Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 442 : Lokasi Pertama


__ADS_3

Pada akhirnya aku hanya melihat kepergian pasukan Veronica dari tempatku berdiri sementara kelompok kami akan pergi ke tempat lain.


Menyusuri padang rumput landai sebuah kota telah menyambut kami di depan, para penjaga memberikan hormat pada Varlia tak hanya sebagai petualang tingkat atas dia juga seorang tuan putri, itulah alasan kenapa saat kompetisi petualang di kota sebelumnya panitia tidak bisa menghalanginya. Kami berjalan masuk sebelum anggota party lain muncul dari belakangku, dia terdiri dari dua pria dan dua wanita biasa.


"Haha tuan putri kah, lama tak bertemu.. sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu."


Seorang pria berkata itu dengan nada merendahkan.


"Kalian?"


Pria itu tersenyum sebagai balasan, dia memiliki riasan tebal yang mirip digunakan oleh para badut yang kurang hanya pakaian serta hidung merahnya.


"Apa yang membawamu datang kemari?" tanya Varlia.


"Kota ini terancam diincar karena sudah sepantasnya kami datang juga... jangan khawatir kami tidak datang untuk menangkapmu, kau hanya makanan pahlawan untuk terakhir, lagipula kurasa sekarang dia sedang bersenang-senang dengan banyak wanita."


"Kenapa kau tidak datang ke kota sebelumnya?"


Pria dan rekannya tertawa.


"Kami sibuk berpesta di istana, kami datang kemari hanya sedikit bosan."


Orang ini sampah.


Varlia hendak melangkah maju namun Mamia lebih dulu menghentikannya.


"Yah, selamat bersenang-senang selagi kalian bisa hidup santai di sini."

__ADS_1


Mereka pergi begitu saja, Estelle berkata dengan tatapan penuh emosi.


"Aku ingin membunuhnya."


Itu niat membunuh yang bagus tapi tidak sekuat dosa mematikan yang kumiliki, saat aku mengeluarkannya mereka semua mematung.


"Jika kau berbuat masalah lagi dengan kami jangan berharap untuk melihat hari esok."


Kaki mereka gemetaran dan selanjutnya terduduk lemas di lantai. Hal itu juga berdampak sama untuk anggota partyku.


Setelah kami menjauh mereka menarik nafas lega.


"Tolong Lion jangan mengeluarkan hawa membunuh seperti itu, aku takut... aku hampir mengompol," protes Mamia yang mendapatkan anggukan keduanya.


"Aku hanya mencoba memberi intimidasi," balasku ringan.


"Kamu lebih terasa mencoba untuk membunuh metal kami."


Kami menyusuri jalanan utama, kota ini memiliki sebuah ikon menara jam raksasa di tengahnya, itu tidak sehebat Labirin Besar namun tetap saja itu mengagumkan.


Orang-orang berkerumun di sekitarnya, ada yang hanya duduk memandangi pemandangan, ada yang berjalan dengan keluarganya ataupun dengan pasangannya, ada juga yang memainkan berbagai hiburan di jalanan.


"Jadi apa, Awawa... Awawa.. keluar burung."


Pesulap itu cukup familiar, mungkin cuma perasaanku saja.


Dan yang paling digemari adalah nyanyian khas yang ada di kota ini, sayangnya kenapa semua penghiburnya orang tua. Kami hendak berjalan sebelum seorang pria tua menawari kami secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa kalian mau aku lukis?"


Aku tidak tertarik dengan itu namun sepertinya para gadis memiliki perasaan berbeda, aku duduk di kursi sementara ketiganya mengelilingiku dengan pose nakal.


Dari balik topengku aku sedikit gemetaran.


"Anu tuan, bisa topeng anda di lepas... itu akan jauh lebih pas saat saya menggambarnya."


"Apa boleh buat."


Aku melakukan apa yang dia katakan dan tiba-tiba pelukis itu menangis.


"Sungguh luar biasa, aku memiliki model yang sangat hebat, ini pasti akan menjadi karya terhebatku."


"Tolong cepat diselesaikan."


Orang-orang mulai mengerumuniku atau tepatnya sangat tertarik dengan wajahku. Estelle, Mamia dan Varlia semakin erat.


"Rasanya di sini semakin panas," kataku demikian.


Saat lukisan selesai aku dikejar-kejar gerombolan wanita.


"Tunggu sebentar, tolong lukis juga denganku."


"Aku mohon."


"Tidak."

__ADS_1


"Tolong hamili aku."


Dari awal seharusnya aku tahu akan jadi seperti ini.


__ADS_2