
Sudut pandang Wisteria
Sejak kecil aku telah kehilangan kedua orang tuaku, mereka adalah sosok yang berjasa melindungi Kekaisaran ini... karena itulah, di depan makam mereka aku pernah berjanji.
Aku juga akan tumbuh sebagai pejuang dan melindungi Kekaisaran ini.
Setelah berpisah dengan Aoi aku membawa pasukan menyusuri jalan yang berbeda, aku bisa melihat tengkorak raksasa tengah menerobos tanpa hambatan, tengkorak itu mengeluarkan asap ke udara yang melahap semua orang dengan kematian.
Bagaimana bisa aku mengalahkan makhluk sebesar itu, ketika aku memikirkannya tiba-tiba raksasa lain muncul.
Raksasa itu mengenakan baju besi perak yang mana menyembunyikan seluruh keberadaannya dalam armor tersebut, dengan satu pukulan dia menerbangkannya ke luar tembok.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
Tidak, tidak ada waktu untuk memikirkannya yang harus kulakukan adalah cepat mengevaluasi penduduk.
"Kalian semua cepat."
Aku menengok ke arah belakangku dan melihat bahwa seluruh pasukanku telah dihabisi, kepala mereka meledak dan usus serta organ mereka berhamburan ke segala arah.
"Terima kasih atas jamuannya," suara itu berasal dari pria dengan tato di wajahnya, ia mengenakan kimono lengan panjang yang menyembunyikan tangannya.
Aku segera menarik pedangku untuk menangkis pisau yang melesat ke arah jantungku.
__ADS_1
"Haori dengan motif kupu-kupu dan juga rambut merah muda itu, kau pasti Wisteria."
"Siapa kau? Kenapa kau tahu namaku?"
"Kami diberitahu tentang seluruh pasukan elit di kekaisaran ini agar kami dengan mudah membunuhnya."
"Kau pasti salah satu pilar dari Henos?"
"Tepat sekali namaku Zetsu."
"Begitu, aku harus membunuhmu kalau begitu..."
"Jangan terburu-buru.. kau tidak akan mungkin mengalahkanku."
Dari dalam tangannya dia melemparkan beberapa pisau yang mana kutangkis ke samping.
"Reflek yang bagus, kau benar-benar ahli pedang."
"Kuhabisi kau."
Aku menebas tubuhnya hingga terpotong dua bagian. Tubuh itu berubah menjadi tanah begitu saja.
"Sihir tanah, bayangan peniru."
__ADS_1
"Kau pengecut sekali Zetsu, menyerang anak buahku secara sembunyi-sembunyi dan sekarang kau juga melakukan hal sama."
"Maaf saja, kekuatanku tidak cocok dalam pertarungan langsung.. ketika para boneka tanahku membuat celah aku pastikan lehermu akan terkoyak dengan pisauku."
Sekitar 20 Zetsu telah mengelilingiku. Mereka bergerak secara serempak untuk menyerang sementara aku menebas mereka tanpa henti.
Di mana yang aslinya?
Jika mereka hanya digunakan sebagai pengalih aku yakin di antara mereka pasti bersembunyi yang asli. Sebuah pisau menembus bahuku dari belakang tanpa bisa aku prediksi termasuk suara yang entah datang dari mana.
"Apa kau sudah menyadarinya pisau itu sangatlah beracun, hanya dengan sedikit goresan itu bisa membunuhmu dalam beberapa menit saja."
Orang ini bertarung dengan hina.
Aku melompat untuk menghindari pisau lainnya, jika boneka ini masih ada, akan sulit untuk mencari keberadaannya.
Aku memenggal kepala mereka hingga berubah jadi tanah, setelah aku melakukannya efek racun dari Zetsu menyerang organ vitalku hingga aku roboh begitu saja.
"Haha racunku pasti sudah berpengaruh, kasihan juga membiarkan wanita cantik mati dengan menyakitkan... akan kubantu."
Zetsu muncul di dekatku yang mana dia hendak melemparkan pisau di tangannya, sebelum dia melakukannya kumpulan kupu-kupu berterbangan di sekelilingku membuatnya kebingungan.
"Ini gerbang iblis."
__ADS_1
Tepat saat dia kehilangan titik fokusnya aku memenggal kepalanya hingga kepala itu terbang dan jatuh di sisi lain.