
Dari sekeliling kami tanaman menyeruak dari tanah lalu membentuk dirinya menjadi seekor monster sebelum menerjang ke arah kami, aku menyerahkan semuanya pada yang lain sementara untukku sendiri melayani Dalius secara satu lawan satu.
Dia menarik dua pisau ke tangannya untuk menangkis dua pedang yang kuayunkan padanya, hantaman itu menciptakan percikan kembang api ke udara yang disusul suara yang memekikkan telinga.
Seratus persen dia menggunakan gaya bertarung Dalius kemudian disusul gaya bertarung yang sedikit berbeda di
Dia sudah jelas mengambil kekuatan orang yang dia bunuh dan tubuhnya dia gunakan seenaknya.
Dentrang.... Dentrang, Dentrang.
Dia memutar tubuhnya dengan pisau yang terarah pada leherku yang dalam sekejap kutahan dengan baik, sebagai serangan balasan kuayunkan pendangku dan dia menahannya sebelum kami saling menendang agar jarak kami menjauh.
"Lawan yang merepotkan, tapi aku jelas tidak akan kalah."
"Fire Bolt."
"Fire Bolt."
Kedua serangan yang sama itu berbenturan di udara, dia melesat dari kabut yang terhalang dan aku menahannya serangannya untuk sekian kalinya, sekarang dia bergerak lebih cepat dua kali lipat dari sebelumnya.
Muncul di sisi kiriku kemudian kanan lalu dari belakang.
__ADS_1
Itu sedikit menggores bahuku meski begitu tidak mengakibatkan luka yang serius, ketika dia muncul di depanku aku mengirim dua tusukan pedangku menembus dadanya.
"Apa serangan seperti ini dapat melukai diriku, kau terlalu meremehkan aku."
"Kita lihat saja nanti."
Aku memutar pedangku ke samping hingga setengah tubuhnya merobek lalu terpotong menjadi dua bagian. Darah bercampur organ dalamnya tampak berserakan tapi aku hanya fokus pada satu titik yaitu.
Aku menancapkan ujung pedangku pada seekor ulat berukuran sepuluh sentimeter di dalam tubuhnya.
"Mustahil, bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
"Aku hanya menebak ada sesuatu di tubuh Dalius, biasanya mana seorang selalu berbeda setiap orangnya tapi tubuhnya memilih dua mana yang berbeda, bisa disimpulkan bahwa ada sesuatu di tubuh Dalius."
"Sial... aku harus melaporkan ini semua pada ibu."
"Jangan repot-repot, aku yakin dia sudah tahu tentangku dan aku juga sudah tahu tentangnya."
Sudah jelas dia mengawasi kami sejak awal khususnya saat beberapa orang terlihat tak bisa memasuki tempat ini.
"Mungkinkah Clarisa Marie."
__ADS_1
"Tepat sekali, sekarang beristirahatlah."
Aku menusukan pedang satunya lagi untuk mengakhiri kehidupannya. Tidak ada yang bisa kulakukan pada tubuh Dalius karena dari awal dia sudah mati.
Setiap monster tanaman yang mengepung kami mulai rubuh dan hancur menjadi tanaman busuk. Valentine mendekat ke arahku dengan sedikit gelisah.
"Orang itu?"
"Tidak ada jalan untuk membawanya kembali, mari makamkan dia serta Dalius dengan layak."
Valentine mengangguk mengiyakan, labirin ini telah mengambil cara yang mengerikan untuk tetap terus berjalan, jika labirin memberikan banyak keuntungan pada manusia maka di sisi lain labirin juga harus memiliki hak untuk mendapatkan keuntungan yang sama pula namun melakukan semuanya dengan cara licik seperti ini adalah sesuatu yang salah.
Semuanya akan bisa diselesaikan jika kami sampai ke lantai terakhir.
Setelah Farida dan Siel memanjatkan doa kami melanjutkan perjalanan kembali pada pagi berikutnya, kami meninggalkan perisai dan pisau di makam mereka sebagai tanda untuk menggantikan batu nisan.
Di lantai berikutnya kami menjalankan rencana seperti sebelumnya seorang bertugas membuka jalan dan sisanya berjaga di belakang.
Semakin kami terus maju monster yang kami hadapi jelas lebih sulit, rasanya seperti melawan bos di luar labirin namun di sini mereka hanya menjadi tentara biasa.
Bisa dibayangkan bagaimana kekuatan mereka semua.
__ADS_1