Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 179 : Melawan Venus


__ADS_3

Rentetan pedang cahaya bermunculan di atas langit kemudian mendekati tubuh Venus membentuk sebuah sayap di punggungnya.


"Aku mungkin tanpa sengaja akan membunuhmu."


"Jangan khawatir, aku juga akan serius."


Aku menutup mataku sesaat lalu memunculkan mata jahat di mana mataku berubah menjadi titik gelap dengan pupil berwarna kuning terang.


"Riona pasti melatihmu sangat baik."


Venus meluncurkan seluruh pedang miliknya padaku membuatku melompat menghindarinya sebelum berlari menerjang ke arahnya, dua pedang di tanganku menangkis rentetan kekuatan tersebut menciptakan hembusan tanah ke udara.


Di serangan terakhirnya Venus menciptakan pedang raksasa, aku menebas pedang tersebut dengan pedang Rion hingga terbelah dua bagian dan meledak di kiri kananku.


Asap mengepul ke udara saat menghilang puluhan Venus yang lain telah bermunculan.


Mereka memegang senjata mereka dan bersiap untuk menyerang namun dengan kekuatan dosa mematikan ketamakkan aku melenyapkan mereka menjadi serpihan debu.


Dosa ini melenyapkan satu kemampuan musuh hingga tidak bisa digunakan lagi dalam waktu lama.


Aku menunjukan ujung pedang Aira.


"Sudah waktunya untuk bertarung dengan serius Venus."


Venus menunjukkan wajah masam dan sesaat itu pilar cahaya dari 12 lingkaran sihir Algoritma dijatuhkan, tanpa menghindarinya aku menyerap seluruh cahaya itu ke dalam pedang Aira lalu membalas serangan Venus dengan tanaman yang merambat dari sekitarnya.


Tanaman itu menjerat kaki dan tangannya meski begitu tanamanku hancur hanya bersentuhan dengan kulitnya. Pilihan yang bisa aku ambil hanyalah menyerangnya secara langsung dan melihat bagaimana dia mengatasinya.


Aku kembali melesat maju dengan puluhan pedang yang terus berjatuhan dari langit, tepat di depan Venus kuayunkan pedang dari samping dan dia menangkisnya dengan sebuah pedang cahaya di tangannya.


Tangan lain menyerang namun tubuhku langsung berhenti seolah waktu telah berhenti berjalan.

__ADS_1


"Kuakui kau memang hebat tapi semuanya telah terlambat."


Dewi ini memiliki kemampuan seperti ini, harusnya dia telah menyelesaikannya semua dengan mudah.


Venus dengan santai menusukan lima pedang ke tubuhku secara satu persatu saat tubuhku kembali, pedang itu menghilang dan aku langsung terduduk di tanah.


"Lihat, kau sudah kalah.. sebaiknya kau kini menjadi budakku."


"Aku belum kalah."


"Kalau begitu aku akan membunuhmu."


Aku tersenyum kecil, kenapa aku repot-repot mencari seluruh kekuatan Rion adalah untuk datangnya hari ini.


Sihir dunia memiliki jenis sihir berbeda namun saat digabungkan itu akan jauh lebih kuat.


Kugunakan sihir cahaya untuk membuat mata Venus silau, dengan melepaskan tanganku dari pedang aku menjatuhkan Venus bersamaku.


Pedang cahaya lalu berjatuhan.


Dewi ini bisa memutar waktu jadi kami benar-benar harus menjauhkan tangannya satu sama lain.


"Apa yang kau lakukan?"


"Maaf, aku harus melakukan ini."


Aku mencium bibir Venus untuk mengambil ingatannya, dari ingatan Amnesty saat Titan berhasil dikalahkan dia harusnya kembali ke alam Dewi namun setelah ribuan tahun dia masih saja tetap di alam dunia ini.


Pasti ada sesuatu yang menjadi alasannya?


Setelah selesai aku memegangi kepalaku dengan rasa sakit yang menjalar di setiap sel dalam kepalaku.

__ADS_1


Aku berguling-guling di tanah sementara Venus mengusap air liur di bibirnya.


"Sebaiknya kau tidak melakukan hal barusan lagi."


"Mencium dewi tanpa izin memang akan berakhir seperti itu," ucap Rion menjelaskan dan Aira tertawa kecil.


"Kurasa itu bayaran setimpal untuk mendapatkan informasi."


Setelah beberapa saat aku bisa tenang selagi menatap langit biru berawan.


Aku melirik ke arah Venus yang memalingkan wajahnya dengan malu.


Dewi ini menyukai Lu Shang, Lu shang adalah suami dari Harfilia yang sebelumnya mendukung para Titan untuk bertarung melawan manusia, ia terus membujuknya untuk menyerah dan membiarkan para Titan dan manusia tinggal di benua ini, namun Lu Shang yang telah kehilangan banyak hal menolaknya hingga pada akhirnya Venus harus membunuhnya.


Sebagai bentuk penebusan darinya dia memutuskan untuk tetap tinggal dan menyembunyikan beberapa Titan yang selamat di sebuah dimensi yang dia bangun.


Dengan kata lain.


Mereka tidak sepenuhnya punah.


Aira dan Rion yang membaca pikiranku menahan tawanya sedangkan Venus duduk selagi memainkan jarinya di tanah.


Rion berkata dengan niat jahat.


"Kau menyukai pria yang berkeluarga fufu sungguh mengejutkan."


Wajah Venus memucat.


"Eh, ah.. bukan begitu."


Dewi ini seketika berubah menjadi sosok yang tidak sesuai bayanganku selama ini.

__ADS_1


__ADS_2