
Karena ini malam hari aku menghabiskan waktu bersama dengan Rion sebagai pasangan, Aira datang untuk menonton tapi aku benar-benar tidak menyentuhnya hingga dia hanya mengembungkan pipinya tampak merajuk melihat Rion yang tersipu malu selagi mengeluarkan suara aneh dari waktu ke waktu.
Keesokan paginya kami bertiga pergi ke kota yang dimaksud, kota ini seolah terisolasi dengan kota lainnya dan hampir seluruh tempat tersembunyi oleh pegunungan.
Mayoritas masyarakat bermata pencarian sebagai petani namun sebagian juga mengembangkan bisnis peternakan madu yang jarang kau temui di dunia fantasi.
Aku membeli beberapa botol untuk dibawa pulang.
Ada beberapa wanita yang berpenampilan seperti pendeta yang melewatiku, mereka jelas dari pengikut Dewi Aira.
Saat mereka melihat dewi yang mereka sembah, mereka segera berhenti untuk mengerumuninya.
"Tidak, kalian salah paham... aku bukan dewi Aira."
Dewi Aira berusaha untuk lolos dari kepungan tersebut, aku dan Rion tidak bisa berbuat banyak untuk itu selain membiarkannya begitu saja. Setelah cukup lama menunggu Aira bisa keluar selagi menarik nafas lega.
Dengan kecantikannya sebagai dewi jelas sulit menyangkalnya.
Kami melanjutkan perjalanan kembali menuju bagian puncak di mana kuil itu berada, banyak orang yang sedang berdoa jadi hampir mustahil untuk bisa mengganti patungnya jadi mari tunggu sampai situasi benar-benar sepi.
Beberapa jam kemudian itu malah berubah menjadi semakin ramai.
__ADS_1
Karena curiga dengan kami seorang Arc Priest mendatangi kami, dia wanita elegan yang menggunakan pakaian pendeta.
Melihat itu Aira buru-buru bersembunyi di punggungku selagi menyembunyikan wajahnya.
"Apa ada sesuatu yang salah? Sejak tadi aku perhatikan kalian berdua belum berdoa."
Itu memang mencurigakan.
"Kami hanya sedang melihat keindahan dari patung dewi Aira, beliau benar-benar cantik."
"Dewi Aira memang sangat mempesona."
Aira di belakangku mencubitku lalu diam-diam berbisik.
Sang Arc Priest hanya memiringkan kepalanya kebingungan, aku sama sekali tidak ingin memberitahukannya.
"Ngomong-ngomong tempat ini sangat ramai."
"Benar, Dewi Aira telah keluar dari pengurungan, aku merasa bahwa beliau akan tinggal dengan kami di dunia ini dan mendengarkan masalah kami... kudengar beberapa orang jadi sangat beruntung setelah datang kemari."
Sepertinya Aira memang selalu berhubungan dengan pengikutnya, aku tidak ingin membahasnya lebih lanjut jadi aku beralih ke topik yang jauh lebih penting.
__ADS_1
"Aku memiliki patung dewi Aira juga apa boleh aku menukarnya dengan patung yang itu."
"Bukannya itu perlakuan yang tidak sopan, mengganti patung kami.. kami mungkin akan dijatuhi hukuman ilahi setelahnya."
"Jangan khawatir, aku pikir Dewi Aira tidak akan mempermasalahkannya lagipula patung ini jauh lebih mirip sepertinya."
Arc Priest itu malah lebih mencurigaiku sekarang, sudah jelas aku harus menunjukannya.
Dengan sihir penyimpanan aku mengeluarkan patung tersebut, patung ini lebih besar dan tinggi dan juga 100 persen menyerupai aslinya.
Mata Arc Priest mengeluarkan air mata.
"Indah sekali, aku belum pernah melihat dewi Aira yang jauh melebihi bayanganku."
Semua orang yang memperhatikan turut berdoa mengikuti patung baru mereka.
"Anda pasti orang suci."
Aku tidak bisa mengatakan diriku sebagai orang suci jadi aku minta untuk tidak memperlakukanku seperti demikian.
Seperti yang disepakati aku mengambil patung Dewi Aira lalu pergi bersama ke dalam hutan yang memiliki suasana lebih sepi, aku tidak bisa menghancurkan patungnya jadi aku meminta Dewi Aira sendiri yang melakukannya.
__ADS_1
Hingga setelahnya aku bisa melihat batu bercahaya di dalamnya.