Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 396 : Akhir Pertarungan


__ADS_3

Clarisa mengirim tinjunya untuk merobohkan pijakan Solomon, Kizuna menebaskan pedangnya dan ular naga menerjang ke depan.


Solomon menahannya dengan tangan kosong, sementara pedang lain tengah menangkis serangan Glory dan Ireta.


Dia memutar pedangnya hingga mereka semua terhempas ke belakang, Clarissa mengambil jarak di depan Solomon memberikan pukulan tangannya yang mana ditahan dengan pedangnya.


Pedang itu hancur berkeping-keping.


Ketika Clarisa tersenyum atas kemenangannya Solomon menendang wajahnya, membuatnya terlempar jauh ke samping.


"Yamata no Orochi... tebasan ke sembilan."


Kesembilan ular naga menerjang ke depan Solomon"


Dia melompat ke udara untuk menghindari serangannya, dan di atas sana Ireta telah siap untuk mengirimkan sabitnya.


"Ini untuk Julie."


Sabit itu mengoyak tubuhnya sampai mengeluarkan darah segar, Solomon bersiap untuk mengobankan matanya lagi dan seketika Clarisa segera menutup matanya dari depan.


"Clarisa?" teriak semuanya.


"Cepat semuanya menyingkir."


Kedua tangan Clarisa terpotong mirip seperti sebuah potongan kentang. Saat dia terjatuh seluruh tanaman yang menyembunyikanku telah hancur oleh sebuah kilatan petir.


Mata yang sebelumnya dalam mode tujuh dosa mematikan telah digantikan dengan mata ilahi dalam pola bintang.


Aku mengulurkan tanganku yang memegang pedang lalu berkata.

__ADS_1


"Lightning Strike."


Sebuah tembakan cahaya petir membelah udara dengan kecepatan cahaya yang mana memenggal kepala Solomon setelahnya.


Kepala itu jatuh menghantam tanah dan semua orang terdiam sebelum terduduk lemas.


"Kita menang."


"Clarisa?"


Aku buru-buru menghampirinya di mana seluruh tangannya telah menjadi bagian kecil, aku bisa menutup lukanya tapi sayangnya seperti apa yang dikatakan Clarisa setelah terpotong itu tidak bisa disatukan kembali.


"Kenapa kalian tampak sedih, dari awal aku juga memiliki peranan yang membuat dunia ini dalam bahaya, tak masalah jika aku kehilangan tanganku anggap saja ini adalah tanggung jawabku."


Dia bukanlah orang jahat, penelitiannya saja yang disalah gunakan oleh orang lain.


Kemenangan kami tidak seutuhnya membuat kami senang.


Jauh di dalam hutan Nightmare menatap langit biru setelah mengenakan gaun hitam pemakaman miliknya, dia baru saja mandi untuk membersihkan dirinya.


Ia tersenyum meski begitu hatinya sedikit kesal.


"Solomon sudah mati kah, mereka lebih kuat dari yang aku pikirkan... aku tidak terburu-buru untuk menyerang alam dewi mungkin aku akan mencoba bermain-main dengan mereka sebentar agar tidak mengganggu rencanaku."


Nightmare hanya berjalan pergi melewati kumpulan mayat manusia yang dia gantung di pohon-pohon dengan pedang milik mereka.


***


Malam harinya pertarungan kami dirayakan di istana Ortodoks Suci, untuk kerusakan biasa dalam pertarungan aku bisa menyembuhkan mereka dengan baik dan mereka makan seolah tak terjadi apapun.

__ADS_1


Atau sejujurnya semua orang sedang berlomba untuk menghabiskan makanan yang disiapkan kerajaan ini.


Winny yang merupakan pemimpin tampak mencoba menghentikan Glory.


"Ah, Glory kamu sudah terlalu banyak makan... tolong berhentilah."


"Maaf nona Winny tapi aku ingin menang dalam pertarungan ini."


"Aku juga."


Kizuna yang lebih dulu ambruk.


Mereka semua terlalu berlebihan tapi Clarisa tampak tertawa melihatnya, dia mengenakan gaun yang ditutup dengan mantel panjang.


Kedua tangannya tidak ada dan saat ia melakukan aktivitasnya dia hanya bisa meminta seseorang untuk membantunya, kini kekuatan yang dimilikinya juga tidak bisa ia gunakan.


Pukulan yang luar biasa itu sudah menghilang.


"Jangan sedih begitu Lion, aku baik-baik saja... aku mungkin akan membuat tangan buatan dari kayu, dan aku bisa beraktivitas sedia kala jadi tersenyumlah."


Itu jelas sulit dilakukan.


"Aku ingin berbicara satu hal bisakah kau ikut denganku sebentar?"


"Mungkinkah aku akan dibawa ke kamar."


"Di luar saja."


"Aku kecewa."

__ADS_1


__ADS_2