Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 238 : Rencana Tersembunyi


__ADS_3

"Rion, apa mereka bisa dihidupkan lagi?"


"Maaf Lion, tapi saat di pemukiman Dark Elf itu merupakan pengecualian."


Aku sudah menduganya, jika menghidupkan orang yang mati tidak bisa seenaknya saja.


Pria di depanku tertawa.


"Apa kehilangan temanmu membuatmu jadi gila, kalau begitu izinkan aku Miguel membunuhmu juga."


"Apa kau dari kerajaan Borman?"


"Kerajaan Borman, apa kau tidak tahu? Kerajaan itu telah sepenuhnya dikuasai oleh kekaisaran begitu juga kerajaan lain, sekarang hanya kerajaan ini saja yang masih tersisa."


"Kerajaan ortodoks suci juga."


"Tepat sekali."


Aku mempererat genggamanku.


Solomon membuat kekaisaran lalu membuat umat manusia bertarung satu sama lain. Dalam waktu singkat dia telah melangkah sangat jauh.


Aku pernah dengar bahwa ada kekaisaran di belahan lain benua manusia, tak kukira dia menggunakan mereka sebagai alat, terlebih kaisar di sana cenderung berambisi tinggi untuk menguasai wilayah.


Seluruh sabit yang terbang di langit mulai mendekat ke arah Miguel kemudian meluncur ke arahku secara serempak.


Kugunakan sihir tanah untuk membuat dinding demi menahannya.


Di saat yang sama aku menggunakan sihir teleportasiku untuk muncul di belakang Miguel.

__ADS_1


Dia yang menyadarinya mengambil sabit miliknya untuk menahan seranganku dari atas.


"Tidak menarik, kau sama sekali tidak hilang kendali karena kemarahan, apa rekanmu sama sekali tidak berharga."


Aku menambahkan berat tubuhku hingga Miguel harus melepaskan pertahanannya lalu melompat ke belakang untuk berdiri di atas sabit miliknya.


Sabit yang sebelumnya tertahan di dalam tanah kembali bermunculan dan secara bergiliran menyerangku.


Aku menangkis mereka hingga terpental ke segala arah, satu sabit kutarik dengan genggamanku dan kucoba untuk mengendalikannya dengan aliran mana milikku, sayangnya itu tidak berhasil dan malah balik menyerangku.


Bunyi dentingan terdengar saat aku membelah sabit itu menjadi dua bagian.


"Lupakan saja, semua sabit ini memiliki pemikirannya sendiri dan hanya setia padaku."


Jadi begitu.


"Kau bilang kenapa meski aku kehilangan rekanku, aku masih bisa mengendalikan diri."


"Bukannya mereka tidak berharga?"


"Tidak, lebih tepatnya karena sangat berharga aku harus mengalahkanmu bagaimana pun caranya.. aku tidak ingin emosiku malah membuatku kalah di sini."


Mendengar jawabanku Miguel tertawa selagi menutupi wajahnya lalu turun dari sabitnya.


"Bodoh sekali, yah... tak masalah aku juga akan membunuhmu bahkan temanmu yang lari itu."


Aku melangkah maju, menggunakan skill dosa mematikan kemarahan, seluruh sabit yang menyerangku hanya bisa memantul setelah mengenai tubuhku.


"Bagaimana bisa?"

__ADS_1


Kulanjutkan dengan dosa mematikan kerakusan di mana dosa ini membuatku bisa mengambil status seseorang.


Jika tebakanku benar Miguel pasti memiliki status pertahanan tinggi karena itulah dia menggunakan sabit sebagai alat menyerang miliknya. Maka dari itu aku akan mengambil statusnya.


"Jangan pikir aku akan kalah."


Dia menggunakan sihir yang membuat orang tidak bisa bergerak dalam beberapa detik, inilah kemampuan yang dia gunakan untuk membunuh rekanku sayangnya dosa mematikan ketamakkan bisa membuatku menghilangkan satu sihir musuh.


Ketika Miguel kebingungan aku menebas tubuhnya secara menyilang hingga darah menyembur dari sekujur tubuhnya.


Di momen dia jatuh para sabit bergerak lebih agresif untuk membunuhku namun kugunakan sihir api dengan peningkatan kekuatan maksimal hingga seluruh sabit itu mencair.


Aku menginjak tubuh Miguel yang telah mencapai batasnya.


Karena dia menggunakan sabit aku tidak bisa merasakan bahaya, karena itulah Weis, Ace, Edmund dan Qiana terbunuh.


Bahkan jika aku membunuhnya mereka tidak akan pernah hidup lagi.


"Hahaha."


Aku menusuk ujung pedang ke tangannya.


"Apa yang kau tertawakan?"


"Meski kau menang dalam pertarungan tapi kau kalah dalam perang, kami sudah mengetahui pergerakanmu dari awal karena itu saat kalian disibukan di sini kami telah mengirim seluruh gerbang Solomon ke kota petualang Gordan, aku yakin semuanya sudah terlambat."


"Kalian?"


Aku menarik pedang lalu menebas lehernya sebelum akhirnya bergegas pergi setelah memastikan Miguel tewas.

__ADS_1


__ADS_2