
Seiring waktu tubuh mayat telah berkurang.
Tebasan mengoyak daging mati itu dengan rapih, menggunakan keenam elemen dari sihir dunia aku telah membunuh dan melenyapkan tubuh mereka.
Yang tersisa untuk kuhadapi adalah penggunanya bernama Aspalta, sejak tadi dia hanya menggerakkan kepalanya selagi tertawa, bahkan bagiku sulit untuk mengorek setiap informasi yang dimiliknya.
Pertama kerajaan Borman, sebenarnya kerajaan seperti apa itu? Walaupun sebenarnya aku sudah tahu apa yang mereka inginkan dari melakukan hal ini.
Aku melompat ke arahnya selagi memberikan tebasan zig-zag yang mampu membuat Aspalta hanya bisa menghindarinya, seluruh tangan terikat oleh rantai menunjukan bahwa dia tidak memiliki apapun sebagai pertahanan diri, sesekali ia hanya menciptakan lingkaran sihir dan mengirim serangan dasar yang tak berarti.
"Apa kalian penyihir mengenal seorang bernama Solomon?"
"Solomon, aku tidak tahu."
Aku menebaskan pedangku dari samping memaksa Aspalta untuk menahannya dengan hanya gigi mirip hiunya, dengan sedikit kekuatan pedangku hancur berkeping-keping saat dia menggigitnya.
Gerakan yang selama ini hanya terlihat seperti seorang pemalas tergantikan dengan gerakan yang gesit. Dia memutar dirinya di atasku selagi mengirim tendangan melalui tumitnya, aku menahannya dengan punggung tangan meski begitu hantaman keras membiarkanku menukik jatuh di atas sebuah dinding pelindung kota yang dibuat anggota partyku.
Pelindung ini mirip seperti kubah yang dibuat dari kaca tebal.
__ADS_1
Aspalta turun untuk mendarat kakinya di kaca saat aku mencoba bangkit.
Orang ini bilang bahwa dia tidak mengenal Solomon namun saat Titan iblis itu muncul sungguh membuatku tidak percaya.
"Kurasa sudah waktunya bertarung serius, meski kau meminta pengampunan aku tidak akan membiarkannya gak... gak.. gak."
"Seperti yang kubilang kau yang akan meminta pengampunan," balasku demikian.
Rantai yang mengikat tubuh Aspalta hancur bersamaan tiang yang digunakannya, matanya masih tertutup dan aku yakin itu menyimpan sebuah kekuatan luar biasa, untuk sekarang mari bertarung.
Aku maupun Aspalta bergerak maju.
Kami saling meninju wajah masing-masing hingga terlempar secara bersamaan ke belakang, tanpa menunggu satu sama lain bergerak lebih dulu aku menghindari rentetan api yang dibentuk sedemikian rupa sebagai panah.
Dua lingkaran sihir muncul di sampingku.
"Majulah."
Dua kepala naga air keluar dari sana dan bergerak untuk mengenai target yang kupilih, Aspalta menjulurkan lidahnya sebelum mencipta dinding api.
__ADS_1
Api merupakan elemen yang sangat lemah jika diserang oleh air tapi baginya itu menjadi sesuatu yang setara, uap asap mengepul ke udara, menghilang saat tertempa angin hingga menyisakan sosok Aspalta yang berdiri dengan santai.
"Gak... gak.. gak.. untuk menciptakan beberapa sihir dengan elemen yang berbeda sesuatu yang langka, aku menginginkan tubuh itu."
"Tidak semudah itu."
Kami berdua saling mengirim pukulan maupun tendangan kembali, semenjak aku kehilangan pedang pertarungan berubah menjadi seperti ini.
Kami berlari secara menyamping dan di saat yang sama mengulurkan tangan kami untuk menciptakan sihir api, "Fire Bolt."
Ini merupakan sihir paling dasar namun jika digunakan secara akurat akan menjadi sihir yang cukup merepotkan.
"Inferno."
"Hellfire."
"Meteor Strike."
Lingkaran sihir dari atas langit menjatuhkan puluhan meteor di atas kepalaku, aku menghindarinya dengan bersalto ke belakang saat Aspalta tiba-tiba muncul di depan wajahku, dia mengirim tendangan membuatku berputar-putar di udara sebelum melesat ke luar kota dan jatuh di tanah dengan deburan debu yang tebal.
__ADS_1
"Ini cukup menarik, baru kali ini seseorang bisa melawanku dalam waktu cukup lama, tapi kurasa ini akhirnya."
Tepat saat aku bangkit, sebuah tali muncul di udara lalu menjerat leherku ke atas.