Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 151 : Sebuah Kejujuran


__ADS_3

"Nah Solomon, apa yang barusan terjadi?"


"Kau berubah jadi Titan."


"Berhentilah bersikap tenang seperti itu, apa seseorang bisa berubah jadi Titan dengan mudahnya?" teriak Lu Shang mencengkeram kerah baju Solomon.


"Kau yang berbicara omong kosong, kau sudah berubah jadi Titan dengan kemampuanku.. kini aku harus membuat ramuan yang lain untuk diriku."


Solomon menepis tangan yang terjulur padanya.


"Katakan padaku kenapa kau melakukannya?"


"Sudah jelas untuk menyelamatkanmu, jika aku tidak merubahmu kau pasti sudah mati."


"Maksudku kenapa kau membuat benda itu?"


"Cih... kau belum menyadarinya juga, apa otakmu itu hanya diisi wanita."


"Berhentilah mengejekku, cepat katakan padaku?"


"Aku ini ras iblis."


"Kau pasti bercanda."


"Karena inilah aku membenci sifat bodohmu itu.. ras iblis dibenci oleh ras lainnya karena itu aku harus menyembunyikan indentitasku, namun di sisi lain aku juga harus bertambah kuat untuk melindungi semuanya karena itu aku membuat banyak ekperimen untuk bertambah kuat."


"Mungkinkah desamu juga?"


"Aah, mereka juga... aku sudah kehilangan keluargaku, hanya mereka yang kumiliki sekarang... demi melindungi mereka apapun akan kulakukan."


Lu Shang bisa melihat tekad yang ditunjukkan Solomon lewat matanya yang tajam.


"Kita lupakan saja hal barusan, untuk sekarang mari kita dapatkan uang dari misi ini."


"Uang? Mayat para perampok sudah hancur sulit membuktikan bahwa kita telah mengalahkan mereka."

__ADS_1


"Paling tidak kepala pemimpinnya bisa kita bawa."


"Kau akan membuat Mei Ling pingsan, terakhir kali dia pingsan saat tidak sengaja menemukanmu sedang telanjang."


"Waktu itu aku hanya ingin meminjam kamar mandi guild untuk mandi... salahnya sendiri menerobos masuk tanpa mengetuk, terlebih dia bilang monster selagi menunjuk ke arah bagian bawahku."


"Lucu sekali, orang seperti Mei Ling bisa pingsan."


Solomon mengambil kepala yang tergeletak di tanah lalu memasukannya ke dalam kantung kain.


"Apa maksudmu?"


"Karena itulah kau ini bodoh, dia sering bermain dengan para pejabat kekaisaran untuk mengambil informasi dari mereka, dia adalah mata-mata."


"Sejak kapan kau mengetahuinya?"


"Sejak lama, aku tidak ingin terlibat hal seperti itu selagi desa aman aku tidak akan ikut campur urusan kekaisaran."


"Terkadang aku berfikir kau sangat mengerikan"


"Haha kau tetap temanku entah itu kau berasal dari ras apapun."


"Aku terharu."


"Kau hanya mengejekku."


Sesampainya di guild mereka menukarkan pencapaian mereka, perlu seseorang untuk mengindentifikasi kepala yang mereka bawa di ruangan khusus namun entah bagaimana semuanya berjalan lancar.


"Ini upah kalian."


"Thanks you, mari pergi Solomon."


"Aah, aku ingin segera membersihkan diriku."


Lihua yang sedang menyapu di halaman penginapan menyambut keduanya.

__ADS_1


"Kalian berdua sudah kembali?"


"Yo Lihua... kau sangat manis seperti biasanya."


"Dasar Playboy, menjauhlah dariku."


Sebuah pukulan menghantam wajah Lu Shang membuatnya meluncur menukik ke dalam tanah.


Solomon hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh.


"Kalian selalu saja mengulang hal seperti ini, ngomong-ngomong kenapa banyak orang di dalam?"


"Ah, ada penyewa kamar baru... dia sangat cantik layaknya dewi, mereka datang hanya untuk melihatnya."


"Cantik seperti dewi, bagaimana ciri-cirinya?"


"Apa kau juga tertarik hmm.. biar kupikirkan, ia punya rambut merah dan oppai besar, bajunya terlihat biasa namun aura yang dikeluarkannya berbeda."


"Aneh, sepertinya aku juga pernah melihatnya di suatu tempat... benarkan Lu Shang."


"Mungkinkah gadis di pasar itu."


Lihua berkata.


"Dia orangnya."


Keduanya melirik ke arah yang ditunjuk gadis pemilik penginapan itu, dan melihat gadis yang dimaksud baru keluar dari penginapan.


Sementara Solomon berekspresi dingin seperti biasanya, Lu Shang telah berlari mendekat.


"Halo lagi nona cantik... Buakhhh."


Tubuh Lu Shang diterbangkan ke langit lewat pukulan Lihua dan jatuh dengan menyedihkan.


"Kau benar-benar tidak pernah belajar," ucap Solomon lemas.

__ADS_1


__ADS_2