
Sudut pandang Lion.
"Ah, ah, haaa.. nnn... jangan Lion, tidak jangan di sana, hentikan.. aku tidak tahan lagi, aaah.. tidaaak, Liooonn 🖤.. Chu."
Dasar dewi syaraf.
Aku sedang ada misi mengintai dia malah melakukan hal aneh-aneh di dekatku.
"Aku basah Lion."
"Bersihkan sendiri, aku sedang sibuk."
Tentu saja itu hanya suara yang dibuat-buat olehnya dalam upaya menjerumuskanku ke jalan kesesatan.
Dia mengembungkan pipinya dan aku sama sekali tidak peduli, bahkan aku juga tidak menoleh sedikitpun untuk menyaksikan apa yang terjadi.
Aku hanya fokus untuk melihat beberapa bangunan mirip gubuk yang berada di depanku, bagaimanpun ini adalah hutan yang menghubungkan antara kota Prima dan ibukota negeri suci yang mana dijadikan markas demi human yang sebelumnya menyerang kediaman Diona.
"Ada yang aneh?"
"Ada apa Lion?"
"Kita harus memeriksanya."
Aku melompat ke luar dari semak-semak dan berlari mendekat, ini sudah siang hari tapi tidak ada siapapun yang keluar dari sana. Setiap pintu tidak dikunci hingga dengan mudah aku masuki, dan yang kulihat di dalamnya adalah mayat-mayat yang tergeletak bersimbah darah.
"Kita terlambat, mereka membunuh para demi human ini untuk menghilangkan bukti," ucap Rion menyimpulkan.
Pihak Laxus bergerak dengan cepat rupanya.
Dialah yang meminta mereka menyerang kediaman gadis suci dengan iming-iming membuat wilayah untuk bisa mereka tempati.
Aku memeriksa setiap gubuk dan mereka benar-benar telah dilenyapkan.
__ADS_1
Aku melirik ke arah gentong besar dan berjalan untuk memeriksanya, saat aku membuka penutupnya seorang gadis kecil tampak tidur di sana.
Dari telinganya dia sepertinya seekor rubah putih, rambutnya juga terlihat keperakan.
"Kau baik-baik saja?"
"Tidak, jangan."
"Tenanglah aku berada di pihakmu, aku dan Rion bukan orang jahat."
Dia masih menutup matanya selagi mengangguk kecil.
"Akan kukeluarkan dari sini."
Aku menggendongnya, dari umurnya mungkin dia di usia 10 tahunan, aku baru menyadari bahwa dia memiliki ekor lembut sebanyak sembilan buah.
"Terima kasih."
"Mungkinkah, kau tidak bisa melihat?"
Sungguh gadis yang malang.
"Jangan khawatir meski aku tidak melihat aku masih bisa melakukan aktivitas biasanya."
"Begitu.. apa kau tahu apa yang terjadi di sini?"
"Entahlah, tiba-tiba ada teriakan dan aku segera bersembunyi."
"Kau gadis kecil yang pintar," tambah Rion selagi mengelus rambutnya
"Apa semuanya telah mati?"
"Benar, mungkinkah sebagian adalah keluargamu."
__ADS_1
"Bukan, mereka hanya orang yang mengurusku... sebenarnya aku telah kehilangan rumahku dan keluargaku, saat akan dijadikan budak di kerajaan angin mereka menyelamatkanku dan merawatku sampai sekarang."
Aku benar-benar bersimpati untuknya.
"Kurasa aku sudah tidak punya tempat pulang lagi."
"Apa maksudmu, kau bisa ikut denganku... sebenarnya aku punya wilayah sangat luas, kau mungkin akan nyaman tinggal di sana."
"Apa boleh?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu aku akan melayanimu selamanya.. itu, tuan Lion."
"Tidak usah sejauh itu."
"Tidak apa aku selalu ingin berterima kasih seperti itu."
"Lalu namamu?"
"Namaku Atlas."
Dengan senang di memperkenalkan dirinya selagi meletakan tangannya di dada.
"Mulai sekarang mohon bantuannya."
"Dengan senang hati tuan Lion."
Aku berbisik ke arah Rion.
"Apa kita bisa melakukan sesuatu dengan matanya?"
"Kurasa tidak, itu sudah takdir yang harus dia terima."
__ADS_1
"Begitu, aku mengerti."
Jika Rion bilang begitu aku sudah tidak bisa berbuat apapun. Seperti kematian saat mereka sudah menghilang mereka sudah tidak akan bisa kembali lagi ke sini.