Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 83 : Desa Para Demi-human


__ADS_3

Desa Risela memiliki arsitektur sederhana di mana bangunannya hanya terdiri dari bata-bata putih sementara atapnya menggunakan dedaunan dari pohon-pohon yang bisa menangkal hujan.


Setiap rumah berjarak paling tidak lima meter yang masing-masing ukurannya sama persis, biasanya jika kau pergi ke desa atau kota mereka selalu meletakan bebatuan sebagai lantai alas tapi di sini semuanya murni dari tanah dan orang-orang terlihat tidak sehat.


Valentine memegangi lenganku tanpa menurunkan payungnya, sementara itu Rion juga mengambil tanganku yang lain.


Aku sudah lelah menyuruh mereka menjauh jadi biarkan saja, sementara memikirkan hal bodoh di kepalaku seperti membandingkan ukuran dada keduanya, suara Risela memukulku.


"Ngomong-ngomong dari tadi kenapa Harty menatap semua orang dengan tatapan aneh?"


Aku menjawab seadanya.


"Harty menilai semua orang dengan cara apa mereka bisa dimakan atau tidak."


Mendengar itu Risela memiliki ekpresi bermasalah, ia memegangi pakaianku seolah bertanya dengan matanya.


"Apa dia akan membunuh kami?"


Aku menggelengkan kepala dengan pasti membuatnya menarik nafas lega. Paling tidak Harty bisa menahan diri untuk tidak memakan makhluk yang menyerupai manusia.


Menyadari kemunculan Risela orang-orang dari desa segera berjalan untuk mengerumuni kami, salah satu mereka maju ke depan dengan tubuh tua kurus kerontang.

__ADS_1


Ia menggunakan tongkat untuk memudahkannya berjalan.


"Risela bagaimana pertandingannya?"


"Maaf aku kalah."


Ekpresi semuanya tampak kecewa kendati demikian tidak ada satu pun yang menyalahkan Risela, di kota sendiri dipenuhi petualang kuat yang dilatih sejak kecil bahkan dari mereka dimasukan ke dalam Akademi, mengingat latar belakang Risela itu adalah sebuah pencapaian besar hingga ia bisa mengikutinya sampai beberapa babak.


Risela melanjutkan.


"Tapi aku membawa sesuatu yang lebih baik untuk membantu desa."


Dan Risela memperkenalkan kami dengan cukup sopan meskipun bagian di mana aku memiliki tingkat seksual tinggi dari kebanyakan Succubus di dunia ini tidak usah disampaikan juga.


Orang yang aku maksud berada di sebelahku dan dia tersenyum cantik seolah tak bersalah, seperti yang kuduga selanjutnya para wanita sedikit menjauh bahkan ketika aku mendekat ke arah mereka dan berakhir dikejar-kejar masa.


Salahku, apa yang bisa diharapkan dari pria bertopeng mencurigakan?


Terlepas dari itu aku masih memiliki tujuan yang lebih penting, dipandangi seluruh desa aku bersiap menggunakan sihirku di tanah gersang mereka ,di sisi lain Nibela muncul dengan sebuah pertanyaan.


"Apa aku harus ikut membantu?"

__ADS_1


Aku sangat menghargai itu, jadi aku meminta untuk menghancurkan bebatuan di sekitar kebun ini.


"Laksanakan."


Desa memang berdiri di tempat yang strategis sementara perkebunan penduduk berada di bawah tebing yang diselimuti bebatuan, terkadang bebatuan dari atas jatuh dan menghancurkan ladang di bawahnya.


Mereka semua malah bertani di tempat berbahaya.


Kugunakan sihir tanah untuk memperkokoh tebing agar tidak mudah longsor baru menggunakan Magic Tree untuk merubah semua daratan menjadi subur dengan rerumputan, bunga atau pun pepohonan yang tidak terlalu tinggi.


Sihir merupakan gambaran dari imajinasimu yang terealisasikan melewati mana, jika kau berpikir api itu dingin maka sihir yang kau gunakan benar-benar akan dingin walaupun itu api.


Tapi pertanyaannya bagaimana jika aku memikirkan pohon yang ada di dunia lamaku?


Apa yang akan terjadi?


Jawabannya sederhana.


Akar tanaman menyeruak tepat saat Nibela menyelesaikan pekerjaannya, tanaman itu mulai merambat semakin besar dan tinggi kemudian disusul dedaunan hijau muda hingga buah-buahan kecil berwarna merah muda bermunculan dengan indahnya.


Semua penduduk yang terkejut dengan tanah mereka yang subur semakin terkejut kembali.

__ADS_1


Yang kubuat ini tumbuhan yang sangat berguna.


Itu adalah jambu air.


__ADS_2