
Aku menarik kalung di leherku dan itu menghancurkannya dengan mudah, walau mata Diona terbelalak terkejut aku sama sekali tidak mempedulikannya.
Di sisi lain para demi human mulai menginjakan kakinya menyisir perkarangan rumah kemudian menghancurkannya pintu dengan mudahnya.
"Aku akan mati."
"Aku bisa saja melindungimu, akan tetapi kau perlu membayarnya."
"Kau menginginkan tubuhku."
"Tentu saja tidak, apa kau tahu sebuah benda kecil yang menyimpan kekuatan dewi jahat."
"Tentu, tapi untuk apa... tidak ada siapapun yang bisa? Tunggu sebentar, apa kau dewi jahat."
"Aku pria."
Rion menyela.
"Akulah dewi jahatnya."
"Sebuah pedang dan dia bisa berbicara," tepat saat Diona mengatakannya kumpulan demi human yang marah bermunculan dengan senjata mereka.
Aku memeluk pinggang Diona.
"Kenapa kau suka sekali melecehkanku?"
Aku membiarkan perkataan Diona berlalu begitu saja lalu mendorong punggungku hingga kami berdua jatuh ke bawah setelah menghancurkan jendela. Sebelum mendarat aku melesatkan sihir angin untuk mengurangi kejatuhan.
"Ka-kau sangat nekat."
"Sekarang putuskan, kau ingin bekerja sama denganku atau menghadapi mereka sendirian dan mati."
__ADS_1
"Kau sangat kejam memberikan sesuatu yang tak bisa kupilih. Baiklah, aku setuju."
"Itu bagus."
Aku menggendong Diona di pangkuanku sebelum berlari dan bersembunyi di balik bangunan, mereka hanya melewati kami begitu saja.
Ini malam hari jadi tidak ada yang begitu memperhatikan mereka.
"Akan lebih baik kita tinggal di kota Prima, di sana kita mungkin akan tahu apa yang terjadi di kerajaan ini?"
"Apa maksudmu?"
"Mereka bisa masuk ke kota ini dengan mudah, apa kau paham artinya?"
"Ada yang menyelundupkannya," katanya sinis.
"Aku tidak tahu tapi seseorang jelas berusaha membunuhmu, mari kita asumsikan mereka adalah demi human yang ditolak keberadaannya di kota ini bukannya harusnya mereka langsung menghancurkan kotanya dari luar dibanding repot-repot mengincarmu."
"Mungkin mereka benci gadis suci?" potong Rion dan Diona menyela.
Akhirnya Diona mengerti apa yang kumaksud, aku menciptakan gerbang perpindahan dan kami masuk setelah Rion mengambil wujud elfnya.
Mungkin dia tidak suka menontonku dekat dengan wanita dalam bentuk pedang. Selagi dia menyembunyikan telinga runcingnya aku tidak keberatan.
Kami dengan mudah muncul di kota Prima dan dari sini kami menyewa dua kamar yang satunya akan kutempati sendirian.
Memiliki waktu untukku sendiri memanglah sangat berharga, saat pagi hari aku membeli beberapa pakaian yang kuberikan pada Diona.
Itu hanya gaun sederhana tanpa motif mewah kecuali pelapis rompi dari kulit yang sering digunakan petualang wanita dengan pedang pendek menggantung di pinggangnya, akan jadi masalah jika seseorang mengenalnya sebagai gadis suci dari pakaiannya saja.
"Bagaimana kau tahu ukuranku?"
__ADS_1
"Aku sudah menyentuh dadamu dan pinggangmu jadi mudah untuk mengetahuinya."
"Kau memang yang terburuk."
"Ngomong-ngomong kau tidak akan mengalahkanku jika soal ukuran."
"Dasar sapi perah."
"Apa katamu?"
Dewi jahat ini memang suka membuat percikan permusuhan.
Penginapan ini tidak menyediakan makanan karena itu kami memutuskan pergi ke kedai terdekat, memesan beberapa daging dan sayuran yang cukup untuk dinikmati dengan santai.
Aku perlu melepaskan topengku jadi hal itu tidak bisa dihindari.
Diona menatapku hingga cukup lama.
"Apa?"
"Tidak, kau sangat tampan... sayang karena sifat mesummu membuat poinmu berkurang."
"Aku tidak tertarik dengan apa yang ingin kau katakan, pokoknya kita makan dan setelahnya kita akan pergi ke Colosseum."
"Untuk melihat para monster bertarung."
"Benar, aku sedikit penasaran tentang itu."
Diam-diam Rion memindahkan sayurannya pada piringku dan aku menangkapnya.
"Tidak ada daging lagi jika kau melakukannya."
__ADS_1
"Aku tidak suka sayuran."
Sampai segitunya dia membenci sayuran