelumnya namun sayangnya Wisteria bukan lawan yang cocok untuknya. Pria itu hendak memukul bagian wajah Wisteria sebelum menghantamnya itu berubah jadi sebuah kupu-kupu.
"Teknik pertukaran tubuh," katanya.
__ADS_1
Wisteria ada di belakang pria itu lalu menebaskan pedangnya hingga membuat bahunya terluka sebelum dia melompat menjauh.
"Lengah sedikit, kepalaku jelas akan melayang."
"Di mana kau menculik Yukisa dan yang lainnya?"
"Ah, maksudmu wanita itu... dia seenaknya menyerang kami jadi kami menangkapnya dan akan kami jual ke pedagang budak."
Bahkan di dunia bawah ada hal seperti ini.
"Akan kubunuh kau?"
Aku menyela.
"Jangan khawatir Wisteria, sudah kukatakan aku sudah tahu tempatnya... kita hanya harus menyelamatkan mereka."
"Sialan."
Pria itu melemparkan bola ke arah Wisteria, ketika itu ditebas itu menciptakan asap putih yang berfungsi untuk menutupi penglihatan.
Saat asap itu menghilang tubuh Wisteria terduduk lemas.
"Haha itu racun yang mampu melumpuhkan siapapun, beginilah kami menangkap ketiganya."
Aku hendak maju dan sama seperti Wisteria dia melemparkan bola tersebut padaku, meski tidak menebasnya bola itu akan meledak saat dilemparkan.
"Meski aku tidak mengeluarkan kekuatanku, aku bisa menang mudah... aku memang jenius, dengan ini kekuasaan negara ini akan kami miliki."
Tepat saat dia menyelesaikan perkataannya aku melangkah maju dengan cepat, meninju wajahnya hingga dia terbang menabrak dinding bangunan.
"Sayang sekali tapi aku kebal dengan racun," kataku demikian.
__ADS_1