Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 338 : Bekerja Kembali


__ADS_3

Di perkarangan istana adalah tempat paling nyaman untuk bersantai, di sana aku, Hime dan juga Ringbel tengah mengadakan pesta teh bersama.


Sungguh mengecewakan bahwa aku selalu kehilangan kesempatan bersenang-senang di sebuah perayaan kendati demikian meluangkan waktu seperti ini juga tidak masalah.


"Mau tambah lagi gulanya dewi."


"Tolong dua lagi, terima kasih banyak."


Sungguh aneh melihat dewi dan iblis bisa akur seperti ini. Tapi biarlah yang penting semuanya sangat damai.


Yukisa dan Wisteria muncul setelahnya.


"Syukurlah kau baik-baik saja," kata Wisteria yang mendapatkan anggukan Yukisa.


"Maaf sudah membuat kalian khawatir... tunggu, apa yang terjadi dengan matamu?" tanyaku pada Yukisa.


Kedua matanya memiliki warna berbeda sekarang.


"Jangan khawatir, aku masih bisa melihat... semuanya berkat dewi Ringbel."


Aku melirik ke arah Ringbel yang menuturkan penjelasannya.


"Seluruh tubuhku diberkati sihir suci karena itu sihir tersebut sangat mempengaruhi terutama pada iblis, meski aku berhasil menyembuhkan sebelah matanya kini matanya jadi dipenuhi sihir suci tersebut... kecuali warnanya tidak akan ada efek buruk yang akan terjadi di kemudian hari."


"Jadi begitu, oh benar Ringbel jika mau kau bisa kembali ke alam dewi."


"Bolehkah aku kembali bersamamu dulu ke duniamu sekarang sebelum ke sana."

__ADS_1


"Aku tidak keberatan."


Wisteria berkata ke arahku.


"Ngomong-ngomong Lion, sekarang kau sudah pulih jadi..."


"Berhenti di sana, aku merasakan firasat buruk jika kau menyelesaikan kalimatmu."


Wisteria mengembungkan pipinya.


"Sudah waktunya untuk bekerja, aku tidak mungkin bisa menyeleksi kandidat sendirian."


Sudah kuduga.


Saat aku sadari Wisteria telah menarikku pergi bersamanya.


Aku ingin segera mengunjungi pulau paradise untuk bersantai sayangnya sebelum hal ini selesai aku tidak bisa kemana-mana.


Bisa aku lihat segerombolan orang sedang berkumpul di sebuah tempat luas yang biasa digunakan sebagai pusat latihan para pasukan kerajaan. Secara bergantian mereka diuji menurut nomor urut yang telah mereka dapatkan.


Wisteria menyikut perutku memintaku untuk mengantikan tim penguji.


Aku menghela nafas lalu melakukan seperti apa yang dia katakan, aku hanya akan melawan beberapa orang dengan nilai tinggi sebagai penguji bagi tim elit.


Salah satu orang pertama yang akan melawanku adalah seorang pria dengan sarung tinju besi. Alih-alih menggunakan pedang dia memilih senjata seperti itu.


"Aku tidak tahu siapa kau, tapi akan kuhancurkan topengmu itu dan mengambil alih pasukan elit ini sebagai pemimpin."

__ADS_1


"Kau memiliki semangat bagus tapi jika kau bisa mengalahkanku tentunya," kataku selagi menopang pedang di bahu.


Lawanku ini terlalu ambisius, dia pasti tipe orang yang melakukan segala cara untuk menggapai keinginannya, hal itu cukup buruk sebagai pemimpin.


"Terima ini."


Dia melompat ke depanku seperti seekor badak, tanpa perlu menghindarinya aku menendang wajahnya hingga dia terdorong ke samping dan meledak setelah menabrak dinding.


Para tim medis segera mengecek keadaan dan menyatakan bahwa dia sudah pingsan. Meski kalah dia tidak akan dikeluarkan dari pasukan.


Kuharap dengan ini dia akan sedikit belajar, terlalu percaya diri dengan kekuatanmu tanpa mempertimbangkan kekuatan musuh adalah suatu kesalahan fatal.


Aku berkata dengan dingin.


"Siapa berikutnya."


Tiba-tiba saja semuanya bergerak mundur, awalnya mereka sangat percaya diri karena pengujinya hanya pasukan biasa tapi kini karena keberadaanku mereka mengubah pandangan mereka dengan cepat.


"Jika dipikirkan lagi aku sudah puas menjadi pasukan biasa."


"Yah.. aku juga."


Mereka semua sebenarnya berminat atau tidak.


"Kalau begitu kami berikutnya."


Dua orang melangkah maju.

__ADS_1


__ADS_2