Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 109 : Pertarungan Bersama Akademi Dahlia


__ADS_3

Sudut pandang Lion.


"Aaachuu."


"Kau baik-baik saja Lion?"


"Sepertinya aku terkena flu."


"Itu buruk, jangan khawatir aku akan memanjakanmu nanti, kurasa dengan tidur selagi memelukku akan cepat sembuh."


"Kalian berdua bisakah tidak membuat candaan dengan perkataan vulgar."


"Tapi itu bukan candaan."


Di luar kota itu aku, Gracia dan juga bersama seluruh siswa akademi Dahlia bersiap untuk menyambut peperangan yang akan terjadi.


Rion dalam wujud pedangnya menggerutu soal sesuatu.


"Gracia kau belum pernah tidur dengan siapapun?"


"Berhentilah membahas hal aneh, sekarang apa yang akan kita lakukan.. kita sudah berdiri 10 menit loh."


Pertanyaan itu diarahkan padaku yang memasang wajah datar.


"Kurasa mereka lebih lambat dari yang kubayangkan."


Bersamaan itu suara dari para petinggi mulai terdengar, mereka semua berada ditempat lain untuk bertarung dengan pasukan raja iblis, dengan kristal yang kubuat menyerupai ponsel aku yakin mereka memberikan informasi secara akurat.


"Di sini pasukan satu kami sudah melihat target, dan akan segera menyerang... biip."


"Di sini kami siap... biip."


"Kami... biip."


"Biip."


Itu bukanlah kerusakan tapi sengaja kubuat demikian, saat benda ini dipakai maka akan meledak secara otomatis, tentu itu hanya ledakan kecil dan tidak berefek apapun.

__ADS_1


"Dengan ini kita sudah tahu bahwa mereka sudah menyerang secara serempak."


"Bukannya kita malah tidak tahu dua raja iblis menyerang ke arah mana," tanya Gracia.


"Tentang itu, aku sudah mengirim informasi keberadaanku mereka pasti akan datang kemari."


"Kau bisa santai bahkan saat melawan raja iblis, sebenarnya seberapa kuat dirimu."


"Dibanding aku bukannya kau yang luar biasa telah menghadapi dewi jahat ini."


"Apa maksudnya itu Lion? Apa aku sulit untuk dihadapi, berarti aku sangat kuat."


"Maksudku ke arah kepribadiannya."


"Itu terdengar seperti ejekan, aku tidak akan tidur seranjang denganmu."


"Itu yang kuharapkan."


"Kalau begitu tidak jadi, aku akan tidur denganmu selamanya."


Gracia memegangi kepalanya frustasi.


"Mereka datang."


Aku bisa melihatnya jadi nggak usah keras-keras.


Dibarisan depan diisi oleh siput-siput raksasa, bagian kedua baru monster campuran seperti goblin, Orc dan juga monster lainnya dari dunia fantasi.


Gracia menarik pedang yang muncul dalam tubuhnya.


"Kuharap kau tahu apa yang akan kau lakukan?"


"Tentu saja, semuanya angkat senjatanya lalu serang."


"Hooi."


Mengikuti arahanku kami semua menyerang ke depan, kecuali aku dan Gracia yang akan menerobos maju semua orang bertarung seperti apa yang kuajarkan.

__ADS_1


Ketika situasi sulit mereka boleh mundur.


Walau hanya satu jurus, jika bertarung bersama temanmu maka akan menjadi sesuatu yang kuat hingga setiap murid bisa saling melengkapi satu sama lain.


Itulah yang kuajarkan pada mereka.


Aku dan Gracia berlari secara beriringan.


"Siput raksasa bisa menembakan cairan dari mulutnya jadi berhati-hatilah."


"Apa itu bisa melelahkan pakaian?" tanyaku.


"Jawabannya ia termasuk daging di tubuhmu juga."


Jelas itu sangat berbahaya.


Tadinya aku ingin membiarkan Gracia terkena sedikit tapi itu hanya ide bodoh.


Aku menebas kepala siput hingga kelompok di belakangku bisa masuk begitu juga Gracia.


"Kukira ukurannya saja yang menakutkan."


"Bukan begitu, kau yang terlalu kuat."


"Gracia memujiku Rion?" pertanyaan itu kuahlikan padanya.


"Hmm... sepertinya dia menyukaimu juga."


"Berhentilah menggodaku, apa kalian kira aku tidak pernah memuji seseorang."


Tubuh Garcia bersinar terang termasuk pedang di tangannya, dia mengulurkan ujungnya ke depan selagi berkata.


"Grand Ariesta."


Dan 'Boooaaaar." monster di depan kami langsung tersapu bersih dengan sebuah ledakan mirip jalur sungai yang membara.


"Jika kau menggodaku lagi, kau akan bernasib sama."

__ADS_1


"Maafkan aku."


Aku terkadang lupa bahwa dia seorang pahlawan.


__ADS_2