
Hari yang cerah digantikan dengan malam yang dingin, aku telah menciptakan dua bangunan sederhana yang bisa mereka gunakan untuk tidur.
Yang kiri untuk wanita dan kanan untuk pria, jika soal penjagaan aku bisa menggunakan sihir jadi mereka tidak perlu berjaga secara bergantian.
Untukku sendiri aku memilih tidur di luar selagi memandangi langit berbintang
Setelah makan malam mereka pergi untuk tidur dan aku hanya menunggu di depan perapian selagi membakar ubi-ubian.
Aira dan Rion duduk di sebelahku melakukan hal sama.
Jika berbicara soal Harty dia pergi untuk perburuan malam harinya, aku tidak tahu seberapa banyak makanan bagi para naga agar bisa disebut cukup.
Aku pikir naga memiliki beberapa perut cadangan.
"Yang ini sudah matang, uwah.. panas-panas," ucap Rion riang.
"Kalian seharusnya tidur juga."
"Dewi bisa tidur kapanpun yang mereka mau, bahkan jika kami tidak tidur itu bukan masalah."
Meski Rion mengatakan itu, dia langsung tidur setelahnya.
Aku membiarkannya tidur bersandar di bahuku selagi merasakan angin semilir yang menerpa wajahku, tak lama Aira juga melakukan hal sama.
Kedua orang ini tidur dengan santainya.
Harty muncul selagi menyeret tubuh rusa yang mati di belakangnya.
"Lion, kau sedang bermain peran romantis dengan mereka."
__ADS_1
Aku hanya menghela nafas panjang lalu membaringkan mereka di tempat tidur yang ditumpuk oleh dedaunan lalu memberikan mereka selimut sebelum beralih ke arah Harty.
"Jadi apa yang akan kau lakukan dengan buruanmu itu, kurasa kau akan memakannya mentah?"
"Tidak juga, kupikir aku akan memanggangnya tolong lakukan itu untukku Lion."
"Kau suka seenaknya saja tapi baiklah."
Aku melakukan apa yang ia inginkan dan memberikan potongan besar untuknya.
"Enak sekali, memang terkadang makan dengan cara berbeda sangat menyenangkan. Kau tidak mau makan Lion?"
"Aku sudah kenyang, ngomong-ngomong Harty apa kau tidak berniat sesekali kembali ke kampung halamanmu para naga?"
"Kenapa aku harus kembali, di sini sangat menyenangkan."
"Begitu."
Keesokan paginya kami telah bersiap berangkat kembali, para kuda telah diberi istirahat memungkinkan kami berjalan lebih cepat.
Setiap kota yang kami kunjungi semuanya telah hancur, yang tersisa dari mereka hanya iblis titan yang berkeliaran seolah menjadi rumah mereka.
Meninggalkan para kuda untuk dijaga Harty, Clarisa dan Valentine, kami yang tersisa masuk ke dalam kota.
Ada beberapa raksasa yang muncul yang langsung kami habisi, tidak ada yang aneh dari semua ini namun tanpa terduga.
Jleb.
Sebuah sabit raksasa menembus punggung Weis dari belakang sebelum kami beraksi, sabit yang lain mengincar kepala Ace hingga dia terpegang.
__ADS_1
Qiana yang menyaksikan hal itu menjerit ketakutan, dia mundur beberapa langkah namun tiba-tiba saja tubuhnya terbelah dua.
"Semuanya lari," teriakku.
Edmund melompat selagi menangkis sabit yang terbang ke arahnya.
Gloria tampak mengalami sedikit kesulitan jadi aku menggunakan punggungku untuk melindunginya.
Sekitar lima sabit telah menembus punggungku.
Aku berteriak ke arah Edmund namun terlambat tubuhnya juga telah terpotong-potong.
"Apa yang terjadi? Aira."
Atas panggilanku Aira berubah wujud jadi bentuk manusianya lalu merangkul tubuh Glory yang menangis untuk menyeretnya pergi.
"Tidak."
"Cepat pergi dari sini," teriakku.
"Tapi mereka?"
"Sudah terlambat."
"Mustahil."
Sial, kenapa ini terjadi?
Tepat saat seluruh sabit di punggungku terlepas hingga melayang di udara seorang pria berjalan mendekat.
__ADS_1
"Haha kukira kalian benar-benar hebat namun sepertinya tuan Solomon tidak perlu khawatir lagi karena musuhnya akan mati oleh tanganku."
Dia tersenyum lebar.