Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 347 : Pemimpin Baru Dan Sebuah Kejutan Tak Terduga


__ADS_3

Kami duduk di ruangan kecil yang dihiasi perabotan sederhana milik kepala desa ini, ada lima anak gadis kembar yang berkumpul di dekat Ricol.


Tiga diantaranya memainkan ekornya sementara dua lagi memeluknya dari samping.


Sungguh ini juga pemandangan yang menghangatkan hati. Tapi hal yang akan dibahas di ruangan ini sesuatu yang mengejutkan.


"Tolong pimpin kami nona Atlas."


Mendengar itu Atlas tampak kebingungan, ia mencoba mencari penyelesaiannya namun sepertinya tidak bisa memutuskan.


"Bagaimana ini tuan Lion?'


"Jika Atlas ingin memimpin mereka aku tidak keberatan bahkan kita bisa membawa mereka ke Elfdian jika mau."


"Elfdian?" kepala desa dan Ricol memiringkan kepalanya.


"Itu adalah negaraku di benua iblis."


"Mustahil, bukannya benua iblis sudah dihancurkan."


Sepertinya informasi yang kusebar lewat wanita burung belum sampai kemari, mau bagaimana lagi tempat ini memang terpencil.


"Benua iblis kini sudah bisa ditinggali, ada beberapa negara lain juga sekarang."


"Yang dikatakan tuan Lion memang benar, aku akan menjadi pemimpin kalian asal semuanya ikut bersamaku ke sana," mendengar itu kini kepala desa dan Ricol memiliki ekpresi kebingungan.


"Kami selama ini selalu menyembunyikan diri, apa tak masalah untuk kami tinggal di sana."


"Tentu saja, jika di sana kalian tidak perlu takut... aku akan menjamin keselamatan kalian terutama Ricol."


"Fufu kau memiliki niat buruk padaku."


Atlas mengembungkan pipinya padaku.

__ADS_1


"Apa itu benar tuan?"


"Aku tidak memiliki niat buruk apapun... aku hanya berfikir jika Ricol tinggal di sana ia akan sangat membantu di bisnis perdagangan yang akan kita mulai sebentar lagi."


"Bisnis?"


"Perahu raksasa yang menghubungkan antar benua akan selesai dan di saat yang sama kita juga akan bisa memperluas ekonomi kita."


"Ah, jadi seperti itu."


Atlas kembali bertanya soal jawaban mereka dan mereka menjawab akan bersedia untuk pergi bersama kami ke elfdian.


Elfdian sendiri adalah negara dengan penghuni elf, tapi aku juga tidak masalah jika ada ras lain selain mereka yang tinggal khususnya para rubah.


Kini kelima anak Ricol mengerumuniku selagi tertawa.


"Hentikan kalian semua jangan memainkan topengku."


Tanpa kusadari topengku jatuh dan semua orang kecuali Atlas tertegun.


Sementara Ricol tergagap-gagap Dondon kembali menunjukkan ototnya.


"Kau mirip aku saat muda kecuali saat itu aku memiliki otot."


Ricol memegangi tanganku dan berkata.


"Kepala desa aku pinjam kamarmu."


"Silahkan saja, aku akan menjaga anak-anakmu."


"Atlas?"


"Jika kau mau aku tidak akan mengatakan apapun lagi."

__ADS_1


"Eh, tunggu..."


Aku jelas kebingungan, apa yang mereka coba katakan.


"Aku berubah pikiran, mari menikah."


"Heh... tapi saat itu aku cuma bercanda... tunggu sebentar jangan menarikku ke dalam kamar.... aku mengerti, aku mengerti... Atlas selamatkan aku."


"Sebaiknya lain kali tuan Lion tidak menggunakan candaan seperti itu."


Aku yang salah.


Saat kusadari aku telah menghabiskan malam bersama Ricol dan saat kembali aku dikepung istriku yang lain menuntut penjelasan.


"Jadi saat pergi Lion malah mencari istri baru bahkan langsung menidurinya," ucap Misa.


"Bagaimana mengatakannya."


"Terlebih dia janda beranak lima."


"Ah ya."


Mereka bukan marah karena aku menikah lagi dan menambah Harem di rumah ini, melainkan karena tidak lebih dulu bertanya pada mereka.


Ricol yang duduk berseiza di sampingku hanya tersenyum senang selagi mengibas-ngibaskan ekornya.


"Malam tadi aku benar-benar kacau, mulai sekarang mohon bantuannya juga."


"Selamat datang di keluarga ini kami semua menyambutmu."


"Terima kasih banyak."


Gracia Roux muncul dengan ekpresi sulit di wajahnya, dia menggigit bibirnya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aaah, aku mengerti, aku mengerti jangan menatapku seperti itu... mari menikah juga."


Entah kenapa di dunia ini menikah itu sesuatu yang mudah terjadi.


__ADS_2