
Walau pasukan kekaisaran berhasil dipukul mundur namun sesungguhnya peperangan ini masihlah belum selesai, demi memulihkan fisik dan mental semua orang di kerajaan akan beristirahat selama seminggu sebelum kembali ke medan perang termasuk aku sendiri.
Di taman bunga di pinggir danau yang memantulkan kemilau warna birunya, aku bersama Rosvalia menghabiskan waktu di sini.
Dia adalah istri keduaku setelah Rion dan sebelum Aira.
Nama lengkapnya Rosvalia Annetta Aurin Apolista von Bariella. Ia sedang merangkai bunga bersama berang-berang yang berada di kerajaannya.
Jika mengalihkan jauh pandangan kau bisa melihat kota besar yang dibangun bersama istana di tengahnya. Semua orang yang kuminta membuat kerajaan telah membuat peningkatan sejauh itu.
"Lihat ini Lion, aku membuat mahkota bunga."
"Itu sangat indah, kukira kau tidak akan berbicara denganku lagi?'
Dia mengembungkan pipinya setelah meletakannya di kepala.
"Aku cuma bercanda waktu itu, salahmu sendiri tidak pernah menemaniku lagi."
Aku terlalu sibuk dengan urusan peperangan karena itulah waktu untuk Rosvalia sedikit berkurang, aku sudah memperingatkan bahwa aku tidak bisa langsung menikah dengan mereka sekaligus karena inilah salah satu alasannya.
Meski begitu kurasa meminta maaf sesuatu yang harus kukatakan.
Para berang-berang membungkuk sebelum pergi untuk kembali ke sarangnya, jika kau ingin melihat berang-berang berpakaian kurasa di sini tempatnya mereka juga banyak bisa bicara.
"Maaf tidak akan cukup, kau harus menemaniku selama seharian ini bahkan di atas ranjang juga."
"Aku mengerti."
Entah kenapa perasaanku sangat buruk tentang perkataan terakhir itu. Mari kesampingkan dulu.
Aku mengeluarkan pecahan genteng yang sengaja aku kumpulkan dari pembangunan kota Dark Elf yang sedang dibangun.
"Lion membawa barang tak berguna."
Kata-katanya masih saja pedas.
__ADS_1
"Ini bukan barang tidak berguna, selalu ada manfaat yang bisa kita ambil dari ini misalnya untuk bermain lempar seperti ini."
Aku mengambil satu lalu melemparkannya ke permukaan danau hingga itu memantul beberapa kali sebelum tenggelam.
Melihat itu Rosvalia menutup mulutnya dengan kipas yang selalu dibawa olehnya.
"Fufu kau ternyata bisa kekanak-kanakan juga."
Aku menarik pipinya.
Entah istri yang mana mereka semuanya suka seenaknya.
"Sakit, aku cuma bercanda aku juga sering bermain hal ini ketika kecil."
Keluarga bangsawan ternyata melakukannya juga.
"Kenapa dengan ekpresimu itu, jangan sampai menatapku dengan pandangan kasihan begitu."
Rosvalia melipat kipasnya mengambil satu kemudian melemparkannya menciptakan riak-riak di permukaan danau, jelas itu tidak memantul.
Dia terus melakukannya beberapa kali.
"Aaaaah... ini membuatku kesal, sekali lagi."
"Jika kau di sini bagaimana soal kerajaan... kurasa semua orang masih membutuhkanmu?"
"Jangan khawatir ada kakakku yang menangani, aku bilang aku hanya bisa berkerja besok siang."
"Begitu."
Di percobaan terakhir Rosvalia berhasil membuat lemparannya memantul.
"Lihat itu Lion, aku melakukannya... kau lihat."
"Yah, kenapa kau begitu bangga walau cuma berhasil sekali."
__ADS_1
"Fufu yang penting adalah hasil, prosesnya tidak aku pedulikan."
"Kalau begitu mau bertanding siapa yang bisa membuat banyak pantulan."
"Siapa takut, jangan menangis jika kalah."
"Itu adalah kata-kataku."
Setelah beberapa waktu akulah yang menangis.
"Haha aku memang terakhir sebagai ratu luar biasa."
Orang ini bisa saja berkata seperti itu, aku melirik ke arahnya saat dia tersenyum lebar.
Yah, kurasa aku tidak membenci sifatnya yang seperti ini.
Pagi berikutnya Rosvalia menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang selagi mengintipku yang telah memakai kembali pakaian.
"Sudah mau pergi, apa kita tidak sarapan dulu."
Sebenarnya ini hampir siang untuk disebut sarapan.
"Aku sebenarnya ingin tinggal namun masih ada yang harus kulakukan, jalan antara ibukota dan kota Dark Elf belum berhasil dibuat aku harus membangunnya sendiri agar lebih cepat."
"Begitu."
Pandangan Rosvalia sedikit kecewa tapi aku berusaha menepuk rambutnya untuk menghiburnya.
"Setelah selesai kita bisa menghabiskan waktu lebih lama nanti, aku berjanji."
"Um."
Dia mengangguk mengiyakan lalu melambaikan tangan ke arahku dengan malu-malu.
Entah kenapa aku benar-benar merasa bersalah dengannya. Aira dan Rion selalu di dekatku karena itulah mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku.
__ADS_1