Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 89 : Menjadi Siswa Akademi


__ADS_3

Beberapa hari selanjutnya aku maupun Nibela mengikuti ujian Akademi Harfia


Terletak di ibukota kerajaan api, akademi ini telah menjadi sekolah ternama yang bisa dikatakan menjadi sekolah elit yang sangat populer, terlebih di sini menerapkan aturan jika semua siswa akan diperlakukan secara adil tanpa melihat status mereka.


Ada tiga ujian yang harus kami lewati seperti ujian tulis, bertarung serta sihir. Hal ini sangat lumrah dilakukan.


Setelah mendaftar kami langsung mengambil ujian tulis, aku dan Rion berbagi ingatan karena itu hal seperti ini tidak menyulitkan meski begitu aku memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan yang sulit.


Singkatnya aku hanya ingin mengambil nilai rata-rata.


Nibela sepertinya telah selesai dengan ujiannya dan aku juga harus mulai mengerjakan soalnya di sepuluh menit terakhir.


Di ujian kedua yang mencakup pertarungan aku memutuskan bertarung di awal sebelum kemudian kalah diakhir, ujian seperti ini bukan mencari pemenang melainkan mencari bibit yang bisa diasah dengan baik di kemudian hari.


Si penguji menulis sesuatu di kertasnya sebagai penilaian sebelum memanggil peserta selanjutnya yaitu Nibela.


"Kau tidak membawa pedang?"


"Aku pengguna tangan kosong."


"Meski begitu aku ingin kau memakai salah satu perlengkapan, itu sudah diwajibkan dari peraturan akademi."


Salah satu penguji memberikan pedang kepada Nibela sebelum bertarung.


Dia tidak terlalu bisa menggunakannya pada akhirnya Nibela hanya memakainya sebagai penahan sementara tinjunya mengalahkan penguji hingga pingsan.


Semua orang tampak mengaguminya, walau dia terlihat seperti gadis kecil semua orang jelas tidak meremehkannya.


Selanjutnya ujian terakhir sihir.

__ADS_1


Nibela mengulurkan tangannya dan dia mulai merapal mantra pendek.


"Fire Magic... Fire Bolt."


Bola api menghancurkan target dengan baik.


Inilah yang berubah dari Titan, mereka tidak bisa menggunakan sihir sebelumnya namun sekarang mereka jelas lebih kuat.


Ketika aku memikirkannya aku dipanggil.


Untuk ini mari gagalkan.


Aku mengarahkan tanganku untuk menciptakan bola api kecil yang hanya menyentuh target dan menghilang.


Beberapa orang tertawa terbahak-bahak.


"Apa-apaan itu, apa itu sihir?"


"Kita memiliki badut di ujian ini."


Terserah apa yang mau kalian katakan aku hanya mengambil nilai rata-rata di sini.


Ujian itu berakhir dengan hasil yang memuaskan terlebih aku dan Nibela juga berada di kelas yang damai, sepertinya kelas ditentukan dari waktu kedatangan mereka.


Aku sedikit lega.


"Mari kita rayakan di penginapan, aku akan membeli banyak makanan."


Nibela maupun Rion mengangkat tangannya selagi melompat-lompat.

__ADS_1


"Hore, hore."


Nibela tidak masalah tapi apa Rion juga harus seperti itu. Dadanya yang besar cukup jadi masalah di sini.


"Selamat makan."


Kami menikmati banyak olahan enak di penginapan.


Aku diam-diam memasukkan beberapa sayuran ke mangkuk Rion hingga dia mengembungkan pipinya.


Aku mengabaikannya lalu beralih ke arah Nibela.


"Bagaimana menurutmu akademi?"


"Tempat yang luar biasa, aku tidak menyangka banyak orang-orang yang kuat, bahkan beberapa dari mereka ingin berkenalan denganku."


"Jika ada yang memberikan coklat atau permen kau tidak boleh menerimanya."


"Eh, Kenapa? Mereka sangat enak dan manis."


"Biasanya mereka mengutarakan permintaan jadi tolak itu."


"Jika kau mengatakan itu, aku tidak masalah."


Dia akan belajar itu dan tahu apa yang sebenarnya coba aku katakan di masa depan nanti.


Aku mengambil sumpitku untuk menghentikan sumpit Rion yang terjulur ke arah dagingku.


"Aku telah mewaspadai pergerakanmu sejak lama," kataku dengan wajah keren, dan Rion menjawabku dengan wajah yang sama.

__ADS_1


"Aku pasti akan mencari celah."


Kami terus bertarung dengan sumpit hingga saat kusadari semua makanannya telah dingin.


__ADS_2