
Ketika waktunya tiba seluruh pasukanku telah mengibarkan benderanya, sama halnya seperti kami mereka telah siap untuk berperang.
Menurut informasi lawan yang akan kami hadapi bernama Balgas, seorang dari tujuh penyihir kerajaan Borman.
Thomas yang berkeliling dengan kudanya untuk melihat sekitar telah kembali untuk melaporkan keadaan.
"Tidak ada pasukan di belakang kita, kita bisa bertarung dengan mereka sekarang."
"Itu bagus."
Dalam startegi peperangan dibandingkan apapun pihak ketiga sangat mengganggu, memastikan kami tidak diserang dari belakang adalah sesuatu yang ingin kupastikan lebih dulu.
Terompet peperangan dibunyikan bersamaan itu teriak gemuruh perang terdengar membelah udara.
Satu hal yang bisa kukatakan adalah.
"Serang."
Dua pasukan berbeda berlari ke arah medan peperangan dan bertemu di tengah-tengah untuk saling membunuh, aku berada di dalamnya untuk menebas musuh.
Setiap musuh aku tebas dan mati, mereka akan bangkit menjadi Undead, tidak salah lagi ini pasti kekuatan dari penyihir Balgas.
Bersama pengikutnya yang bisa menggunakan sihir mereka telah menyelimuti area perang dengan sebuah ritual.
Seiring pertarungan teriakan orang-orang yang tewas semakin banyak, aku maupun Thomas saling membelakangi dengan kumpulan Undead menyerang.
"Jika begini tidak ada habisnya, kau punya rencana Lion?"
"Selain membakar tubuh mereka aku tidak memiliki ide, lebih baik kita segera hentikan pengguna ritual ini."
"Meski kau mengatakan itu, mereka terlalu jauh dari jangkauan."
Bam.
__ADS_1
Ledakan terdengar dari arah berbeda, ketika aku memperhatikan apa itu? Dua Titan telah menyerang pasukan kami, tubuh mereka diterbangkan ke segala arah oleh tangan yang terselimuti baju besi.
"Seperti yang kau duga, mereka benar-benar mengeluarkan Titan."
Aku mengalihkan pandangan ke arah Glory dan ia mengangguk mengiyakan sebelum terbang untuk mengahadapi Titan.
Untukku sendiri akan menerobos jalan demi membunuh pemimpin dari pasukan ini. Thomas berteriak ke arah Ginny.
"Kita harus buat jalan untuk Lion, buat posisi tombak."
"Okay."
Sekitar sepuluh orang membentuk dirinya seperti segitiga tanpa alas di mana aku berada di tengahnya.
"Dalam hitungan tiga kita akan langsung menerobos jantung pertahanan musuh, satu, dua.. sekarang."
Mereka langsung berlari seperti apa yang diperintahkan Thomas, mereka bergerak layaknya badak yang hanya terus fokus ke depan.
"Lion."
"Baik."
Aku melompat ke bahu Thomas lalu melompat untuk melewati musuh yang tersisa, sebenarnya aku bisa terbang tapi biarlah yang penting kerja sama.
Aira tertawa.
"Bukannya ini tidak efisien bagi Lion."
Rion menjawab.
"Kalau ada yang susah kenapa pilih yang mudah."
"Oi, hentikan kalian berdua... padahal adegan barusan keren," protesku demikian.
__ADS_1
Tepat saat kakiku mendarat di tanah aku menebas orang-orang yang sedang melakukan ritual kemudian mengincar pemimpinnya Balgas.
Dia seorang pengkhianat serta pendukung Solomon, tidak ada kata maaf untuknya.
Aku mengayunkan pedangku dan Balgas melakukan hal sama dengan pedang besarnya, akibat tubrukan yang kuat tubuh kami berdua saling terlempar ke belakang.
Penyihir di zaman sekarang tak hanya pandai bertarung dengan sihir mereka juga mempelajari pertarungan jarak dekat, mungkin pada dasarnya setiap orang selalu mencari cara untuk menutupi kelemahan mereka.
Sepuluh lingkaran sihir muncul di atas langit menjatuhkan beberapa bola-bola dari sihir kegelapan, aku menahannya dengan lingkaran sihir suci sebelum menerobos maju.
Dentrang.
Kedua senjata kami menghasilkan bunyi memekakkan telinga yang saling menahan satu sama lain.
"Kuno telah memperingatiku soal kau, memangnya kau pikir aku tidak mempersiapkan apapun untuk melawanmu di sini."
"Apa yang kau rencanakan?"
Dia melompat menjaga jarak dan saat kusadari sebuah besi mirip rahang ke luar dari bawah kakiku.
"Jangan-jangan."
"Iron Maiden."
Besi itu menutup untuk menjepitku, beberapa detik sebelum aku tertembus, asap mengepul ke udara, meledak, lalu aku berubah menjadi Titan yang mana segera menerjang ke arah Balgas.
"Mustahil, kau ternyata Titan."
"Graaah."
Aku menendang tubuhnya ke atas hingga menembus langit. Dengan kekuatan seperti itu dia pasti mati.
Aku hendak ingin membantu Glory melawan Titan musuh tapi kurasa itu tidak diperlukan lagi, dia telah menghabisi keduanya dengan mudah.
__ADS_1